Kejuaraan Dunia Penuh Hiburan

Kejuaraan Dunia Penuh Hiburan

  Senin, 23 July 2018 11:10
MERIAH DAN MEGAH : Kemeriahan penonton di Istora Senayan, Jakarta pada final Indonesia Open 2018, Minggu 8 Juli lalu dan Kemegahan Istora Senayan Jakarta menjadi venue nya Indonesia Open. Gedung ini akan menjadi tempat perhelatan Asian Games. ARISTONO/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Catatan Djarum Culvis 2018 (1)

TIDAK banyak perusahaan yang mampu mensponsori even sekelas Indonesia Open. Lebih sedikit lagi yang mau. Publikasi bulutangkis memang tak seluas sepakbola. Setiap menit di Google selalu saja ada informasi terbaru soal bola sepak. Jangankan hasil pertandingan terbaru liga-liga besar. Gol tangan tuhannya Maradona 32 tahun lalu. Masih saja diulas berrulang-ulang. Lebih-lebih di media sosial. Berita Raul Lemos yang katanya mirip Kylian Mbappe (pemain Perancis) saja bisa viral.

Tapi bulu tangkis mulai berubah. Jika dulu tepok bulu hanya soal China, Korea, Indonesia, Malaysia atau Denmark, kini negara-negara lain mulai muncul. Even-even bulu tangkis pun kian gemerlap. Salah satunya Indonesia Open yang baru saja diadakan di Istora Senayan Jakarta. Tahun ini Blibli.com, dari kelompok Djarum menjadi sponsor utama even dunia ini.

Kelasnya premier of premier, atau tertinggi di antara seluruh kejuaraan super-series. Setara turnamen tertua di dunia All-England. Hanya setingkat di bawah Olimpiade dan Kejuaraan Dunia. Tapi hadiahnya terbesar dari seluruh kejuaraan badminton sedunia. Tidak tanggung-tanggung, total hadiahnya 1,25 juta dolar Amerika. Sekira Rp18 miliar. Atau sama dengan 1,8 juta mangkok es kepal milo. Tidak heran bintang bulutangkis dunia berebut ke sini.

Penontonnya dari seluruh Indonesia, juga dari luar negeri. Seorang teman dari Pontianak, Andreas Fajar rela terbang ke Jakarta, saking antusiasnya untuk menonton laga final. Sayangnya dia kehabisan tiket. Tiket online di Tiket.com sudah ludes. Antre di loket venue juga kosong. Tidak tahu ini disebut untung atau buntung. Seorang calo menawarkan tiket VIP. Harganya Rp1,8 juta per lembar. Langsung dia beli, daripada tidak nonton sama sekali. Padahal harga normalnya hanya Rp600 ribu saja.

“Puas juga nonton, karena ada lima partai. Apalagi Indonesia masuk ganda campuran dan ganda putra. Dua-duanya juara lagi. Venuenya juga lengkap dan asyik. Antara rugi dan tidak rugi sih keluar duit segitu. Mudah-mudahan ke depan soal calo ini bisa diatasi,” kata arsitek muda ini.

Penulis sendiri beruntung bisa menyaksikan final Indonesia Open, Minggu 8 Juli lalu. Bersama seratusan peserta lain dari berbagai kota. Kebanyakan jurnalis. Dalam rangka Cultural Visit Djarum yang berlangsung hingga Kamis 12 Juli. Kartu tiket penulis yang terkalung di leher juga sempat ditawar oleh seseorang. Padahal jelas-jeas tulisannya; Guest. 

Panitia even ini memang patut diancungi jempol. Kawasan Istora disulap menjadi tempat rekreasi. Di berbagai sudut ada wahana bermain anak. Ada juga food court yang lengkap. Bagi yang hobi berbelanja juga tersedia kios-kios pakaian hingga barang elektronik. Belum lagi hiburan musik dan atraksi-aktraksi lain sepanjang hari. Jangan tanya titik untuk memuaskan hastra berswafoto. Ada dimana-mana.

