Karhutla di Mempawah Meluas, 200 Hektare Lahan Terbakar

Karhutla di Mempawah Meluas, 200 Hektare Lahan Terbakar

  Rabu, 27 March 2019 09:04
SULIT DIJANGKAU: Lokasi kebakaran di Desa Galang, Kecamatan Sungai Pinyuh yang sulit dijangkau membuat petugas harus berjalan kaki menuju titik api. WAHYU/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

MEMPAWAH - Kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kabupaten Mempawah semakin meluas. Bahkan, daerah pemukiman dan jalan raya pun ikut terancam. Hingga saat ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan pihak terkait lainnya terus berusaha keras memadamkan api.

Kepala BPBD Kabupaten Mempawah, Hermansyah membenarkan adanya peningkatan kasus karhutla di wilayahnya. Tercatat dalam rentang waktu 10-26 Maret 2019, BPBD Kabupaten Mempawah menemukan 12 titik api (hotspot) yang tersebar di lima kecamatan.

“Ada (titik api) di Kecamatan Mempawah Hilir, Mempawah Timur, Sungai Kunyit, Sungai Pinyuh dan Sadaniang,” ungkap Hermansyah, Selasa (26/3) siang. Dari 12 hotspot tersebut, imbuh Hermansyah, pihaknya memperkirakan kurang lebih 200 hektare lahan hangus terbakar. 

Lahan-lahan tersebut sebagian berstatus milik pribadi, perkebunan hingga hutan. Saat ini pihaknya masih terus berupaya melakukan penanggulangan bersama jajaran terkait lainnya. “Sebanyak 20 petugas BPBD kami kerahkan di sejumlah lokasi titik api. Kami juga dibantu personel TNI/Polri, Manggala Agni dan masyarakat di sekitar titik api. Semua saling membantu untuk mengatasi karhutla ini,” sebutnya.

Senada dengan itu, Kepala Bidang Penanggulangan Bencana, BPBD Kabupaten Mempawah, Didik Sudarmanto mengatakan, sebaran titik api di wilayah Kabupaten Mempawah semakin bertambah. Bahkan, belakangan ini hampir setiap hari pihaknya mendapatkan laporan adanya titik api.

“Kemarin petugas menerima laporan adanya hotspot di wilayah Tanjung Berkat dan Desa Pasir. Dengan sigap, petugas menuju ke lokasi dan mengatasi kebakaran. Untuk Desa Pasir dan Tanjung Berkat ini kebakaran sudah bisa langsung diatasi. Tanahnya mengandung mineral sehingga proses pembakaran berlangsung sempurna. Jadi, pemadamannya pun menjadi lebih mudah,” jelasnya.

Namun, imbuh Didik, pada beberapa lokasi seperti Desa Galang dan Sungai Rasau di Kecamatan Sungai Pinyuh, penyebaran api semakin meluas. Hal ini karena lokasi titik api yang sulit dijangkau.  Selain itu, faktor tanah gambut juga menjadi hambatan bagi petugas dalam melakukan pemadaman.

“Informasinya titik api yang berada di Desa Galang terus meluas hingga terlihat jelas dari pinggir jalan raya. Petugas kami sedang menuju ke lokasi untuk mengecek dan melakukan penanganan,” katanya.

Didik memastikan pihaknya mengerahkan segala daya dan upaya untuk mengatasi kasus karhutla di masyarakat. Termasuk berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Kalbar untuk melakukan water booming guna memadamkan hotspot tersebut.

“Untuk saat ini belum bisa dilakukan water booming. Soalnya pesawat yang biasanya beroperasi di Kalbar sedang digunakan untuk memadamkan hotspot di Sumatera. Makanya kita memaksimalkan peralatan dan petugas yang ada di lapangan untuk meminimalisir dampak kebakaran,” akunya.

Didik berharap ada kerjasama dan peran aktif seluruh elemen masyarakat dalam membantu pemda melakukan pencegahan dan penanggulangan karhutla. Salah satunya adalah dengan tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan dengan alasan apapun.

“Dalam berbagai kesempatan, kami selalu mengimbau masyarakat agar tidak membakar hutan dan lahan. Kalaupun terpaksa membakar, koordinasikan dengan petugas setempat agar kami bisa ikut memantau dan menjaga supaya apinya tidak meluas,” ujarnya.

Dari pantauan Pontianak Post, karhutla di wilayah Desa Galang, Kecamatan Sungai Pinyuh semakin memburuk. Kebakaran merambah lahan-lahan kosong dan mengarah pada jalan raya. Bahkan, saat ini kepulan asap tampak membumbung dari jarak kurang lebih 300 meter dari Jalan Raya Desa Galang.

BPBD Kabupaten Mempawah telah memetakan tujuh kecamatan dan 28 desa di Kabupaten Mempawah yang masuk dalam kategori rawan titik api. Kecamatan-kecamatan tersebut yakni Siantan, Segedong, Sungai Pinyuh, Anjongan, Mempawah Hilir, Mempawah Timur dan Sungai Kunyit. Sedangkan 28 desa itu antara lain Wajok Hilir dan Wajok Hulu, Peniti Besar, Peniti Dalam I dan Peniti Dalam II. 

Kemudian Purun Kecil, Nusapati, Galang, Sungai Rasau dan Sungai Bakau Besar Darat. Berikutnya Desa Anjongan Melancar, Anjongan Dalam, Kepayang, dan Dema. Desa lainnya yaitu Desa Pasir, Penibung, Sengkubang, Malikian, Antibar, Sejegi dan Parit Banjar. Potensi kebakaran di Sungai Kunyit misalnya terdapat di Desa Semudun, Semparong, Mendalok, Sui Kunyit Hulu, Sui Kunyit Dalam, Bukit Baru dan Sungai Duri II.(wah)

Berita Terkait