Kecerdasan Buatan Persempit Lapangan Kerja

Kecerdasan Buatan Persempit Lapangan Kerja

  Sabtu, 12 May 2018 09:03
MENKEU: Menteri Keuangan Sri Mulyani bersama Ketua DPD RI OSO, Rektor Untan Thamrin Usman dan Pj Gubernur Dody Riyatmadji saat menghadiri sidang senat Dies Natalis Untan ke-59, kemarin. FOTO; Shando Safela

PONTIANAK – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati meminta kaum muda untuk mempersiapkan diri menghadapi tantangan revolusi industri jilid empat. Revolusi industri 4.0 yang dimaksud adalah makin pesatnya penggunaan kecerdasan buatan dalam berbagai lini aktivitas produksi. Hal tersebut, menurut dia, menjadi ancaman bagi para generasi saat ini. Lantarannya berbagai pekerjaan kasar hingga bidang-bidang yang membutuhkan keahlian sudah mulai digantikan dengan kecerdasan buatan.

“Revolusi industri 4.0 ini ditandai dengan meluasnya penggunaan artificial intelligence dan robot dalam berbagai lini kehidupan. Produksi manufaktur tidak lagi menggunakan tenaga manusia,” kata dia saat memberikan orasi ilmiah di Auditorium Universitas Tanjungpura dalam rangka sidang senat Dies Natalis Untan ke-59 tahun, kemarin (11/5).

Pada pekerjaan kasar misalnya. Penyapu jalan saat ini sudah bisa digantikan robot. Sementara berbagai bidang yang membutuhkan keterampilan dan keahlian juga mulai tergerus aplikasi dan robot dengan kecerdasan buatan. “Sekarang sarjana akuntansi tidak bisa bangga kalau hanya pandai matematika saja, karena artificial intelligence juga bisa. Begitu juga bahasa. Artificial intelligence sudah bisa membuat kalimat dan lain-lain,” papar dia.

Kecerdasan buatan menurut dia masih akan berkembang. Pasalnya kecerdasan mesin tersebut berasal dari berbagai data yang masuk dan dianalisa oleh mesin. Bahkan saat ini sudah ada mesin cetak barang tiga dimensi. Proses membuat objek padat 3 dimensi atau bentuk apapun dari model digital. Tenaga manusia pun sangat minim dalam proses ini.

Ke depan, kata dia, penggunaan kecerdasan buatan akan semakin meluas dan terintegrasi. Nanti diprediksi akan ada artificial intelligence yang luas dan terkoneksi satu sama lain. Dalam hal ini, semakin sedikit tenaga manusia yang digunakan. Sri Mulyani berharap, mahasiswa Untan bisa mempersiapkan diri bila era tersebut datang.

Menurut dia, generasi saat ini masih memiliki peluang kerja yang luas. Bagaimanapun juga robot dan kecerdasan buata memiliki sisi lemah. “Berbeda dengan manusia. Robot tidak memiliki empati atau perasaan. Sisi kemanusiaan ini membuat kita lebih unggul dan bisa menciptakan sesuatu lebih baik,” sebut dia.

Dia juga menyebut, pemerintah saat ini sedang berusaha untuk meningkatkan segala potensi yang ada untuk mensejahterakan rakyat. Salah satu kuncinya sejahtera adalah mampu bersaing dengan negara lain. Untuk memiliki daya saing, infrastruktur harus ditingkatkan demi mendekati kemampuan negara lain yang sudah lebih dulu maju. Saat ini pemerintah sedang gencar membangun infrastruktur, termasuk di pedesaan dan perbatasan Kalimantan Barat.  Fokus ini sesuai dengan Nawacita Presiden Jokowi bahwa pembangunan dibangun dari pinggiran. “Demi pemerataan dan konektivitas Indonesia yang begitu luas,” pungkas dia. (ars)