Kematian Janin Setelah Usia 20 Minggu

Kematian Janin Setelah Usia 20 Minggu

  Jumat, 10 May 2019 09:14

Berita Terkait

Intrauterine Fetal Death (IUFD)

Kasus Intrauterine Fetal Death atau IUFD banyak terjadi pada ibu hamil. IUFD adalah kondisi janin yang meninggal di dalam kandungan setelah kehamilan berusia 20 Minggu. Bagaimana mewaspadai dan mencegahnya? 

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Dalam istilah medis meninggalnya buah hati dalam kandungan disebut dengan Intrauterine Fetal Death (IUFD) atau kematian janin. IUFD juga dapat diartikan sebagai kondisi terhentinya kehamilan kehidupan bayi, jika usianya sudah lebih dari 20 minggu. 

Dokter Spesialis Obstetri & Ginekologi, Rina Nulianti mengatakan banyak faktor (multifaktor) yang dapat menyebabkan terjadinya IUFD. Bisa dari faktor sendiri maupun kombinasi beberapa faktor sehingga memperburuk kondisi janin yang mengakibatkannya meninggal. 

Pertama, bisa karena faktor plasenta. Jadi, ada kondisi dimana plasenta ibu hamil kurang baik. Sedangkan, diketahui bahwa plasenta ini adalah pemberi makan buah hati berupa nutrisi dan oksigenasi. Jika kondisi plasentanya memburuk, seperti terjadi kalsifikasi, maka aliran nutrisi dan oksigen bayi jadi berkurang.

“Selama masa kehamilan bayi akan kecil atau istilah masyarakat dapat juga disebut 'kerdil'. Jika bayi ini tak segera ditolong, maka dia akan meninggal di dalam rahim,” ujarnya. 

Kedua, karena adanya pendarahan. Banyak sekali bayi-bayi yang meninggal di dalam rahim karena pendarahan. Bisa karena plasenta di bawah menutupi jalan lahir. Bisa juga secara total, setengah, atau mendekati jalan lahir ada kontraksi pendarahan lepas plasenta. 

“Sehingga, bayinya meninggal, dan ibunya bisa mengalami pendarahan hebat,” tutur Rina.

Pendarahan juga bisa mengarah pada sulosio plasenta atau dikenal dengan ari-ari terlepas. Contohnya, terjadi setelah ibu urut. Bisa saja dalam saat proses urut untuk membetulkan letak bayi, malah salah mengurut atau perut ditekan terlalu kuat dan menyebabkan plasenta terlepas.

“Plasenta yang lepas bisa sebagian atau semuanya. Ketika plasenta lepas, otomatis tak ada yang memberi makan bayi. Proses oksigenasi terhenti dan bayi akan meninggal,” jelasnya.

Ketiga, adanya infeksi. Contohnya, ibu mengalami infeksi toksoplasmosis atau rubeosis. Selain mengalami kecacatan, infeksi ini juga bisa mengakibatkan kematian pada bayi. Sebab, infeksi tokso ini bisa menimbulkan kecacatan pada bayi, serta kelainan pada kromosom.

Dokter di RSIA Anugerah Bunda Khatulistiwa ini menuturkan kelainan kromosom biasa terjadi pada ke organ vital seperti kepala atau hifrosefalus. Dimana ada penumpukan cairan di rongga otak. Selain itu, ada juga kelainan pada jantung, paru paru, dan perut. Dimana di dalam ketiganya terisi cairan. 

Keempat, kelainan kromosom. Banyak juga penyebab kelainan kromosom. Contohnya ada sindrom-sindrom yang fatal. Sindrom terner, bisa menimbulkan kelainan kepada bayi. Biasanya, bayi tak akan bertahan hidup. Faktor kelainan kromosom pernah ditangani dokter Rina.

"Bayinya cacat dari dalam. Saya sempat menyampaikan pada orang tuanya bahwa tak bisa bertahan. Ketika ibunya kembali kontrol, bayinya meninggal di usia kehamilan 28 Minggu," tambah Rina. 

Kelima, kondisi ibu. Salah satu contohnya ibu mengalami tekanan darah tinggi (hipertensi). Dikhawatirkan selama proses kehamilan, pasien dengan status hipertensi ini mengalami preeklamsia berat. Bahkan, bisa sampai pada tahap eklamsia yang serius. Hal inilah yang dikhawatirkan.

Bisa juga karena kondisi lain seperti penyakit kencing manis dengan kadar gula ibu cukup tinggi. Jika ibu masih bisa kompensasi, bayi masih bisa bertahan. Apabila ibu sudah tak bisa lagi kompensasi karena gula darah ibu terlalu tinggi, plasenta akan mengkerut. Bayi pun mudah meninggal di dalam rahim. 

Dokter di RSIA Jeumpa Pontianak ini mengungkapkan dalam kondisi IUFD, bayi sudah berbentuk lengkap sehingga harus segera dilahirkan. Proses melahirkannya ada dua, yakni proses pervaginan biasa atau cesar.  Proses pervaginan dapat dilakukan jika kehamilan ibu tak mengalami masalah. Ari-ari tak menutupi jalan lahir, posisi bayi tak melintang, kondisi ibu memungkinkan, serta tak mengalami kondisi kejang. Dalam proses ini dokter akan memberi obat induksi untuk merangsang dan membuka mulut jalan lahirnya.

“Dipastikan ibunya tak terkena infeksi, atau penyakit gangguan lain. Dokter akan memberikan antibiotik agar ibu tak terkena infeksi,” ungkap Rina.

Apabila melalui proses pervaginan tak memungkinkan, bayi akan dilahirkan melalui proses caesar. Contohnya, usia kandungan pasien sudah memasuki sembilan bulan, ari-ari menutupi jalan lahir, serta posisi bayi melintang. Proses caesar bertujuan untuk menghindari pendarahan hebat.

Rina mengingatkan saat melahirkan bayi, pastikan bahwa ari-ari lahir dengan sempurna. Jika usia bayi cukup bulan, biasanya ari-ari akan mudah lepas. Tapi, jika usia bayi kurang bulan, biasanya ari-ari masih menempel di dalam kandungan. Biasanya, sisa ari-ari ini dibersihkan menggunakan sendok kuret. 

Rina menambahkan pasien IUFD bisa hamil kembali. Namun, untuk pasien caesar minimal harus memberi jarak. Ketika ingin hamil kembali, usahakan untuk mencari dahulu penyebab IUFD. Jika ada masalah kesehatan akan lebih baik diobati terlebih dulu. **

Berita Terkait