Karma, Jika Setting-an, Siap Disanksi

Karma, Jika Setting-an, Siap Disanksi

  Minggu, 29 April 2018 08:24

Berita Terkait

Karma, Reality Show Mistis yang Laris Manis 

Selama dua bulan terakhir, reality show Karma yang tayang di AnTV setiap malam konsisten masuk dalam jajaran program dengan rating tinggi. Berhasil menjadi satu-satunya reality show di tengah gempuran sinetron.

-- 

KARMA, yang dipandu host Robby Purba dan paranormal Roy Kiyoshi, sebenarnya menggabungkan beberapa karakteristik program televisi yang berpotensi ngehit di kalangan penonton. Ada cerita mistis atau supranatural, kisah dramatis, dan pesan religi. Ketiganya dikemas dalam bentuk reality show yang membuat pemirsa betah menonton selama dua jam. 

Produser eksekutif Karma, Gunarso, mengungkapkan bahwa ide tayangan stripping itu muncul pada akhir 2017. Dia tertarik pada acara Secret Number, reality show buatan Work Point Thailand. Di situ, paranormal Panathep Patthanaporn alias Riew membantu menyelesaikan masalah supranatural dan spiritual. Yakin tayangan itu bakal disuka, Gunarso membeli hak siarnya. 

’’Prosesnya cepet,’’ ungkap Gunarso saat ditemui di Brocast Studio Center (BSC) Cawang, Jakarta Timur, pekan lalu (20/4). Mulai Desember 2017, Karma tayang. Menurut Gunarso, show yang memiliki unsur mistis dan drama berpotensi laris di Indonesia. Itu bisa terjadi karena kecenderungan audiens Indonesia yang penasaran dengan hal-hal gaib dan cerita hidup orang lain alias kepo. 

’’Kalau keduanya digabungin, mayoritas penonton dapat hiburan dobel,’’ kata Gunarso. Sebagai langkah awal, timnya mencari sosok paranormal yang bagus. Tidak hanya punya kemampuan supranatural, tapi juga harus punya aura bintang. Terpilihlah Roy. 

Awalnya, Karma hanya ditayangkan setiap Minggu pukul 23.00 WIB. Ternyata, sambutan audiens sangat bagus. Rating yang semula berada di angka 2 mulai merangkak ke angka 3. Mulai Januari, Karma tayang Senin sampai Minggu pukul 22.15 WIB dengan durasi tayang setiap episode dua jam. ’’Awalnya cuma 90 menit,’’ kata Gunarso.

Hal yang penting di Karma adalah partisipan alias orang yang akan diterawang Roy. Di setiap akhir episode, host menjelaskan cara mendaftar menjadi partisipan. Dari situlah, muncul orang-orang yang punya kisah spiritual dan supranatural yang ingin diterawang. Misalnya merasa kena santet, mengalami azab, diganggu makhluk halus, dan mengalami perlakuan tidak menyenangkan. 

Calon partisipan dengan cerita menarik selanjutnya akan dikontak lagi untuk diwawancara secara mendalam. ’’Kalau oke, mereka tinggal diundang untuk ikut taping,’’ ucap Gunarso. Karena permintaan menjadi partisipan yang tinggi, hampir setiap hari ada proses seleksi di kantor AnTV di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. 

Saat taping, partisipan yang dipilih Roy menceritakan pengalamannya. Biasanya, proses itu berlangsung dramatis. Tak jarang, di tengah pengambilan gambar, terjadi hal aneh. Mulai kerasukan, muncul objek gaib, hingga serangan makhluk gaib. Hal-hal itu kemudian memancing cibiran publik bahwa Karma adalah acara setting-an. 

Tuduhan tersebut diperkuat dengan pernyataan beberapa orang yang mengaku mantan partisipan. Mulai honor belum dibayar hingga pengakuan bahwa mereka harus ikut casting. Gunarso tegas membantah bahwa acara itu di-setting. Menurut dia, terjadinya hal-hal yang di luar perkiraan justru membuktikan bahwa proses syuting alami. ’’Kalau kami ngarang, ya berlebihan lah,’’ katanya.

Ketika Pontianak Post menonton taping, memang tidak ada brifing untuk partisipan. Semua berjalan spontan sesuai dengan cerita partisipan dan penerawangan Roy. Kalaupun ada pengarahan, itu hanya dilakukan untuk mengatur blocking di panggung. Karena mendaftar atas kemauan sendiri, partisipan tidak diberi honor. Hanya uang pengganti ongkos transportasi. 

Sebagai program yang memuat unsur mistis dan cukup kontroversial, sudah pasti Karma dipantau Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Dewi Setyarini, komisioner KPI bidang pengawasan isi siaran, menyatakan, sejauh ini Karma masih taat aturan. ’’Memang terus dipantau sangat ketat supaya tidak timbul pelanggaran P3 dan SPS,” ujar Dewi. 

Dalam P3 dan SPS pasal 30 dijelaskan bahwa sebuah tayangan mistis tidak boleh menayangkan sejumlah hal. Misalnya mayat atau adegan memasukkan benda ke tubuh. Episode-episode dengan adegan mistis seperti kerasukan atau ritual harus dibatasi. Juga tidak boleh menayangkan adegan kengerian ekstrem. ’’Itu dari segi konten. Dari segi penayangan, mereka kami wajibkan menayangkan program antara pukul 10 malam sampai 3 pagi,’’ tambah Dewi.

Satu hal lagi, Dewi meminta Karma tidak menayangkan sesuatu yang merupakan rekayasa alias setting-an. Baik itu cerita dari partisipan maupun adegan-adegan yang ditayangkan. ’’Tayangan mistis tidak boleh jadi pembohongan publik,’’ tegas Dewi. Jika suatu saat tim produksi Karma diketahui melanggar hal-hal yang sudah dijabarkan KPI, mereka harus siap disanksi. (len/c17/na)

Berita Terkait