Kelompok Misterius Datangi Rumah Robertus

Kelompok Misterius Datangi Rumah Robertus

  Jumat, 8 March 2019 08:53
DIPERIKSA: Robertus Robet ( tengah), Dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) usai diperiksa polisi, Kamis (7/3). Robertus diperiksa sebagai tersangka atas dugaan penghinaan terhadap institusi TNI. Salman Toyibi/JawaPos

Berita Terkait

ROBERTUS Robet memang sudah dibebaskan Bareskrim Mabes Polri. Namun, rekan-rekannya memutuskan tetap ”mengamankan” aktivis dan dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) itu. Sebab, Robertus mendapat banyak ancaman dan teror dari orang-orang tak dikenal. 

Ubaidillah Badrun, dosen UNJ sekaligus sahabat yang mewakili Robertus, mengatakan bahwa ancaman paling berbahaya muncul Rabu malam (6/3). ”Ada orang-orang tak dikenal datang ke rumah beliau (di Depok),” katanya. Tidak jelas apa maksud kedatangan sekelompok orang tersebut. 

Ancaman dan intimidasi juga datang dari media sosial (medsos). ”Dalam bentuk video juga ada,” katanya. Menurut dia, Robertus merespons ancaman itu dengan baik. Dia sudah minta maaf dengan tulus kepada TNI agar tidak ada kesalahpahaman.

Ubaidillah menjelaskan, ancaman-ancaman tersebut sudah muncul sebelum Robertus ditangkap polisi. Karena khawatir pada keselamatan diri dan keluarga, Robertus akhirnya mengungsikan keluarganya. ”Keluarga sejauh ini aman. Anak bersama istri (Robertus) sudah berada di lokasi yang aman,” paparnya. Dia berharap semua pihak mengikuti prosedur hukum yang berlaku. 

Karena banyaknya ancaman itu, rekan-rekan Robertus akhirnya berinisiatif melindungi. ”Tentu, sebagai individu, warga negara harus sama-sama saling melindungi agar tidak terjadi tindak kekerasan. Apalagi, Robertus kan sudah meminta maaf,” terangnya. Langkah tersebut dilakukan sampai proses hukum yang dijalani Robertus jelas. Selain itu, Robertus bisa kembali mengajar di UNJ seperti sedia kala. 

Dia menjelaskan, para akademisi UNJ dan masyarakat yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Sipil akan melakukan advokasi hukum. Mereka juga menggandeng Lembaga Bantuan Hukum (LBH). ”Kami juga meminta perlindungan kepada aparatur keamanan, kepada kepolisian untuk melindungi Robertus sebagai subjek hukum,” ucapnya. 

Saat diperiksa di Bareskrim, kata Ubaidillah, Robertus sudah meminta maaf atas kesalahpahaman itu. Dia menyampaikan bahwa tidak ada niat sedikit pun menghina tentara. Menurut Robertus, pernyataannya adalah bentuk cinta kepada tentara. ”Agar tentara bisa makin profesional dan menempatkan diri secara tepat sesuai Undang-Undang No 34 Tahun 2004,” paparnya.

Ubaidillah menjelaskan, rekan-rekan Robertus di UNJ maupun masyarakat berharap Robertus dibebaskan dari jeratan hukum. Dia juga menganggap pasal yang digunakan polisi untuk menjerat Robertus tidak tepat. ”Kalau menggunakan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), justru tidak ada pelanggarannya,” katanya. Jika melihat secara utuh, UU ITE tidak bisa diberlakukan untuk menjerat Robertus. Dia juga menegaskan bahwa gerakan para dosen UNJ merupakan pemikiran demokrasi. Tujuannya, mengingatkan agar tidak ada lagi praktik-praktik militer terlibat di area sipil yang tidak sesuai dengan perundang-undangan. 

Seperti diketahui, Bareskrim Polri menangkap seorang aktivis sekaligus dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) bernama Robertus Robet pada Rabu (6/3). Pasalnya, dia diduga telah melakukan tindak pidana penghinaan terhadap penguasa atau badan umum yang ada di Indonesia. 

Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, Robertus diduga menghina institusi TNI dengan merubah mars ABRI saat aksi Kamisan, di depan Istana Negara beberapa waktu lalu. 

"Pelaku berorasi di Monas, tepatnya depan istana dengan melakukan penghinaan terhadap institusi TNI," kata Dedi dalam keterangannya, Kamis (7/3). (tyo/c10/oni)

 

Berita Terkait