Karena Fee Narkoba, Rela Jadi Pengedar

Karena Fee Narkoba, Rela Jadi Pengedar

  Rabu, 2 January 2019 10:33
PEMAPARAN: Kapolres Sambas, AKBP Permadi Syahids Putra, SIK,MH memimpin konferensi pers terkait penanganan kasus di tahun 2018, didampingi Wakapolres, para Kabag dan Kasat.

Berita Terkait

SAMBAS - Peredaran Narkoba yang cukup meningkat, membuat prihatin sejumlah pihak. Dalam pengakuan di persidangan, sejumlah orang yang tersangkut kasus ini, mengaku berawal dari coba-coba. "Pertama awalnya mencoba, karena barang ini (narkoba) menjadi ketagihan, sehingga orang mau lepas akan susah," kata Ketua Pengadilan Negeri Sambas, Setyo Yoga Siswantoro SH MH.

Jika sudah ketagihan, narkoba harus ada. "Dari awalnya mencoba, kemudian menjadi ketagihan," katanya. Dalam sejumlah pengakuan terdakwa kasus narkoba di PN Sambas. Karena ketagihan, kemudian tak ada uang untuk membeli. Banyak diantaranya, terjerat dengan bandar, yakni asalkan mau menjual barang haram tersebut, akan mendapatkan fee berupa narkoba. "Karena sudah ketergantungan, sementara tak memiliki duit untuk beli, kemudian mereka mau mengedarkan atau menjadi perantara narkoba yang nantinya mendapatkan fee narkoba," katanya.

Namun, diantaranya banyak juga yang mengaku berniat untuk jual beli dikarenakan keuntungannya cukup menggiurkan. "Ada memang yang jual beli," katanya. KPN Sambas pun mengakui, hingga saat ini. Pihaknya belum pernah menangani kasus dengan bandar besar. "Dalam penanganan, selama ini pengedar sama pemakai, dan untuk bandar pun baru kelas kecil," katanya.

Bukan saja (terdakwa kasus narkoba di PN Sambas) adalah warga Kabupaten Sambas. Namun diantaranya dari Pontianak, kemudian Singkawang. "Kalau dari data kami, untuk di Sambas, kasus yang tinggi terungkap dan ditangani di PN Sambas dari Sambas, Paloh, Tebas dan Jawai," katanya.

Sementara untuk angka cabul. Kasus yang disidangkan di PN Sambas, juga cukup tinggi. "Dari sejumlah pengakuan para pelaku yang disidangkan, diantaranya berawal dari pacaran, kemudian terjadilah perbuatan tersebut. Ada juga memang orang dewasa yang karena nafsu, ada juga yang kelainan karena sudah tua suka dengan anak kecil atau pedofil," katanya. Dan untuk yang kasus pedofil, biasanya pelaku ini sudah akrab atau kenal dengan korban. Jadi dia sebenarnya akrab antara pelaku dengan korban, bahkan tak jarang anak ini sering main ke rumah pelaku tapi orang tua korban sering tidak merasa curiga. "Dan yang paling itu, karena pengaruh menonton dan mengakses situs porno. Karena pengaruh itu, mereka akhirnya ingin mempraktekkan," katanya.

Sementara itu, Kapolres Sambas, AKBP Permadi Syahids Putra SIK MH dalam pers rilis pengungkapan kasus, kejahatan Narkoba menduduki peringkat pertama di Kabupaten Sambas pada 2018. “Kasus dominan di Kabupaten Sambas adalah narkoba. Di 2018, ada 39 kasus yang selesai ditangani Polres Sambas. Jumlah ini meningkat dibandingkan 2017, yakni 30 yang selesai ditangani,” kata Kapolres Sambas.

Peningkatan juga terjadi pada kasus  trans Nasional ada 43 kasus yang selesai ditangani pada tahun 2018. “Kasus trans nasional cukup signifikan, di 2018 ada 43 kasus, sementara 2017 tak ada kasus. Kasus ini seperti Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), dan pengungkapan ini menjadi bukti jika Polres Sambas proaktif,” katanya.

Lalu kasus Laka Lantas di Kabupaten Sambas?, juga mengalami peningkatan. Pada 2017 ada 58 kasus meningkatkan menjadi 73 kasus di 2018. “Peningkatan laka lantas lebih karena adanya penambahan jumlah kendaraan, sedangkan ruas jalan tetap dan kondisi jalan sudah bagus,” katanya. Bagaimana dengan kasus pencabulan. Dari data Polres Sambas, ada penurunan jumlah. Pada 2017 ada 46 kasus yang berhasil ditangani dan pada 2018 menjadi 41 kasus yang selesai ditangani. “Kami di Polres juga sudah melakukan langkah-langkah dalam pencegahan angka pencabulan. Mulai dari sosialisasi, imbauan kepada masyarakat terutama para orang tua, untuk menjaga anak-anaknya,” katanya.(fah)

Berita Terkait