Kawasan Urban, Tempat Hidup Masa Depan

Kawasan Urban, Tempat Hidup Masa Depan

  Kamis, 14 July 2016 09:41   1

Oleh: Agung Budianto

KAWASAN urban diartikan sebagai daerah perkotaan dan sekitarnya sedangkan daerah rural lebih dikonotasikan sebagai daerah perdesaan. Undang UndangNomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang mendefinisikan kawasan perkotaan atau urban sebagai wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian. Sementara kawasan perdesaan atau rural di definisikan sebagai wilayah yang mempunyai kegiatan utama pertanian termasuk pengelolaan sumber daya alam. Selanjutnya klasifikasi perkotaan dan perdesaan di Indonesia telah diatur melalui Peraturan Kepala Badan Pusat Statistik Nomor 37 Tahun 2010.

Laporan World Cities Report 2016 mengungkapkan bahwa saat ini 54 % penduduk dunia tinggal di perkotaan melampaui jumlah penduduk yang tinggal di pedesaan.  Kontras dengan kondisi tahun 1950 di mana penduduk di perkotaan hanya sebesar 30 %.  Kecenderungan pergeseran penduduk ini terus meningkat dan diperkirakan pada tahun 2050 jumlah penduduk di perkotaan akan mencapai 66 %. Sementara itu di Indonesia,prosentase jumlah penduduk di daerah urban yang pada tahun 1990 sebesar  31 % meningkat tajam menjadi sebesar 53 % di tahun 2014.  Dan diramalkan pada tahun 2050 penduduk Indonesia yang tinggal di kawasan urban menjadi lebih dari 90 %.   

Penyebab pertambahan penduduk urban utamanya adalah urbanisasi. Faktor terjadinya urbanisasi menurut Khairuddin 1992 ada dua kriteria. Pertama adalah faktor pendorong yaitu semakin terbatasnya lapangan kerja di pedesaan,kemiskinan,sistem transportasi,tingginya upah buruh,serta meningkatnya kualitas sistem pendidikan.Kedua adalah faktor penarik yaitu kesempatan kerja yang lebih luas,diferensiasi pekerjaan dan pendidikan,ketersediaan barang kebutuhan,fasilitas rekreasi,serta kontrolsosial yang lebih longgar dibandingkan dengan di perdesaan.

Selama masih terdapat kesenjangan antara wilayah perkotaan dan perdesaan proses urbanisasi akan terus berlangsung. Bahkan perpindahan penduduk untuk mencari tempat penghidupan yang lebih baik juga terjadi lintas negara dengan berbagai alasan seperti karena desa kan politik (konflik),ekonomi,maupun karena tuntutan profesi.Tentu tidak dapat disangkal munculnya dampak negatif urbanisasi,seperti antara lain pertumbuhan penduduk perkotaan yang tinggi,perubahan struktur atau pola kehidupan sosial masyarakat,peningkatan daerah kumuh (slum) serta menjamurnya bangunan-bangunan liar (informal settlement), tantangan dalam penyediaan jasa pelayanan bagi penduduk perkotaan seperti,pendidikan,kesehatan,dan air bersih,ketimpangan atau ketidak setaraan (inequalitydanexclusion),ketidak amanan atau ketidak nyamanan (insecurity) karena faktor-faktor seperti,kriminalitas,penyebaran penyakit,target terorisme,polusi;serta isu yang tidak boleh diabaikan yaitu perubahan iklim (climate change).  

Namun dibalik segala  dampak tersebut, UN HABITAT 2016 yang melakukan pengamatan terhadap pertumbuhan dan perkembangan kawasan perkotaan di seluruh dunia selama lebih dari 20 tahun mengungkapkan bahwa“urbanisasi adalah sebuah kekuatan transformatif”,dengan mengacu pada fakta-fakta berikut:

·    Selama lebih dari dua dekade, perkotaan telah tumbuh sebagai platform perekonomian dunia untuk produksi,inovasi,dan perdagangan

·    Wilayah perkotaan menawarkan kesempatan yang signifikandi bidang ketenaga kerjaan baik disektor formal maupun informal yang mampu melahir kan jenis-jenis usaha baru (inovasi bisnis).

·    Urbanisasi telah menolong jutaan orang melepaskan diri dari perangkap kemiskinan melalui peningkatan produktifitas,kesempatan pekerjaan,peningkatan kualitas hidup,investasi disektor infra struktur dan pelayanan.

·    Kekuatan transformatif urbanisasi difasilitasi oleh pemanfaatan dan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.

Transformasi ekonomi

Kota dalam perkembangannya saat ini telah menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi sebuah negara.Beberapa kasus sebagai contoh menarik antara lain Dubai di Uni Emirat Arab serta Kota-kota di Tiongkok.  UniEmirat Arab (UEA) sebuah negara kaya minyak di kawasan timur tengah bertransformasi menjadi sebuah negara yang mengandalkan ekonominya dari sektor properti dan jasa untuk keluar dari perangkap “kutukan sumber daya alam” (oil curse).  Dubai yang  tadinya hanyalah hamparan padang pasir gersang telah disulap menjadi sebuah kota tempat gedung-gedung megah berdiri.Dubai telah menjadi daerah tujuan bagi investasi,para pelancong kaya raya,serta menjadi tempat berkumpulnya tenaga-tenaga professional dari seluruh penjuru dunia. 

