Kapal Asing Angkut Batubara Terbakar, Dua Tewas dan Solar Tumpah

Kapal Asing Angkut Batubara Terbakar, Dua Tewas dan Solar Tumpah

  Minggu, 1 April 2018 07:00
LAUTAN API: Kebakaran besar terjadi di kawasan Teluk Balikpapan sekitar pukul 11.00 Wita, juga menimpa sebuah kapal kargo batubara, Sabtu (31/3). PAKSI/KP

Berita Terkait

JAKARTA— Sebuah kapal asing diduga bermuatan batu bara terbakar di perairan Teluk Balikpapan kemarin. Dua orang tewas akibat kejadian tersebut dan tumpahan solar menggenang beberapa puluh meter. Yang mengkhawatirkan, kapal yang terbakar itu berdekatan dengan Kilang Minyak PT Pertamina Refinery Unit V, Balikpapan. 

Informasi yang diterima Pontianak Post, sekitar pukul 04.00 terdapat tumpahan solar yang di perairan Teluk Balikpapan, tumpahan minyak itu cukup pekat. Tidak berapa lama, tampak sebuah kapal terbakar. 

Awalnya, kapal itu diduga mengangkut solar. Namun, belakangan diketahui kapal itu milik asing yang sedang mengangkut batu bara. Selain kapal yang terbakar, karena tumpahan solar itu api juga menjalar di permukaan laut. 

Radius tumpahan solar diprediksi sekitar 300 meter. Tindakan sementara, diupayakan pemutusan pelebaran tumpahan solar dengan kapal milik PT Pelindo. Untuk korban jiwa, sementara ini diduga ada dua orang yang meninggal dunia. 

Belum diketahui, identitas kedua korban. Namun, kemungkinan merupakan awak kapal yang terbakar tersebut. Kapolres Balikpapan AKBP Wiwin Firta menuturkan, proses pemadaman api dilakukan hampir satu hari. ”Sore baru padam, apalagi di lokasi hujan turun,” terangnya. 

Untuk penyebab dan titik awal api, dia menjelaskan bahwa penyidik masih berupaya untuk mendalaminya. ”Ada kemungkinan berasal dari kapal atau lainnya. Tapi, belum pasti,” ungkapnya. 

Terkait identitas dari korban juga belum diketahui. Petugas masih berupaya melakukan otopsi dan identifikasi identitas. ”Belum,” ujarnya kemarin sore (31/3).

Sementara itu, Pertamina telah menguji sampel minyak yang tumpah di perairan Teluk Balikpapan. Sampel tersebut diambil dari dua titik yang berbeda, yakni di dekat Pelabuhan Semayang dan kampung atas air di Kelurahan Magersari. Hasilnya, ditemukan bahwa minyak yang tumpah adalah bahan bakar kapal atau marine fuel oil (MFO). Belum diketahui MFO yang berceceran itu berasal dari mana.

Manager Regional Komunikasi dan CSR PT Pertamina Kalimantan Yudi Nugraha mengatakan, MFO yang berceceran itu bukan merupakan hasil produksi dari kilang milik Pertamina di Balikpapan. “Jalur transportasi di perairan itu juga bukan merupakan jalur pengangkutan MFO buat Pertamina. Yang kami angkut dan lewat di jalur itu adalah crude oil (minyak mentah),” ujarnya.

Kejadian ini tidak berpengaruh terhadap operasional Kilang Balikpapan. Terminal BBM dan Depot LPG di Balikpapan juga tetap beroperasi normal menyalurkan bahan bakar untuk masyarakat. Tidak ada kebocoran pada seluruh instalasi Pertamina yang melintasi Teluk Balikpapan. Pipa bawah laut Pertamina dari Terminal Lawe-Lawe juga masih menyalurkan minyak mentah ke Kilang Balikpapan, meski lokasi pipa berada jauh dari titik kebakaran.

Hingga berita ini ditulis, Pertamina masih dalam proses menyerap MFO yang berceceran itu dari perairan Teluk Balikpapan. Selain itu, Pertamina juga menetralisir MFO yang tumpah agar minyak tersebut tidak menimbulkan risiko dan lebih aman bagi kehidupan organic di perairan tersebut.

Yudi menambahkan, kapal yang meledak di perairan tersebut adalah kapal pengangkut batu bara bernama Ever Judger. 20 awak kapal dievakuasi dari kapal tersebut karena luka bakar. Ke-20 awak kapal itu merupakan warga Negara Tiongkok. Sementara, dua orang nelayan dari Penajam Paser Utara tewas karena terjebak dalam kebakaran. Pihak Pertamina menduga, kebakaran ditimbulkan oleh percikan api dari puntung rokok yang dibuang oleh nelayan.

“Memang di dekat situ lagi ada kapal tanker, tapi yang terbakar itu bukan kapal tanker, melainkan kapal batu bara. Kapal nelayan di situ terbakar dan terkepung asap,” ucap Yudi.

Mengenai pertanggungjawaban terhadap korban, Pertamina masih menunggu hasil investigasi yang dilakukan oleh pihak berwajib. Sebab Pertamina yakin MFO yang tercecer itu bukan milik perseroan. “Tapi karena itu produk minyak, kami tetap membantu membersihkannya dari wilayah perairan. Kami juga membantu pemadaman kebakaran itu,” terangnya. 

Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Balikpapan Sanggam Marihot menjelaskan bahwa tumpahnya solar di sekitar Pelabuhan Semayang masih dalam penyelidikan. Menurut Sanggam, tumpahan minyak mampu diisolasi tak lama setelah ditemukan pada kemarin pukul 04.00 WITA. ”Kami langsung mengambil tindakan dan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mengisolasi tumpahan minyak tersebut agar tumpahannya tidak meluas,” ujar Sanggam.

 Sanggam menjelaskan jika kejadiannya berada di kolam pelabuhan. Tumpahan minyak menyebar sekitar 300 meter dari pelabuhan. Lebih lanjut, Sanggam mengatakan bahwa lima unit kapal pandu dari PT. Pelindo IV melakukan pemutusan jalur solar yang tumpah di laut dengan cara berputar putar di radius 200 meter. Hingga berita ini ditulis, pihak pelabuhan masih melakukan penyisiran da pengisolasian tumpahan minyak.

Sementara pada waktu yang hampir bersamaan juga terjadi kebakaran tali pengikat dan Inflatable Life Raft (ILR) yang terjadi di atas kapal MV. Ever Judger. Kapal berbendera Panama tersebut bermuatan batubara.

Sanggam mengatakan bukan kapal tankernya yang terbakar melainkan tali pengikat dan peralatan kapal yang terbakar sehingga menimbulkan asap hitam tebal. ”Api sudah berhasil dipadamkan pada pukul 12.30 WITA dan tidak ada korban jiwa atas peristiwa kebakaran tersebut,” ujar Sanggam. (idr/rin/lyn)

Berita Terkait