Keadilan untuk Audrey, Keluarga Desak Pelaku Ditindak

Keadilan untuk Audrey, Keluarga Desak Pelaku Ditindak

  Rabu, 10 April 2019 09:26
TERBARING LEMAH: Audrey (14), siswi SMP korban pengeroyokan yang diduga dilakukan oleh 12 siswi SMA terbaring lemah di rumah sakit. Kasus yang menimpa Audrey kini tengah ditangani oleh Polresta Pontianak. SHANDO SAFELA/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Keluarga Audrey (15), siswi SMP korban pengeroyokan dua belas siswi SMA pada Jumat (29/3) lalu, tetap akan menempuh jalur hukum. Mereka berharap para pelaku mendapat efek jera agar tak ada lagi korban-korban selanjutnya. 

----

Wajah Audrey masih tampak pucat, Selasa (9/4). Meski masih terbaring lemah di salah satu RS di Kota Pontianak, sesekali ia melempar senyum kepada tamu yang datang. Suasana di ruang rawat inap itu cukup ramai. Pihak keluarga dan kerabat silih berganti datang memberi dukungan. Tertulis di depan pintu, "hanya keluarga yang boleh masuk". 

Kedatangan Pontianak Post disambut sang ibu, Liliek Mailani. Liliek bercerita banyak pada Pontianak Post tentang peristiwa yang dialami anaknya, Audrey. Liliek mengatakan, apa yang menimpa anaknya ini sebenarnya juga pernah dirasakan oleh korban-korban yang lain. Namun, mereka tak berani berbicara, termasuk Audrey sendiri. Awalnya ia sempat diancam agar tidak melapor ke siapa pun. 

"Anak saya juga sempat dalam pengancaman para pelaku itu. Anak saya dalam tekanan," ucapnya. 

Namun akhirnya cerita itu terbongkar lima hari kemudian, Rabu (3/4). Diawali muntah-muntah saat pagi hari,  Audrey akhirnya bercerita ke sang ibu, apa penyebab dari sakitnya tersebut. Dari sanalah kemudian diketahui semua kejadian yang menimpa siswi kelas 8 SMP itu.

Atas kejadian ini, pihak keluarga tetap akan menempuh jalur hukum. Apalagi Audrey tidak kenal dan sebelumnya tidak pernah berurusan dengan para pelaku. "Kami tetap melanjutkan proses hukum. Laporan di Polresta sudah kemarin. Kami di sana dulu. Kalau memang lambat juga, kami naikkan ke Polda," ungkapnya. 

Liliek berharap, ke depan tidak ada lagi kejadian seperti yang menimpa Audrey. Sebetulnya Liliek tidak tega jika para pelaku dihukum. Namun, hal yang paling penting menurutnya ialah adanya efek jera. Apalagi dari informasi yang ia peroleh, ternyata para pelaku sudah sering melakukan tindak kekerasan, dengan membuat geng yang sering meneror para pelajar wanita. “Anak yang pernah jadi korban mereka ini sudah banyak,” ujarnya. 

Yang pasti semua proses akan ia serahkan ke penegak hukum. Apapun hasilnya pihak keluarga tetap akan menerimanya. "Tetap serahkan ke pihak berwajib dan kami tidak mau damai," ucapnya. 

Sementara untuk kesehatan sang anak, menurutnya saat ini kondisi Audrey secara fisik sudah mulai pulih. Hanya saja, ada trauma psikis yang cukup mendalam sehingga korban terus didampingi oleh psikolog untuk proses penyembuhannya. 

Belum Ada Tersangka

Polresta Pontianak hingga saat ini belum menetapkan tersangka dalam kasus pengeroyokan yang melibatkan 12 pelajar di Kota Pontianak. Kasus yang baru dilaporkan secara resmi oleh orang tua korban pada Senin (8/4) sore itu masih dalam proses pengembangan. 

“Korban masih belum dapat kami mintai keterangan, karena masih dirawat inap seminggu yang lalu,” ungkap Kasat Reskrim Polresta Pontianak, Kompol Husni Ramli, Selasa (9/4). Husni menyebutkan, untuk sementara, pihaknya baru memeriksa orang tua korban.  

Kemarin, pihaknya juga masih menunggu saksi yang pada saat itu berada di tempat kejadian perkara (TKP). Husni pun menjelaskan kronologi pengeroyokan tersebut. Penganiayaan itu diduga  dilakukan oleh beberapa orang pada 29 Maret 2019 lalu sekitar pukul 14.30. Lokasinya berada di Jalan Sulawesi, yang kemudian berlanjut di Taman Akcaya.  

Semula, Audrey dijemput oleh DE untuk diantar ke rumah sepupunya PP. Sesampai di rumah PP, korban lalu dibonceng PP menggunakan sepeda motor, sementara DE menunjukkan ke arah mana korban dibawa. Keduanya yakni AU dan PP, diikuti oleh dua sepeda motor yang tidak dikenal korban.

Saat berada di Jalan Sulawesi, korban dicegat dan kemudian tiba-tiba dari belakang, terlapor TR menyiramkan air dan menarik rambut korban hingga korban jatuh ke jalan. Setelah korban terjatuh, terlapor EC menginjak perut korban dan membenturkan kepala korban di jalan. Setelah kejadian tersebut, korban melarikan diri bersama sepupunya PP menggunakan motor dan dicegat kembali oleh TR dan LL di Taman Akcaya. 

Di taman tersebut, korban dipiting oleh TR. Sementara LL menendang perut korban. Namun karena saat kejadian dilihat masyarakat sekitar, para pelaku melarikan diri. Husni mengatakan, kejadian ini pertama kali diadukan oleh korban dan orang tuanya di Polsek Selatan seminggu setelah kejadian.

“Setelah diterima pengaduan, selanjutnya dilakukan visum, dan baru kemarin kami menarik perkara ini dari Polsek Selatan untuk dilimpahkan ke Polresta Pontianak guna penanganan lebih lanjut,” jelasnya.

Sementara terhadap para terduga pelaku, kata Husni, saat ini belum dilakukan pemeriksaan karena pihaknya masih melengkapi saksi-saksi dan sedang berkoordinasi dengan Rumah Sakit untuk mengetahui rekam medis korban. “Untuk mengarah kepada tersangka, masih mengumpulkan keterangan para saksi,” katanya.

Husni menambahkan, sejauh ini dari keterangan korban maupun orang tua korban, tidak ada yang menyebutkan bahwa ada penganiayaan pada bagian alat vital korban. “Tidak ada keterangan dari korban terkait adanya penganiayaan di bagian alat vital,” pungkasnya. 

Sementara itu, Kanit PPA Polresta Pontianak, Iptu Inayatun Nurhasanah mengatakan, saat ini pihaknya masih menunggu hasil visum dan rekam medis dari rumah sakit tempat korban sekarang dirawat. Khusus untuk hasil visum, pihaknya sebetulnya sudah mengantonginya dari RS Bhayangkara.

“Namun karena korban ini dirawat di rumah sakit (umum), maka kami juga akan menunggu hasil visum dan rekam medis korban,” ungkapnya. Sayangnya, Inayatun menyatakan belum dapat membeberkan hasil visum yang dikeluarkan oleh RS Bhayangkara. (bar/sti)  

 

Berita Terkait