Kelompok Separatis Sandera dan Perkosa Guru di Papua

Kelompok Separatis Sandera dan Perkosa Guru di Papua

  Jumat, 20 April 2018 11:00
TIMIKA EVAKUASI : Para guru yang disandera kelompok bersenjata berhasil dievakuasi menggunakan dua helikopter Penerbad dari Kampung Aroanop, Distrik Tembagapura ke Timika, Kamis (19/4) kemarin. KRISTOFORUS DUTEREM/RADAR

Berita Terkait

Mayoritas Guru yang Jadi Korban Pendatang

JAKARTA – Belasan guru itu berkorban begitu besar. Demi mencerdaskan anak-anak Papua, mereka rela tinggal di pedalaman Kabupaten Mimika yang begitu terpencil. Sayang, pengorbanan tersebut berbalas penyanderaan, bahkan pemerkosaan.

Pelakunya adalah Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) di sana. Guru-guru yang mayoritas pendatang itu disekap di Kampung Aroanop, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika. Penyelamatan membutuhkan waktu lama karena medan yang sulit.

Komandan Satuan Tugas Terpadu Penanggulangan KKSB Kolonel Infanteri Frits W.R. Pelamonia menyatakan, 18 guru menjadi korban penyanderaan. Sebanyak 13 di antaranya kemarin (19/4) berhasil dievakuasi. Sisanya akan dievakuasi hari ini karena kemarin helikopter yang mengangkut tidak mencukupi.  

Para guru itu terdiri atas guru PNS, guru kontrak, dan guru yang merupakan mahasiswi Kolese Pendidikan Guru (KPG) PGSD Universitas Cenderawasih. Mahasiswi itu sedang menjalani program pengalaman lapangan (PPL).

”Saat ini kondisi kampung di atas (Aroanop) aman, terkendali,” kata Frits kepada Radar Timika (Jaringan Pontianak Post) kemarin. 

Pasukan pengamanan dari TNI-Polri yang dikerahkan, lanjut Frits, berhasil mengambil alih kampung yang sebelumnya dikuasai KKSB. Setelah memukul mundur separatis, TNI mengejar mereka ke dusun-dusun berbukit yang ada di sekitar Aroanop seperti Dusun Omponi, Ombani 1, Ombani 2, Ainggigi 1, Ainggigi 2, dan Ainggogin.

Frits menjelaskan, penyanderaan dilakukan Kamis pekan lalu (12/4). TNI baru menerima laporan sehari berikutnya. Sabtu TNI-Polri langsung menyusun rencana operasi pembebasan. 

TNI dikerahkan terlebih dahulu untuk membuka jalan. Karena medan yang berat, dari Tembagapura, dibutuhkan waktu dua hari untuk sampai di Aroanop. 

Frits mengungkapkan, timnya bergerak sejak Selasa dini hari (17/4). Sebenarnya jalur udara bisa lebih cepat sampai ke Aroanop. Namun, jalur darat dipilih untuk menyisir keberadaan KKSB. Bersama 49 anak buahnya, Frits masuk Aroanop sekitar pukul 05.30 WIT kemarin. 

”Pasukan saya bisa masuk ke Aroanop, memukul mundur KKSB, dan mengevakuasi guru dan masyarakat,” ungkapnya. 

Setelah masuk Aroanop, Frits bersama pasukannya melakukan penyisiran untuk memastikan tidak ada lagi KKSB. Dengan begitu, helikopter bisa mendarat dan terbang dari sana tanpa gangguan. 

Langkah itu dilakukan paralel sambil memberikan arahan kepada masyarakat dan para guru di kampung tersebut. Arahan disampaikan langsung oleh Frits. Tujuannya, masyarakat tenang. Dia pun menjelaskan, dirinya sudah memerintah beberapa anak buahnya untuk mengejar KKSB yang beraksi di Aroanop. 

Berdasar laporan yang diterima pasukan pengamanan, anggota KKSB yang beraksi di Aroanop sekitar 20 orang. Mereka melarikan diri ke arah Jagamin. Kuat dugaan, kampung tersebut sudah disiapkan untuk jalan keluar mereka dari Aroanop. ”Kami sudah mengejar serta mengamankan wilayah yang sempat menjadi tempat persembunyian KKSB,” jelas Frits.