Belum lagi Istora yang direnovasi makin megah dan modern. Tampilan luarnya sangat cantik, dihiasi ornamen minimalis. Toiletnya makin banyak dan bersih. Pendingin ruangannya juga sudah memakai AC sentral. Pencahayaannya bagus. Belum lagi tujuh ribuan kursi tribun yang berwarna abu-bau. Bertipe single dan bisa dilipat.  Tapi masih ada 50 bangku jadul yang sengaja dijaga untuk bernostalgia.

Saat pertandingan dimulai, penonton antre rapi memasuki stadion. Tas dan bawaan diperiksa. Penonton tidak dibolehkan membawa botol minuman. Kalau mau minum bisa ke luar. Ada food court yang luas untuk berkuliner. Pertandingan pertama dimulai jam tiga sore. Namun wakil Indonesia baru main di dua partai terakhir. Mungkin supaya dramatis ketika juara.

Animo penggemar bulutangkis saat di gelaran sangat tinggi. Ganda campuran Liliyana Natsir-Tontowi Ahmad adalah pasangan terbaik sepanjang massa Indonesia di sektor ini. Mereka peraih medali Olimpiade dan puluhan gelar super-series.  Sedangkan di ganda putra, pasangan nomor satu dunia Marcus Gideon-Kevin Sanjaya yang berlaga.

Bukan cuma gengsi, nama terakhir ini menjadi magnet tersendiri. Dia membawa efek hiburan lebih dari siapapun ke olahraga ini. Dikenal tengil, Kevin Sanjaya kerap memprovokasi lawan. Pada semifinal Indonesia Open misalnya, dia memberikan simbol jempol ke bawah kepada musuhnya, pasangan Denmark Duo Mads. Pemuda 21 tahun ini juga terkenal dengan pukulan servisnya yang aneh. Dia membuat bola berputar hingga melewati kepala musuh. Lihat saja videonya di Youtube.

Stadion pecah saat wakil Indonesia bertanding. Setiap penonton dibekali sepasang balon stick yang bisa dipukul-pukul sebagai gendang. Pukulan balon sestadion itu begitu nyaring. Berpadu dengan pekikan; Indonesia... Indonesia... Indonesia. Penonton Indonesia memang kreatif. Saat perebutan poin-poin terakhir misalnya, mereka kompak berteriak; eak...eak...eak. Mirip guyonan khas Tukul Arwana saat menggoda penonton di acara talk show-nya.

Pemandangan yang biasanya ada di stadion sepak bola juga di bawa-bawa. Ketika ribuan orang di Istora melakukan gerakan menyerupai ombak. Penonton yang duduk berjejer mengelilingi stadion akan berdiri. Mereka berteriak sembari mengayunkan tangannya ke atas. Setiap sisi bergantian melakukannya,sehingga membentuk gerakan seperti ombak di lautan. Tetapi gerakan ini sungguh sangat meletihkan bila diterapkan di stadion bulutangkis. Naik dan turun. Baru beberapa kali putaran, sudah banyak yang tak sanggup lagi. Termasuk penulis. Karena putaran ombaknya terlalu cepat datang. Tidak seperti di stadion sepak bola yang luas. 

Soal atmosfer penonton badminton dewasa ini. Seorang jurnalis olahraga senior di Pontianak, Surhan menilai sekarang penonton bulutangkis lebih kreatif. Juga lebih ramah. Saat pemain Indonesia kalah, mereka tetap memberikan semangat. “Kalau dulu ganas-ganas. Kalau pemain kita kalah, penonton ramai-ramai memaki. Mereka  teriak; pulang...pulang...pulang”.

Selepas Djarum Culvis, penulis kembali ke Pontianak. Bertemu legenda Alan Budikusuma. Kebetulan dia sedang bikin even. Dia bercerita, ternyata dulu Indonesia Open tidak hanya diadakan di Jakarta. Tetapi digilir ke kota-kota di Indonesia. Samarinda bahkan pernah menjadi tuan rumah. Pontianak juga sering jadi tuan rumah even akbar tepok bulu. Kendati Indonesia Open belum sempat mampir. (Aristono/Bersambung…)

Berita Terkait