Kelainan Penglihatan Warna Parsial

Kelainan Penglihatan Warna Parsial

  Jumat, 21 December 2018 10:01

Berita Terkait

Buta warna berarti cuma bisa lihat hitam putih ya? Buat pengidap buta warna parsial, pertanyaan itu mungkin sering didengar. Gangguan penglihatan warna memang belum sepenuhnya dipahami. Akibatnya, muncul salah kaprah.

Kemampuan mata tidak hanya tentang ketajaman penglihatan. Penglihatan warna (color vision) juga masuk salah satu aspek itu. “Penanggung jawabnya” sel kerucut yang merupakan reseptor warna. Sel itu terbagi atas tiga jenis. 

Masing-masing menyerap panjang gelombang warna yang berbeda. Warna pun diterima oleh otak.

Nah, jika satu atau dua jenis sel kerucut tidak berfungsi dengan baik atau bahkan tidak berfungsi sama sekali, penglihatan warna akan terganggu. Warna yang diterima otak berbeda dengan apa yang ilihat. Kondisi itulah yang disebut buta warna parsial. Menurut dr Prillia Tri Suryani SpM(K), pengidapnya tetap bisa melihat warna. 

Mereka juga bisa membedakan warna layaknya orang dengan penglihatan normal. Namun, ada beda persepsi. Hijau versi orang-orang yang mengalami buta warna parsial bisa jadi berbeda dengan hijau yang dilihat orang-orang dengan penglihatan warna normal. 

“Jadi, enggak pas disebut buta warna. Lebih tepat disebut lemah warna atau defisiensi warna merah hijau atau kuning-biru,” tegas spesialis mata yang berpraktik di RS Katolik St. Vincentius a Paulo, Surabaya, itu.

Prillia menjelaskan, gangguan tersebut bersifat kongenital. Bisa diturunkan dan sifatnya menetap. “Bisa dibilang, Cuma 1 persen yang muncul karena penyakit,” imbuhnya. Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga itu menyatakan, orang-orang yang mengalami buta warna parsial umumnya tidak merasakan gangguan. Mereka beranggapan penglihatan warna mereka normal. Berbeda halnya dengan orang-orang mengalami masalah pada ketajaman penglihatan. Kondisi itu tidak sengaja terdiagnosis ketika pengidapnya melakukan tes warna saat hendak masuk instansi misalnya.

Padahal, dokter yang juga berpraktik di Surabaya Eye Clinic itu menjelaskan, diagnosis bisa dilakukan sejak dini. “Sejak anak mengenal warna, tes bisa dilakukan. Alat tesnya pun macam-macam,” ucapnya.

Menurut dia, hal itu bisa membantu anak memilih pendidikan maupun profesi. Prillia menuturkan, tidak ada terapi atau pengobatan untuk menghilangkan buta warna parsial hingga tuntas. 

“Kalaupun ada kacamata maupun lensa kontak, itu sebatas alat bantu,” jelas dia. 

Hal tersebut juga ditegaskan pihak EnChroma, label yang merilis kacamata bantu untuk pasien dengan defisiensi warna merah-hijau. Kacamata mirip sunglasses itu punya bahan optik yang mampu menghilangkan tumpang tindih penerimaan gelombang warna merah dan hijau. Dengan demikian, warna bisa diterima dengan baik oleh otak. 

“Ini bukan obat maupun terapi buat mengoreksi hingga sembuh total. Penerimaan warna dengan

bantuan EnChroma juga bergantung pada beragam faktor,” ucap Kent Streeb, direktur pemasaran label tersebut, seperti dilansir OneIndia. 

Di antaranya, tingkat keparahan buta warna, jenis, serta pencahayaan sekitar ketika menggunakan kacamata. Penelitian terkait EnChroma pernah dilakukan University of Granada, Spanyol. Riset itu menyimpulkan, kacamata tersebut tidak lantas membuat para pengidap buta warna melihat warna baru. Tetapi, membantu melihat warna dengan cara berbeda. 

“Filter warna yang digunakan EnChroma memang bisa mengubah tampilan warna. Namun, tidak akan pernah membuat penglihatan warna sama seperti orang normal,” tegas Luiz Gomez Robledo, 

profesor dari Departemen Optik University of Granada, yang juga salah seorang penulis hasil penelitian tersebut. (*/OneIndia/Phys/ fam/and/c6/jan/JP)

Berita Terkait