Kebakaran Lahan Meningkat

Kebakaran Lahan Meningkat

  Sabtu, 21 July 2018 10:00
TERTUTUP ASAP: Matahari menguning tertutup kabut asap yang menyelimuti Kota Pontianak kemarin sore. Kabut asap semakin menebal seiring meningkatnya kebakaran hutan dan lahan di Kalbar. Foto bawah, petugas sedang memadamkan api yang membakar sebuah lahan di ujung Jalan Paris 2, Pontianak, kemarin. SHANDO SAFELA/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK- Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat terus meningkat. Berdasarkan data Satelit Aqua, Terra, SNNP pada catalog modis LAPAN tanggal 20 Juli 2018 pukul 07.08 WIB terdapat 207 hotspot, di mana 137 hotspot kategori sedang dan 70 hotspot kategori tinggi. Jumlah ini lebih banyak dibandingkan beberapa hari sebelumnya.

Wilayah Kalbar bagian timur, masih tercatat sebagai penyumbang titik panas terbanyak. Kabupaten Sintang misalnya terpapar sebanyak 41 titik panas. Kemudian Kabupaten Kapuas Hulu terpantau pada monitor sebanyak 31 titik api. ”Di susul Kabupaten Sambas dengan 26 titik api dan Kubu Raya dengan 20 hotspot. Kabupaten Bengkayang juga mengalami peningkatan hotspot yakni sebanyak 16 titik,” urai Sutikno, Forecaster BMKG Supadio Pontianak.

Kabupaten lain seperti Ketapang juga terdeteksi sebanyak 14 titik api, disusul Kabupaten Landak dengan 13 titik panas. Sementara Melawi, Mempawah, Sekadau dan Kota Pontianak tidak signifikan untuk titik panasnya.

Dua hari sebelumnya berdasarkan informasi hot spot dari data satelit penginderaan jauh Terra/MODIS, Aqua/MODIS, dan SNPP/VIISR yang diterima Stasiun Bumi LAPAN sebanyak 80 Hot Spot saja dan sebelumnya hanya 24 titik panas saja. 

Curah hujan masih rendah hingga September nanti. Dalam kondisi itu masyarakat diminta waspada peningkatan potensi titik api. "Curah hujan secara umum diperkirakan masih rendah sampai bulan september nanti," kata Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Supadio  Pontianak Sutikno di Pontianak, kemarin. 

Namun BMKG juga memprediksi dalam beberapa hari ke depan terjadi hujan ringan di wilayah timur dan utara Kalimantan Barat. Hanya saja dianggap belum mampu memadamkan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah titik.

Sutikno menjelaskan rendahnya curah hujan disebabkan beberapa faktor. Di antaranya kondisi suhu permukaan air laut di perairan laut sekitar Kalimantan Barat saat ini lebih dingin dari kondisi normalnya, sehingga penguapan air menjadi berkurang. Kemudian saat ini terjadi siklon tropis ampil di sebelah timur philipina. Siklon ini membawa dampak tidak langsung, yaitu tertariknya massa udara di Kalbar, sehingga sangat sedikit awan yang terbentuk di Kalbar. 

Lalu faktor lainnya saat ini Indonesia sedang fase El Nino lemah. Ini menjadi penyebab kurangnya curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia terutama bagian timur. "Jika sedang La Nina (kebalikannya El Nino) maka akan banyak hujan seperti tahun lalu," papar Sutikno.

Aktivis Walhi Hendrikus Adam mengatakan rendahnya menjadi rentan bagi sejumlah lahan maupun kawasan berhutan kritis mengalami kekeringan hingga kebakaran. Dalam kondisi itu Adam mengajak semua pihak di sekitar wilayah rentan terbakar untuk dapat lebih berhati-hati dan proaktif memastikan agar langkah pencegahan guna pencegahan kebakaran hutan dan lain.

Di sisi lain Adam mengapresiasi kerja keras sparta memadamkan api di lokasi kejadian. Meskipun demikian pemadaman dengan waterbombing haruslah memperhatikan karakteristik kondisi masyarakat sekitar. "Jangan sampai, praktik bom air yang serampangan seperti tahun-tahun sebelumnya justru terulang," terang Adam.

Menurut Adam pemadaman atau antisipasi Karhutla harus melibatkan segenap komponen. Dengan begitu masyarakat pengampu kearifan lokal juga mestinya harus dirangkul dan dilindungi hak-haknya.

Adam juga menekankan patroli yang dilakukan aparat guna mengantisipasi Karhutla semestinya lebih humanis dengan mengedepankan sisi kemanusiaan. "Kami sangat mengapresiasi bila aparat di lapangan tidak membekali diri dengan senjata. Secara fsikologis tentu hal ini dapat berdampak buruk bagi kerja-kerja antisipasi Karhutla yang dilakukan. Termasuk dapat menimbulkan image yang buruk bagi negara karena mengesankan seolah bahwa bertani ladang adalah kejahatan dan sejumlah pendapat lainnya.

Ia menambahkan langkah antisipasi dengan mengoptimalkan sumberdaya yang ada dengan turut merangkul masyarakat sekitar mencegah terjadinya kebakaran meluas menjadi penting dilakukan.Selain itu, penyampaian informasi mengenai kemana warga yang mengetahui kejadian kebakaran untuk mendapat bantuan penanganan segera dari pihak terkait juga penting diberikan.

Kepala BPBD Kalimantan Barat TTA Nyarong mengatakan titik panas yang ditengarai sebagai kebanyakan hutan dan lahan menyebab di seluruh wilayah. "Ada di Ketapang, Sanggau, Sintang, Kapuas Hulu dan Kubu Raya hingga Mempawah," sebut Nyarong.

BPBD mendorong pemerintah kabupaten/kota menetapkan status bencana agar penanganan kebakaran hutan dan lahan lebih maksimal. Ini dilakukan karena berkaitan dengan kekurangan anggaran yang dibutuhkan dalam penanganan Karhutla. 

"Anggaran yang tersedia tidak maksimal. Untuk Waterbombing saja membutuhkan anggaran dari APBN. Dan hampir setiap hari pengeboman itu dilakukan," ungkap Nyarong.

Begitu juga dengan kawasan darat, Nyaron meyakini satgas patroli dan pemadaman darat sudah bekerja maksimal untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan. Di tempat terpisah Kepala Dusun Jaya Desa Sungai Enau Halim menyebutkan sudah empat hari kawasannya terbakar.

Dari hari pertama hingga hari ketiga warga menggunakan satu mesin robin untuk memadamkan api yang membakar lahan. Barulah di hari ke empat warga mendapat satu bantuan mesin robin.

Warga hanya bisa pasrah meskipun lokasi kejadian berjarak satu kilometer dengan pemukiman. Sementara luasan lahan yang terbakar lebih kurang 14 hektare. "Hari kedua ada heli pemadam lewat, tapi tidak melakukan pemadaman. Hanya melintas saja. Kami pun belum tahu ke mana pengaduannya jika terjadi lagi. Tapi alhamdulillah dibantu tiga tentara saat memadamkan api," pungkasnya. (mse)

Berita Terkait