Keluh Kesah Ujian Nasional di Media Sosial

Keluh Kesah Ujian Nasional di Media Sosial

  Rabu, 17 April 2019 08:20

Berita Terkait

Pelaksanaan ujian nasional tingkat SMA telah berakhir. Namun, cerita pasca ujian masih terdengar. Banyak keluhan yang disampaikan pelajar di laman Instagram milik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI (Kemendikbud RI). Bagaimana menyikapinya?

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Beberapa waktu lalu akun resmi Instagram milik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI (@kemdikbud.ri) dibanjiri protes siswa-siswi dari seluruh Indonesia. Hal ini dipicu sulitnya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan. Khususnya pada mata pelajaran matematika.

Meski kebanyakan komentar didominasi keluhan dan amarah, namun ada juga yang menyertakan kalimat yang menggelitik. 

Psikolog Endah Fitriani, M.Psi mengatakan banyak faktor yang menyebabkan siswa menuliskan komentar keluhan amarah. Salah satunya beban mental. Beban mental bisa dari rasa takut tak bisa mengerjakan soal, serta keinginan orang tua agar anak bisa memberikan nilai terbaik.

“Orang tua berharap anaknya bisa memberikan nilai yang baik dan sesuai keinginannya,” ujarnya. 

Sebenarnya saat ujian berlangsung bisa saja anak menjawab soal dengan baik. Ia bahkan hafal rumus-rumus yang akan digunakan. Namun, beban mental dan tekanan yang terus menghantui membuyarkan seluruh pikirannya. Anak pun jadi kesulitan menjawab.

Setelah selesai ujian anak pun jadi menyalahkan soal yang sulit karena tak bisa mengerjakan dengan baik atau merasa waktu untuk mengerjakan soal terasa sedikit. Terlebih adanya soal essai. 

“Ibaratnya, pilihan ganda saja sudah sulit. Apalagi ditambah dengan essai,” tutur Endah.

Meski tak bisa dipungkiri soal sulit ini juga bisa disebabkan karena sistem mengajar guru berbeda atau menyamaratakan seluruh soal tanpa melihat apakah mata pelajaran ini sudah atau belum diajarkan di daerah tersebut.  

“Hingga akhirnya, aksi kicauan di laman Instagram dipilih sebagai bentuk luapan emosi,” jelasnya.

Setiap orang memiliki hak untuk meluapkan emosi. Hanya saja penulis komentar harus memperhatikan situasi, tempat, dan kalimat yang digunakan. Apakah baik atau tidak. Dikhawatirkankan kalimat komentar yang dituliskan membuat penulis dan pembaca lain saling adu komentar. Ujung-ujungnya saling berbalas dan menyudutkan. Tak jarang terlontar kata-kata vulgar dan frontal. Ini yang berbahaya. Terlebih saat ini sudah ada undang-undang ITE. Salah berkomentar saja akan berbahaya bagi diri. 

Dibandingkan menuliskan komentar di media sosial, sebaiknya pelajar melakukan evaluasi diri. Jika baru menyelesaikan ujian akhir sekolah, pelajar bisa mempersiapkan diri dan belajar lebih giat untuk menghadapi masih ujian nasional.

Sistem belajar bisa dengan cara membahas soal yang diajarkan di sekolah dan tempat les, maupun berlatih soal yang didapatkan di internet. Endah yakin soal yang dikeluarkan tak akan jauh dari yang pernah dibahas oleh guru di sekolah.

“Pelajar harus bisa menyusun strategi belajar dengan baik. Tentunya, dengan tujuan mendapatkan hasil terbaik,” tambah Endah. 

Bagi pelajar SMA yang telah menyelesaikan ujian nasional, ada baiknya menunggu dan berdoa. Harus bisa berbesar hati menerima hasil. 

“Tak ada salahnya juga berbagi dengan orang tua. Ceritakan saja kegelisahan dan ketakutan yang dialami. Saya yakin orang tua pasti akan membesarkan hati anaknya dan menerima hasil dengan lapang dada,” ungkapnya. **

Berita Terkait