Kasus Penyelundupan Antimoni, Belum Ada Tersangka

Kasus Penyelundupan Antimoni, Belum Ada Tersangka

  Kamis, 10 January 2019 11:13
DIAMANKAN: Antimoni yang diangkut sebuah dumptruck dan berhasil diamankan tim gabungan TNI-Polri, yang sedang melaksanakan patroli gabungan pada 28 November 2018 lalu di perbatasan Badau. TNIAD.MIL.ID

Berita Terkait

PUTUSSIBAU – Hingga saat ini Bea Cukai Nanga Badau belum menetapkan tersangka atas kasus dugaan penyelundupan bahan tambang antimoni di perbatasan Indonesia-Malaysia, Kecamatan Badau pada akhir November 2018 lalu.

“Belum ada penetapan tersangka,” kata Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean C Nanga Badau Putu Alit, kepada Pontianak Post, kemarin (9/1) di Putussibau. Menurut Alit, hingga saat ini setidaknya sudah enam orang saksi diperiksa. Namun Alit enggan menyebutkan siapa saja yang diperiksa. “Sekitar enam saksi yang diperiksa,” paparnya.

Dugaan penyelundupan batu antimoni melalui jalur tidak resmi menuju Malaysia itu digagalkan tim gabungan TNI-Polri, yang sedang melaksanakan patroli gabungan pada 28 November 2018 lalu.

Terpisah, Ketua Serakop Uban Perbatasan (Sipat), Herkulana Sutomo Manna, meminta agar kasus itu segera dituntaskan. “Jangan ada perbedaan di mata hukum. Siapa pun yang terlibat dalam kasus itu harus diungkap, keadilan harus ditegakkan,” katanya.

Dikatakan Sutomo, dalam kasus dugaan penyelundupan itu, Bea Cukai harus menegakkan supremasi hukum, apabila ada oknum petugas dan aparat terlibat segera ditindak. Dia menduga ada keterlibatan oknum-oknum tertentu, namun yang selalu dijual dan dikorbankan adalah masyarakat kecil.

“Kita tidak ingin petugas tegas kepada masyarakat kecil dan kasus kecil, tetapi dalam kasus yang cukup besar itu justru hukum terlihat tumpul. Itu terbukti sudah hampir tiga bulan dalam kasus dugaan penyelundupan batu antimoni, belum juga ada tersangkanya,” tegas Sutomo.

Pria yang juga Ketua Presidium Pemekaran Kabupaten Banua Landak itu berharap kasus dugaan penyelundupan batu antimoni, segera menuju meja hijau. “Jangan hanya sopirnya yang ditangkap, tetapi pemilik dan pemodal batu antimoni itu juga harus ditangkap. Saya yakin petugas mengetahui hal tersebut. Karena itu bukanlah rahasia umum lagi,” ucap Sutomo.

Sebelumnya Komandan Batalyon Satgas Pamtas Yonif 320/Badak Putih, Letkol Inf. Imam Wicaksana mengungkapkan bahwa dalam penangkapan itu, tim gabungan mengamankan satu unit truk. Kendaraan yang dimaksud dia mengangkut bongkahan batu antimoni secara ilegal di jalan tidak resmi Desa Sebindang, Kecamatan Badau. 

Dijelaskan Imam, kendaraan jenis dumptruck itu ditangkap bersama sopirnya bernama Rinda Yudi (24), sekitar pukul 09.00 WIB. Penangkapan tersebut berlangsung ketika tim gabungan TNI Pamtas bersama Polres Kapuas Hulu melakukan patroli bersama di jalan tidak resmi.

Menurut Imam, batu antimoni itu berasal dari daerah Riam Menggelai, Kecamatan Boyan Tanjung. Hasil tambang tersebut, menurutnya, diangkut ke Putussibau untuk kemudian dibawa ke perbatasan dan seludupkan ke Malaysia. “Sopir itu mengambil batu antimoni ke Putussibau yang berasal dari Boyan Tanjung dengan upah Rp600 ribu,” jelas Imam.

Lebih lanjut Imam mengungkapkan bahwa truk mengangkut antimoni itu melintasi pos satpam perumahan perkebunan kelapa sawit, menuju jalan tidak resmi untuk bongkar muat di dekat perbatasan Indonesia-Malaysia. Pada pukul 09.50 WIB, sopir pengangkut batu antimoni ini bertemu dengan tim mereka yang sedang patroli. 

“Jadi sopir bersama truk berisikan bongkahan batu antimoni itu ditahan dan kepada sopir dilakukan pemeriksaan, yang kemudian akan diserahkan kepada pihak Bea Cukai Badau dan kasus tersebut masih dalam pengembangan,” ucap Imam. 

Disampaikan Imam, jumlah batu antimoni yang tertangkap itu kurang lebih 4,5 ton, dengan harga USD50 dolar perkilogram, dengan perkiraan kerugian negara sekitar USD225 ribu. 

Dijelaskan Imam, batu antimoni itu biasanya digunakan untuk membuat senjata ringan dan peluru peledak (tracer bullets), detektor inframerah, dan beberapa kegunaan lainnya. “Jadi antimoni itu banyak kegunaannya dan apabila itu disalahkangunakan, bukan hanya merugikan negara, namun sekaligus ancaman untuk negara,” kata Imam. (arf)

Berita Terkait