Warga setempat sebenarnya ingin membantu guru-guru malang tersebut. Namun, mereka juga mendapat kekerasan dan ancaman ditembak.  

”Ada guru dan masyarakat yang luka memar di wajah karena penyiksaan, kekerasan oleh KKSB,” ungkap pria yang juga menjabat komandan Brigif Raider 20/Ima Jaya Keramo itu.

Sebanyak 18 guru yang menjadi korban penyanderaan mengalami trauma yang tinggi. Karena itu, mereka minta dievakusi. Meski, dalam waktu dekat anak-anak sekolah di kampung tersebut harus melaksanakan ujian nasional (unas).

Rasa khawatir terhadap aksi susulan KKSB membuat mereka enggan mengambil risiko. Apalagi, setelah melihat seorang rekan mereka nyaris meninggal dunia gara-gara diperkosa secara bergiliran oleh KKSB. 

Sejauh ini, Frits menyampaikan, KKSB yang beraksi di Aroanop merupakan bagian dari kelompok yang dipimpin Jhoni Botak dan Nawaker. Kelompok tersebut merupakan gabungan separatis Papua yang biasa bergerak dari Ilaga di Kabupaten Puncak. Selain itu, mereka biasa bekerja sama dengan kelompok lain dari Kabupaten Puncak Jaya. 

Secara terperinci, Frits mengungkapkan bahwa 13 guru yang dievakuasi terdiri atas 7 perempuan dan 6 pria. Lalu, ada 5 guru pria lainnya yang masih menunggu dievakuasi. ”Lima sisanya masih berada di Aroanop untuk menunggu proses evakuasi selanjutnya,” terang dia.

Evakuasi untuk lima guru tersisa masih menunggu kepastian dari Kodam XVII/Cenderawasih. Itu terkait dengan cuaca dan kesiapan helikopter. 

Berdasar keterangan resmi dari Kodam XVII/Cenderawasih, seorang guru bernama Rano Samsul menceritakan betapa mengerikannya peristiwa itu. ”Mereka masuk ke kampung dengan cepat,” kenangnya. 

Rano mengakui, dirinya dan rekan-rekannya tidak tahu maksud dan tujuan KKSB. Mereka tidak mau berkomunikasi. Tidak memberikan kesempatan untuk bertanya. ”Kami semua, para guru, ditodong dengan menggunakan senjata api di kepala,” kata dia. 

Para guru pria dan perempuan disekap di tempat terpisah. Saat itulah, guru perempuan mengalami penganiayaan dan pelecehan seksual. 

Selain itu, separatis merampas 4 laptop dan 10 telepon genggam. Pakaian dan sejumlah persediaan bahan makanan tidak lepas dari rampasan. 

”Kami tidak bisa berbuat apa-apa,” ucap Rano. 

Guru lainnya, Eustakhius Lefteu, menuturkan bahwa dirinya dan rekan-rekannya mengajar seperti biasa sebelum KKSB masuk Aroanop. Mereka juga hidup rukun dengan masyarakat setempat.

Meski hanya berstatus guru kontrak, mereka kerasan tinggal di sana. Mengajar ratusan anak di Aroanop. Data yang mereka miliki, sampai saat ini tidak kurang 102 siswa aktif turut dalam kegiatan belajar mengajar. 

Kondisi itu membuat para guru tersebut sebenarnya berat untuk meninggalkan Aroanop. Mereka terpaksa pergi karena keselamatannya terancam. 

Kepala SD Negeri Aroanop Philipus Lefteuw mengaku terpukul dengan peristiwa tersebut. Kabar bahwa akan ada serangan separatis sebenarnya sudah didengar. Karena itu, sebelum kejadian, pihaknya sempat berkomunikasi dengan para guru melalui telepon seluler untuk mengevakuasi guru ke Timika. Namun, evakuasi belum dilakukan, KKSB lebih dulu datang dan melakukan kekerasan.

”Jumat pagi tidak ada informasi, tapi pada malam harinya kepala kampung telepon dan katakan bahwa Aroanop hancur. Saya tanya hancur apanya, dia bilang ini orang-orang dari luar mereka serang guru-guru di Dusun Omponi dan keterangannya ada guru yang korban,” tuturnya. (lyn/syn/c10/ang)

Berita Terkait