Kejanggalan Padepokan Dimas Kanjeng Saat Salat Jumat

Kejanggalan Padepokan Dimas Kanjeng Saat Salat Jumat

  Jumat, 30 September 2016 07:08
FOTO DITE SURENDRA/JAWA POS

Berita Terkait

Ismail merupakan salah seorang pengikut awal Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Karena dianggap membahayakan, dia diculik dan dibunuh. Bibi Resemjan, istri Ismail, kepada Jawa Pos Radar Situbondo mengatakan, suaminya kenal dengan Dimas Kanjeng sekitar tahun 2010. 

“Awalnya saya tidak tahu kalau kenal dengan itu. Kalau dulu bukan masalah penggandaan uang. Tapi masalah penarikan barang (gaib) dari dalam tanah. Ada teman yang nawari ke sini. Kalau awalnya kan butuh minyak yang digunakan untuk mengikat barang dari dalam tanah biar tidak cepat hilang kembali,” kata Bibi.

Dia pun juga tak mengetahui mengapa pada akhirnya ada penggandaan uang. “Dia (Dimas Kanjeng, Red) baru menunjukkan bisa proses (penggandaan uang) itu kan baru beberapa tahun ini. Sejak santrinya banyak,” ujarnya.

Bibi menjelaskan, dulu di padepokan Dimas Kanjeng tak ada pengajiannya. Kegiatannya hanya mencari barang-barang gaib dari dalam tanah. 

Mereka membawa tanah ke sana, dan diproses oleh Dimas Kanjeng. 

“Kemudian butuh minyak agar barang yang didapat tidak hilang lagi. Itu yang kami cari keuangannya (pendanaannya). Kalau hanya sedikit, ya kami pakai uang pribadi. Tapi, karena makin lama harga minyaknya makin mahal, dari situlah Ismail mencari teman untuk memenuhi keuangan. Lama-lama bahasanya pindah jadi ke mahar,” imbuhnya.

Selain itu dia mengaku paling tidak suka dengan hari Jumat. Sebab, saat harus menunaikan Salat Jumat, di masjid, Dimas Kanjeng biasanya malah menyuruh santri dan khadam (pembantu)-nya mengeluarkan makanan dan dia tidak ke masjid. “Orang laki kalau tidak salat Jumat berturut-turut hingga tiga kali dalam Islam sanksinya kan berat hukumnya,” ujar Bibi.

“Sejak saat itu saya memang tidak suka. Saya termasuk santri yang terhitung paling jarang ke padepokan. Karena saya punya kesibukan sendiri di rumah,” imbuhnya. (pri/jpg/c9/nw) 

Berita Terkait