Kecelakaan, Sastrawan Nh Dini Meninggal Dunia

Kecelakaan, Sastrawan Nh Dini Meninggal Dunia

  Rabu, 5 December 2018 11:01
PENULIS HEBAT : Sastrawan NH Dini semasa hidup banyak menghasilkan karya sastra yang berkualitas. IST

Berita Terkait

Menginspirasi Banyak Orang Lewat Sastra

Sastrawan Nh Dini meninggal dunia karena kecelakaan, Selasa (4/5) kemarin. Para pegiat sastra berduka. Karya-karya perempuan bernama lengkap Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin itu telah menginspirasi banyak orang. 

---

NH Dini meninggal dalam usia 82 tahun. Pengarang, antara lain, Pada Sebuah Kapal, Pertemuan Dua Hati, dan Namaku Hiroko tersebut meninggalkan dua anak hasil pernikahannya dengan pria Prancis, Yves Coffin. Mereka adalah Pierre Coffin dan Marie-Claire Lintang.   

Setelah dibawa ke Wisma Lansia Harapan Asri untuk disemayamkan tadi malam, rencananya, Nh Dini dikremasi di Pemakaman Kedungmundu, Ambarawa, Kabupaten Semarang, hari ini pukul 10.00 WIB.

Informasi yang diterima, Nh. Dini mengalami kecelakaan lalu lintas kemarin sekitar pukul 11.15 WIB di ruas tol Km 10 Kota Semarang. Kecelakaan tersebut terjadi antara light truck dengan nomor polisi AD 1536 JU yang dikendarai warga Magelang Gilang Septian dan Toyota Avanza dengan nomor polisi H 1362 GG yang disopiri Suparjo dan ditumpangi Nh. Dini, warga Semarang. 

Akibat insiden tersebut, tangan kanan Suparjo terluka. Kaki kirinya juga lecet. Selain itu, Nh. Dini mengalami luka di kepala dan kaki kanan. Kronologinya, kendaraan yang dikemudikan Gilang melaju dari arah utara (Gayamsari) ke selatan (Tembalang). Diduga, mobil tersebut mengalami kerusakan sehingga akhirnya berhenti sesaat di jalur utama. 

Namun, saat pengemudi akan melanjutkan perjalanan, mobil tidak bisa dikendalikan sehingga berjalan mundur. Terjadi kecelakaan antara kendaraan itu dan mobil yang ditumpangi Nh. Dini yang melaju searah di belakangnya. Saat itu Nh. Dini baru menjalani perawatan tusuk jarum dengan diantar Suparjo yang merupakan sopir taksi langganannya. 

Dalam jagat sastra tanah air, peran Nh Dini dianggap sentral sebagai pelopor suara perempuan pada 1960–1980-an. Ketika itu belum banyak perempuan Indonesia yang memutuskan untuk menjadi penulis.

Tercatat, pada 2017 di Bali pengarang kelahiran Semarang itu menerima penghargaan prestasi seumur hidup dari penyelenggara Ubud Writers and Readers Festival (UWRF). Selain itu, deretan penghargaan yang pernah dia terima, antara lain, Hadiah Seni untuk Sastra dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1989), Bhakti Upapradana Bidang Sastra dari Pemerintah Daerah Jawa Tengah (1991), SEA Write Award dari Pemerintah Thailand (2003), Hadiah Francophonie (2008), dan Achmad Bakrie Award Bidang Sastra (2011).

Nh. Dini rajin menulis sejak duduk di kelas III sekolah dasar. Karir di dunia penulisan dia mulai saat mengirim sajak untuk program Prosa Berirama yang disiarkan oleh Radio Republik Indonesia. Sebelum kemudian menjajal peruntungan membuat cerita pendek untuk majalah perempuan Femina.

Karena merasa format cerita pendek tidak cocok untuk dirinya, Nh. Dini mulai menulis cerita panjang. Dia menulis karya pertamanya yang berjudul Hati yang Damai, kemudian Pertemuan Dua Hati (1986) yang diterbitkan di halaman tengah Femina.

Dini kemudian merambah penulisan biografi dan novel. Amir Hamzah Pangeran dari Negeri Seberang (1981) dan Dharma Seorang Bhikkhu (1997) adalah dua buku biografi yang dia tulis. Namun, dia lebih dikenal lewat karya-karya novelnya seperti Pada Sebuah Kapal (1973), La Barka (1975), Keberangkatan (1977), dan Namaku Hiroko (1977). 

Keponakannya, Paulus, menceritakan kekagumannya akan pribadi Nh. Dini. Menurut dia, Nh. Dini orang yang mandiri. ”Eyang bibi (sapaan akrab Nh. Dini di keluarga, Red) memang berprinsip tidak mau merepotkan keluarga, bahkan anak-anaknya. Beliau sengaja jual semua aset dan memilih tinggal di wisma itu,” tuturnya.

***

Nh Dini memiliki putra yang mewarisi bakat seninya, Pierre Louis-Padang Coffin. Dia memilih berkarir sebagai sutradara sekaligus animator. 

Sama seperti sang ibu, karyanya ikonik. Coffin merupakan kreator, sutradara, sekaligus animator di balik Despicable Me. Pria kelahiran 15 Maret 1967 itu juga ikut mengisi suara para Minion –makhluk kuning jenaka yang punya bahasa unik. 

Dalam karyanya, Coffin punya dua ciri khas: jenaka dan penuh warna. Padahal, pria berkebangsaan Prancis tersebut mengaku tidak punya bakat melawak. Dia mengenang, sang ayah Yves Coffin, diplomat Prancis, dan ibunya adalah sosok yang jauh dari kata humoris. 

”Diplomat itu bukan seseorang yang terlalu lucu, sementara ibuku adalah pencerita yang kurang seru. Ceritanya adalah biografi tentang kehidupannya di Indonesia selama zaman penjajahan Belanda,” kata alumnus Gobelins, L’Ecole de L’Image, tersebut dalam wawancara dengan The Guardians pada 2015. 

Meski tidak punya ”darah” komedi, Coffin tetap sukses. Despicable Me jadi franchise film kartun paling menjanjikan. Ayah dua anak itu menceritakan, sang ibu sangat bungah atas capaiannya. ”Ibuku adalah seorang seniman. Jadi, dia bisa merasakan beratnya mencapai mimpi. Dia superbangga denganku,” ungkapnya. 

Reaksi tersebut berbeda dengan respons sang ayah yang tidak mendukungnya berkarir di bidang animasi dan perfilman. ”Buatnya, hal ini tidak serius. Dia tidak pernah mendukung, apalagi membantuku,” ucap Coffin. 

Meski dekat, pria yang berkarir sejak 1993 itu mengaku belum pernah membaca karya sang ibu. Sebab, karya Dini belum pernah diterjemahkan dalam bahasa Prancis. Dia sebatas tahu dari sahabat sang ibu. ”Tentu saya sangat bangga. Tapi juga malu. Karena ternyata dia banyak menulis tentang kami sebagai keluarganya,” kata Coffin ketika diwawancarai untuk VOA Indonesia lima tahun silam. (The Guardian/VOA Indonesia/fam/c9/ttg)

Berita Terkait