Keikhlasan Mengabdi tak Mampu Hentikan Dia

Keikhlasan Mengabdi tak Mampu Hentikan Dia

  Minggu, 2 Oktober 2016 10:48
TERIMA PENGHARGAAN: Rostinawati (59) seorang kader posyandu di Desa Pedalaman, Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau, usai mendapatkan penghargaan atas pengabdiannya selama 30 tahun dari PT Antam, Senin (26/9) lalu. MIFTAH/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Rostinawati; 30 Tahun Mengabdi di Posyandu

Rostinawati (59), perempuan paruh baya yang telah menghabiskan lebih dari setengah hidupnya untuk menjadi kader di posyandu. Selama berpuluh-puluh tahun, ia tak pernah berpaling dari panggilan itu. Tak pernah sekali pun terpikir untuk berhenti mengabdi.

MIFTAHUL KHAIR, Sanggau

PENGALAMAN adalah guru yang baik, semua hal bisa dipelajari darinya. Belajar ikhas untuk terus mengabdi,” aku Rostinawati (59). Kata-kata bijak ini menjadi kalimat pertama yang keluar dari mulutnya saat ditemui Pontianak Post pekan lalu. November mendatang, pengabdiannya akan genap menjadi 30 tahun. Sepanjang waktu tersebut menjadi kader posyandu di desa tempat ia tinggal, Desa Pedalaman, Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau. Dia benar-benar mengabdi untuk melayani.

Sehari-hari ia akan pergi ke posyandu di dekat kediamannya. Usai memastikan pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga telah ia selesaikan. Usai membersihkan rumah, mencuci pakaian, dan memasak untuk suami dan anaknya. Saat matahari mulai meninggi, ia akan bersiap melaksanakan panggilan hidupnya sebagai kader posyandu.

“Kalau diingat-ingat, dulu menjadi kader posyandu karena tidak ada yang mau. Dari anak (saya) masih kecil sampai sudah (saya) sudah punya cucu sekarang masih sulit mencari pengganti. Jadi saya teruskan saja,” ujarnya.

Keengganan masyarakat untuk menjadi kader posyandu untuk menggantikannya, membuat Rosinawati dan kaum ibu lain di desa itu untuk terus melayani. Sekali waktu ia akan mengambil momen untuk beristirahat hanya ketika lebaran atau hari-hari besar lainnya. Itu pun ketika posyandu juga sedang tutup.

Pada awalnya ia menjadi kader di posyandu, segalanya memang terasa cukup sulit. Dari mulai kondisi bangunan hingga keberadaan vitamin dan obat-obatan. Perasaannya akan lebih lega ketika petugas puskesmas mampir untuk sekadar menyosialisasikan materi kesehatan singkat. Akan lebih baik jika kunjungan itu juga membawa tambahan vitamin dan obat yang bisa sedikit meringankan warga yang sakit. “Karena puskesmas kan jauh dari sini, apalagi rumah sakit. Semuanya kebanyakan ditanggulangi di posyandu dulu,” ungkapnya.

Belakangan, bantuan-bantuan dari pemerintah lewat Dinas Kesehatan yang mengirim petugas-petugasnya. Mereka kini lebih sering datang langsung untuk menyosialisasikan dan memberikan tambahan ilmu kepada kader-kader posyandu di desa di mana ia tinggal.

Sebagai kader posyandu sekaligus kepanjangan tangan puskesmas, tugas utama Rostinawati ialah memantau kesehatan warga di desanya, terutama lansia dan anak-anak serta balita. Penimbangan berat badan, pemberian makanan tambahan, serta penyuluhan rutin dilakukan. Selain itu, juga disediakan beberapa pemeriksaan kesehatan ringan yang dapat dilayaninya.

Menurut data terakhir dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sanggau, sedikitnya terdapat 400 unit posyandu balita yang aktif melaksanakan pelayanan di masyarakat di tiap dusunnya. Sementara posyandu lansia berjumlah 137 unit. Jumlah kader yang ada saat ini bervariasi dari tiap unit posyandu. Sebagian besar posyandu beranggotakan 6 – 10 orang. Seperti di Posyandu Melati tempat Rosinawati bertugas, terdapat enam orang kader yang silih berganti menjalankan tugas.

Bantuan-bantuan yang dapat diberikan oleh petugas yang diterjunkan Dinas Kesehatan Kabupaten Sanggau, hanya bisa bersifat stimulan. Dikemukakan oleh kepala Seksi Anak dan Lansia Dinas Kesehatan Kabupaten Sanggau, Najori, sesuai dengan yang telah diundang-undangkan, bantuan yang dapat diberikan oleh hanya berupa obat-obatan, vitamin, vaksin dan susu, serta peralatan kesehatan yang disalurkan melalui puskesmas terdekat. “Kami tidak bisa memberikan bantuan seperti dana intensif kepada mereka untuk sekadar penghargaan setelah pengabdian mereka,” ujarnya beberapa waktu lalu kepada Pontianak Post.

Menurut pengamatannya, para kader posyandu di daerah tersebut memang membutuhkan bantuan dari dinas terkait atau ahli kesehatan manapun, yang bisa dan mau turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi mereka. Hanya sebatas itulah yang bisa diberikan oleh Dinas Kesehatan. Hanya sebatas penyuluhan. Sedangkan yang lebih mereka butuhkan ialah dana. Dana untuk mengelola administrasi dari posyandu.

Apabila berbicara soal dana, segala dana yang berkaitan dengan operasional posyandu sebagian besar didapat dari para kader itu sendiri. “Mereka membuat semacam uang kas,” katanya. 

Fasilitas yang ada di sana, menurutnya, merupakan dana sumbangan dari masyarakat desa. Hal itulah yang, diakui dia, membuat tak banyak yang mau menjadi kader posyandu. “Mereka sudah menyumbangkan tenaga, juga mesti menyisihkan sedikit uang,” timpalnya lagi.

Keberadaan para kader posyandu, menurutnya, patut diapresiasi oleh semua pihak, dalam hal ini Dinas Kesehatan. Mereka sudah mengabdikan sebagian hidup mereka untuk melayani masyarakat di posyandu, tanpa bayaran sepeser pun. Mereka mengabdi bertahun lamanya, bahkan hingga 30 tahun seperti Rostinawati dan kader lainnya juga telah menjadi kader selama puluhan tahun.

Kader-kader posyandu yang ada saat ini menurutnya juga masih belum mencukupi kebutuhan yang ada. “Tapi sudah baik,” kata Najori. 

Kehadiran kader menjadi krusial dalam kemajuan posyandu dan tentunya kepada kondisi kesehatan di masyarakat. Karena sesuai dengan prinsip posyandu itu sendiri, yakni pos pelayanan terpadu (Posyandu) sebagai bentuk upaya kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM) yang keberadaannya berasal dari, oleh, untuk, dan bagi masyarakat.

Akan tetapi ia tetap bersyukur. Pada kader andalan itu tetap mau dan melaksanakan panggilan jiwanya sebagai kader posyandu sebagai garda terdepan untuk menjaga kesehatan di lingkungan masyarakat. “Melalui satu penghargaan yang diterima oleh mereka, mereka akan merasa lebih dilihat dan nyata perannya di masyarakat,” pungkasnya. (*)

Berita Terkait