Kehadirannya Pertanda Tanda Alam Masih Lestari

Kehadirannya Pertanda Tanda Alam Masih Lestari

  Kamis, 26 April 2018 11:00
MIGRAN: Gerombolan burung kedidi besar di Pantai Tengkuyung. Berbagai kelompok jenis burung lainnya juga menjadikan Pantai Tengkuyung sebagai lokasi persinggahan mereka, dalam rangka mengitari bumi. VICTOR FIDELIS /WWF-INDONESIA FOR PONTIANAK POST

Berita Terkait

Melihat Wisata Pengamatan Burung di Pantai Tengkuyung

Wisata pengamatan burung migrasi adalah salah satu aktivitas yang jarang dilakukan. Pasalnya tidak banyak lokasi di dunia yang menjadi tempat persinggahan burung migran. Kini ditemukan satu lokasi persinggahan burung migran, tepatnya di Pantai Tengkuyung, Kubu Raya.

Aristono, Pontianak

Syarif Abdurrahhman Alkadrie berjalan pelan di atas pasir Pantai Tengkuyung. Ahli ontologi (ilmu burung) ini melangkah gontai dalam tempo yang sama. Sementara sekira 200 meter di belakang, puluhan orang terbagi dalam beberapa kelompok kecil menyusulnya. Panas terik matahari bumi khatulistiwa sama sekali tak menganggu aktivitas mengamati burung migran di pantai yang pasirnya berwarna gelap tersebut. Sesekali mereka berdiri pasif. Berbekal teropong dan kamera lensa panjang, mereka memandangi pertunjukan yang mengagumkan itu.

Tampak puluhan burung migran dari berbagai jenis tengah asik bermain di tepian pantai yang masuk dalam territorial Kecamatan Teluk Pakedai, Kabupaten Kubu Raya ini. Sementara puluhan lainnya lalu lalang di atas kepala kami. Ini adalah bulan terakhir mereka singgah di sini. Mereka berasal dari berbagai kawasan di dunia. Ada yang dari Semenanjung Siberia, Alaska dan sebagian Eropa. “Paling banyak memang di pantai ini,” ujar Abdurrahman, peneliti burung dari Kawan Burung Ketapang yang akrab disapa Doi ini.

Hari itu memang sedang ada gawai. Pemerintahan Desa Sungai Nibung bersama WWF Indonesia, Jari Borneo Barat, Bapeda Kabupaten Kubu Raya, serta lembaga lain menggelar peringatan Hari Bumi, 22 April lalu. Salah satu kegiatannya adalah memperkenalkan potensi wisata pengamatan burung. Selain melakukan penanaman pohon, diskusi bersama, dan aksi bersih-bersih pantai. Pontianak Post sendiri diundang oleh WWF Indonesia untuk melihat potensi daerah ini.

Baru-baru ini, Pantai Tengkuyung menjadi titik pertama di Pulau Kalimantan yang melakukan banding (penyematan bendera) di kaki burung migran. Bendera itu sebagai penanda burung itu pernah singgah dimana. Pantai Tengkuyung mendapat bendera berwarna jingga. Dia mengatakan, di dunia ada tujuh jalur migrasi burung di setiap tahunnya. Kalimantan Barat menjadi salah satunya. Mereka transit dari Utara Asia, singgah ke Asia Tenggara (Indonesia), kemudian lanjut ke Australia dan Selandia Baru.

 “Di Pulau Kalimantan, baru Pantai Tengkuyung ini yang mendapat bendera,” kata dia. Pernah, tim WWF mendapati burung dengan kaki terikat kain bendera dari macam-macam negara, seperti Tiongkok, Australia dan negara-negara lainnya. “Artinya burung-burung ini pernah singgah di negara-negara itu,” sambung dia.

Dia menceritakan, di daerah asalnya sedang berlangsung musim dingin. Oleh sebab itu mereka bermigrasi mengelilingi dunia, hingga musim panas tiba. Periode burung-burung ini datang  ke Pantai Tengkuyung biasanya pada September-April. Namun paling banyak pada bulan September. Apalagi kalau laut sedang pasang. Maka luas pantai akan tersisa sedikit saja. Ribuan burung berkumpul di sana, sehingga membuat sisi itu memutih penuh oleh burung.