Sementara itu Tiongkok,seperti yang diungkapkan oleh The Economist dalam terbitan Januari 2015 telah melakukan migrasi atau urbanisasi selama beberapa deka dete rakhir sehingga menyebabkan jumlah populasi penduduk di kawasan perkotaan di Tiongkok bertambah 500 juta jiwa.Sebuah pergerakan manusia terbesar sepanjang sejarah dalam periode waktu tertentu.Sehingga tidak mengherankan jika dari 30 megacity yang ada di dunia(jumlah penduduk lebih dari 10 juta jiwa),6 diantaranya berada di Tiongkok yaitu:Shanghai(23 juta), Beijing(19,5 juta),Chongqing(13 juta),Guangzhou(12 juta),Shenzen(11 juta) dan Tianjin(11 juta).Tiongkok menjadikan kota-kotanya sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi dan pusat inovasi nasional.

Rhenald Kasali,Pakar Manajemen Universitas Indonesia(2016)memandang apa yang telah dilakukan pemerintah Tiongkok tersebut dengan istilah“memutar balik cara berpikir” dalam menghadapi dan bersahabat dengan urbanisasi, dengan pertimbangan: 

·    Urbanisasi dipandang sebagai kesempatan besar untuk mengangkat derajat kaum miskin

·    Pembangunan menuntut skala ekonomis oleh karena itu penyebaran penduduk secara luas dalam komunitas-komunitas kecil akan menyebabkan banyak rakyat yang terabaikan dan termajinalkan

·    dengan memindahkan petani ke kota, Tiongkok berhasil membangun pertanian skala besar di desa-desa yang dilengkapi proses redistribusi lahan pertanian

·    semua orang di zaman ini membutuhkan kesempatan yang sama untuk mendapatkan kualitas pelayanan seperti pendidikan,kesehatan,air bersih termasuk jaringan internet untuk meningkatkan kualitas hidupnya. 

Kekuatan finansial 

Dubai dengan segala kemegahannya terus mengundang kekaguman dunia.Dalam rentang waktu tidak terlalu lama Dubai telah menjadi salah satu kota terbaik di dunia.Tentu dengan kekuatan finansial yang hampir tidak terbatas serta peran Sheikh Mohammed Bin Rashid, seorang  pemimpin negara yang sangat visioner, memungkinkan semua itu terjadi.  

Sementara itu Kota-kota besar di Tiongkok tumbuh dan berkembang seperti sekarang pada dasarnya merupakan warisan dari praktek perencanaan kota di masa lalu.Kota-kota tersebut dibangun melalui perencanaan terpusat dengan sistem komunisnya  yang meniadakan partisipasi masyarakat.Tom Miller, penulis Chinas’s Urban Billion sebagaimana di lansir The Economist menyatakan bahwa setiap aspek yang menyangkut aktivitas kehidupan kota diatur dan ditetapkan oleh pemerintah.Kota-kota tersebut memang pada awalnya dibangun sebagai daerah pusat produksi ketimbang sebagai pusat konsumsi, sehingga lebih menekankan pada pembangunan infrastruktur industri ketimbang mengembangkan infrastruktur perdagangan, jasa, ataupun komunitas.Dan kini kota-kota tersebut telah tumbuh menjadi kawasan yang dipenuhi gedung-gedung megah dengan peningkatan jumlah kendaraan sangat pesat yang jumlahnya telah melebihi  kapasitas ruas jalan yang ada. Kemacetan lalu lintas telah menjadi pemandangan yang wajar dan tingkat polusi udara kota-kota tersebut terbilang tinggi.

Apa yang dialami kota-kota di Tiongkok  menjadi gambaran kota-kota di negara berkembang,tidak terkecuali di Indonesia.Ibu Kota Jakarta yang pada masa kolonialisme Belanda pernah memiliki sistem transportasi publik yang ramah lingkungan dengan trem listriknya serta sungai yang dapat dilalui perahu/angkutan sungai telah berkembang menjadi kota metropolitan dengan gedung-gedung tingginya dan sayangnya penyediaan sistem transportasi publik yang nyaman untuk warganya seolah terabaikan. Seperti kota-kota di Tiongkok, jumlah kendaraan di Jakarta juga melebihi kapasitas ruas jalan sehingga menyebabkan kemacetan yang sangat parah menjadi keseharian yang dihadapi warganya.  Kemacetan yang bukan hanya berdampak pada kerugian ekonomi akibat menguapnya opportunity cost tapi juga berdampak pada aspek sosial seperti tingkat stress warga kota yang tentunya berimbas keaspek sosial lainnya.Sayangnya kondisi tersebut mulai dijumpai di kota-kota lainnya di Indonesia.  

