Kasus Gigitan Hewan Penular Rabies di Seberuang

Kasus Gigitan Hewan Penular Rabies di Seberuang

  Jumat, 8 June 2018 10:00
KIRIM KEPALA ANJING: Kepala anjing di kirim ke labaratorium Pontianak untuk mengetahui apakah anjing tertular rabies atau tidak. MUSTAAN/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Ada 63 Kasus, Tertinggi Dibanding Kecamatan Lain

Sejak terjadinya kasus gigitan menimpa tiga warga, akhir April lalu Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kapuas Hulu tak mau kecolongan. Kemudian dinas mengirim satu sampel kepala anjing tersebut ke tingkat Provinsi.

Mustaan, SEBERUANG

HINGGA kini memang sudah ada 63 kasus gigitan Hewan Penular Rabies (HPR) di Bumi Uncak Kapuas. Bahkan, kecamatan Seberuang menjadi wilayah yang paling banyak kasus gigitannya dibanding kecamatan lain, saat ini untuk Kecamatan Seberuang sudah ada 28 kasus gigitan. 

Pada tanggal 20 April lalu  ada tiga warga dari Dusun Keranyai Hilir Desa Rantai Kecamatan Seberuang digigit anjing bersamaan.  . 

“Dari hasil uji laboratorium Dinas Pangan, Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalbar, dinyatakan positif rabies anjingnya,” kata Marytiningsih Kabid Peternakan pada Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kapuas Hulu, Rabu (30/5).

Perempuan yang akrab disapa Ningsih ini mengatakan, meskipun hasil uji laboratorium menyatakan anjing yang menggigit warga Dusun Keranyai Hilir Desa Rantai tersebut positif rabies, korban gigitan anjing tersebut tidak terkena rabies karena saat digigit, mereka cepat melapor ke Puskesmas sehingga dapat dicegah penularannya dengan diberikan VAR. 

“Karena mereka (korban gigitan) ini sadar, ketika mereka digigit anjing langsung memeriksaan kesehatannya ke Puskesmas,” ucapnya. Lebih lanjut Ningsih mengatakan, untuk menindaklanjuti tingginya kasus gigitan HPR di Kecamatan Seberuang tersebut, pihaknya bersama Dinas Pangan, Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalbar akan melaksanakan sosialisasi dan vaksinasi di 15 desa yang ada di kecamatan tersebut.

“Dalam kegiatan itu kemungkinan dibagi empat tim,tentunya kami melibatkan Bhabinkamtibmas dan PPL setempat. kemudian tanggal 2 Juni melaksanakan sosialisasi Komunikasi Informasi dan Edukasi ke SDN 2 Sejiram desa Tanjau Mada,” jelasnya.  

Lanjut Ningsih, khusus Kecamatan Sejiram, kasus gigitan HPR sendiri dari tahun ke tahun memang terus meningkat. Hal ini dikarenakan lalu lintas HPR yang tak terkendali, karena daerah tersebut tak jauh dari berbatasan Kabupaten Sintang sehingga HPR yang melintas ini kurang pengawasan. 

“Soalnya anjing yang positif rabies itu ternyata berasal dari kabupaten Sintang.Y  Pemilik anjing itu sendiri yang mengatakannya," ucapnya. 

Agar kasus HPR ini tidak terus meningkat, ia sangat mengaharakan agar intruksi Bupati No 01 2015 tentang pengendalian rabies ini dapat dilaksanakan oleh seluruh Kepala Desa yang ada dengan membuat keputusan desa berkaitan dengan pengendalian rabies. 

“Hingga saat ini yang membuat keputusan desa itu hanya Desa Miau Merah dan Datah Dian.  Tapi mungkin masih ada desa lain yang mebuat keputusan desa itu, namun belum melapor ke kami,”pungkasnya. (*)

Berita Terkait