Kebanyakan dari burung itu memang berwarna putih dengan corak warna tambahan. Namun ada juga yang berwarna lain. Burung-burung yang berhasil diidentifikasi WWF adalah trinil bedaran, cerek-pasir besar, cerek-pasir Mongolia, cerek tilil, kedidi besar, trinil pantai, trinil pembalik-batu, dara-laut kecil, dan dara laut tiram. 

Menjadi tempat transit burung migran, membuat kawasan ini cocok untuk menjadi kawasan wisata pengamatan burung (bird watching). Kepala Desa Sungai Nibung Syarif Ibrahim mengatakan, pihaknya memang tengah fokus membangun Pantai Tengkuyung sebagai kawasan wisata minat khusus dan ecotourism. “Kami bersyukur karena ini menjadi potensi yang besar untuk Pantai Tengkuyung.  Sekarang mulai banyak wisatawan dari luar yang datang ke sisi,” aku dia.

Desa ini banyak dibantu oleh berbagai NGO, termasuk WWF Indonesia untuk ekowisata. Selain pantai sepanjang sepuluh kilometer, Pantai Tengkuyung juga memiliki hutan mangrove yang sangat besar. Di dalamnya hidup aneka satwa macam bekantan, lutung, kera, kepiting dan berbagai burung. Bahkan pesut juga pernah beberapa kali muncul di perairan pantai ini. “Kami sudah membangun trek jalan di hutan mangrove walaupun seadanya,” ucap dia.

Tahun lalu, Kementerian Pariwisata melalui Dinas Pariwisata Kubu Raya mengucurkan Rp3,5 miliar untuk membantu pembangunan kawasan wisata itu. Dana itu dibangunkan panggung seni, rumah galeri, dapur, tulisan branding di tepi pantai dan dermaga serta jembatan. Di desa ini juga sudah ada resort yang bisa digunakan untuk menginap. Sebagian tamu yang datang berasal dari luar negeri. “Di buku tamu kami, tercatat sudah ada turis asing dari 30 negara yang datang ke sini,” bangga dia.

Menurutnya, aktivitas mengamati burung menjadi potensi tambahan untuk paket wisata di desa ini. Wisatawan bisa melihat secara langsung ragam jenis burung tersebut bermain di tepi pantai. “Selain itu kami bersyukur, kedatangan burung-burung ini juga menjadi indikator bahwa alam kita masih baik, ekosistem pantai masih terjaga. Hal ini dapat kita lihat dari banyaknya jenis  burung yang datang setiap tahun," terangnya. 

Untuk menuju pantai tengkuyung dari Pelabuhan Rasau Jaya bisa ditempuh dengan motor air kelotok atau speed boat. Menggunakan kendaraan speed boat memakan waktu dua jam. Sedangkan menggunakan motor kelotok bisa ditempuh enam jam. Jalan darat juga bisa ditempuh, namun memakan perjalanan yang cukup ekstrem dengan jalur setapak dan melewati hutan rimba.

Pemkab Kubu Raya sendiri mulai menaruh perhatian pada pantai ini. Kepala Bapeda Kubu Raya Yusran mengatakan, pantai ini masuk ke dalam salah satu destinasi yang akan dibangun oleh pemerintahan. “Aka nada bantuan ke pantai ini, walaupun tahun ini belum berbentuk pembangunan fisik. Kami juga akan mempromosikan kawasan ini, karena sangat unik dan langka. Dimana para pecinta wisata minat khusus bisa mendapat paket lengkap seperti hutan mangrove, kebudayaan, wisata pantai dan pengamatan burung,” jelas dia.

Sebagai informasi Desa Sungai Nibung memiliki luas sebesar 6000 hektare, dimana 90 persennya hutan lindung. Adapun jumlah penduduknya mencapai 1.342 jiwa dengan 321 kepala keluarga. Rerata dari mereka adalah nelayan. Sebagian lainnya adalah petani.  (*)

Berita Terkait