 

Kekuatan komunitas

Jane Jacobs,penulis buku “The Death and Life of Great American Cities” semenjak tahun 1960an telah menekankan pentingnya partisipasi atau keterlibatan komunitas warga dalam pengembangan kota.Pedestrian atau trotoar menurut Jacobs hendaknya mampu dijadikan sebagai ruang publik tempat warga berinteraksi baik itu disengaja maupun tidak. Adanya interaksi tersebut akan menghidupkan suasana kota.Lebih lanjut, trotoar juga harus bisa berperan layaknya sebuah laboratorium tempat anak-anak belajar mengembangkan kehidupan sosialnya sebagai bagian dari sebuah komunitas.Sementara itu penyedian ruang terbuka atau taman kota seharusnya bukanlah berorientasi semata-mata pada jumlah taman yang dibangun.  Taman kota harus bisa dimanfaatkan untuk berbagai macam penggunaan.Ketika orang-orang datang ke taman kota sepanjang dan setiap hari dan bukan hanya pada saat akhir pekan atau hari libur atau hanya di jam makan siang  maka interaksi dinamis yang terjadi berpeluang untuk melahirkan ide-ide baru yang pada akhirnya akan menguntungkan pengembangan kota itu sendiri.Interaksi yang terjadi antara warga dengan berbagai macam latar belakang dan keahlian akan melahirkan bebagai macam inovasi.

Gagasan Jane jacobs lebih dari 40 tahun yang lalu,menjadi inspirasi Richard Florida.Di dalam bukunya “The Rise of Creative Class and it’s transforming work, leisure, community and every day life” (2002) yang didasari oleh penelitian terhadap kota-kota di Amerika Serikat,  Florida mengajukan sebuah kesimpulan yang saat itu dianggap cukup radikal “ekonomi global sedang memasuki era baru, Era Kreatif”.Keunggulan Kompetitif tumbuh dari kemampuan berinovasi yaitu kemampuan untuk mengembangkan teknologi baru dan model bisnis baru.  Oleh karena itu kota tidak lagi cukup hanya dengan membangun infrastruktur jalan, industri, jaringan air bersih,listrik dan sebagainya.Untuk mendorong inovasi dan aktivitas enterpreunership,kota harus membangun infrastruktur  untuk inovasi, termasuk fasilitas R&D, modal ventura, dan yang paling penting adalah menciptakan kenyamanan seperti dengan menyediakan jalur sepeda,ruang terbuka tempat berkumpul,hingga menyediakan arena live music (performance venue) , yang kesemuanya ditujukkan untuk menarik orang-orang kreatif (creative class) datang dan saling berinteraksi.  

Kesimpulan Florida senada dengan Charles Landry,penulis buku “The Art of City Making” 2006.  Menurutnya kota memliki aset yang tidak nampak (intangible), atau dikenal dengan istilah infrastruktur lunak (soft infrastructur),yang merupakan atmosfer atau lingkungan yang memungkinkan infrastruktur keras (hard infrastructure) berfungsi.  Walaupun demikian aset ini sering terabaikan karena sifatnya yang tak kasat seperti jaringan (network), koneksi, serta interaksi yang mendorong memungkinkan munculnya terobosan-terobosan.Infrastruktur keras pada hakikatnya bagaikan sebuah wadah dimana di dalamnya berisi Infrastruktur lunak yang berperan mendorong terjadinya nilai tambah (added value).Oleh karena itu penyediaan infrastruktur lunak ini sama pentingnya dengan infrastruktur keras.  

Jika Florida cenderung memfokuskan pada pemanfaatan modal kreatifitas dengan kaum kreatif (creatif class) sebagai motor penggeraknya,Landry lebih luas menegaskan bahwa kota memiliki tidak hanya modal finansial,tetapi juga modal SDM (human capital),modal sosial,modal budaya (cultural capital),modal intelektual,modal kreatifitas, modal kepemimpinan, serta modal lingkungan (environmental capital).Dengan memberdayakan modal-modal tersebut kota dapat tumbuh dan berkembang sedemikian rupa dengan kekhasanya masing-masing.Contohnya antara lain kota-kota seperti Austin,Pittsburgh,Copenhagen,Zurich,Stockholm,dan Vancouver yang tumbuh menjadi kota-kota yang nyaman,maju,serta modern dan sering di istilahkan sebagai kota kreatif. 

Kesimpulan 

Berdasarkan uraian diatas dapat kita simpulkan beberapa hal yaitu :

·    tren pergeseran penduduk dari daerah rural ke daerah urban atau dikenal dengan istilah urbanisasi merupakan keniscayaan 

·    urbanisasi selama beberapa dekade terakhir telah menjadi kekuatan transformatif bagi proses pemerataan ekonomi dan kesejahteraan penduduk. 

·    Sebagai konsekuensinya kota-kota tumbuh dan berkembang dengan mengemban tanggung jawab sebagai agen transformasi ekonomi untuk kawasan yang ditopangnya (negara,provinsi,atau kabupaten).

·    Di era desentraliasi dimana kekuatan finansial,otoritas,serta kewenangan politik sangat terbatas,pengembangan kota perlu mengoptimalkan segala modal yang ada di dalam kota itu sendiri serta perlu mengoptimalkan keterlibatan dan pertisipasi masyarakat (komunitas).

*) Kantor Litbang Prov. Kalbar