Kalbar Kutuk Teror di Selandia Baru

Kalbar Kutuk Teror di Selandia Baru

  Sabtu, 16 March 2019 10:27
AKSI TEROR: Petugas medis membawa korban penembakan di sebuah masjid di Christchurch, Selandia Baru, Jumat (15/3). Foto kanan, salah seorang teroris pelaku penembakan yang menewaskan sedikitnya 49 orang. AFP

Berita Terkait

Dua WNI Luka Tembak, Tiga Kabur, Satu Hilang Kontak 

Kasus penembakan massal di Masjid Al Noor, Christchurch, Selandia Baru, kemarin memantik kemarahan warga di berbagai belahan dunia, tak terkecuali di Kalbar. Para pelaku teror harus dihukum berat. 

-----

DALAM laporan terakhir, sedikitnya 49 orang tewas dan puluhan lainnya terluka dalam insiden itu. Penembakan massal ini dianggap sebagai tragedi paling buruk yang pernah terjadi di Selandia Baru. Pelaku juga menayangkan video penembakan itu melalui Facebook-nya.  

Menurut laporan Reuters, video yang beredar di sosial media, yang diunggah pelaku dalam siaran langsung online, menunjukkan dirinya mengendarai mobil ke salah satu masjid, masuk ke dalam dan menembak acak orang-orang di dalam.

Dalam video juga terlihat para jemaah yang terluka maupun tewas terkapar di lantai. Namun, sejauh ini Reuters belum memverifikasi keaslian video tersebut. 

Ustaz Miftah, anggota DPRD Kalbar mengaku geram dan mengutuk keras pelaku penembakan tersebut.  "Kalbar jelas sangat mengutuk tindakan penembakan ini, khususnya di tempat ibadah saat salat Jumat," ungkapnya, Jumat(15/3). Miftah juga mengajak umat Islam di Kalbar untuk ikut mendoakan korban dan umat Islam di Selandia Baru.

Ia menduga aksi ini merupakan tindakan yang terorganisir. ”Upayanya terorganisir, direncanakan dengan baik. Ada kamera sendiri, live streaming segala. Sepertinya ini tindakan tidak masuk akal, tetapi sengaja dilakukan pelaku," ucapnya.

Politisi PPP Kalbar ini mengaku terkejut, prihatin sekaligus sedih atas kejadian penembakan brutal umat muslim di masjid tersebut. Apalagi selama ini Selandia Baru dikenal sebagai negara aman, tentram dan tidak pernah diterpa isu rasisme dan terorisme seperti ini. 

“Selama ini, Selandia Baru negara aman, tentram bagi siapapun. Beberapa kawan di DPRD Kalbar bahkan pernah salat di masjid di sana. Warga Selandia Baru welcome dan sangat terbuka. Pemerintah dan masyarakat di sana juga tidak pernah terdengar cerita diskriminatif segala," ucapnya.

Dia pun berharap beberapa warga negara Indonesia (WNI) yang kabarnya berada di dalam masjid saat penembakan terjadi semuanya selamat. Miftah juga mendesak aparat hukum di Selandia Baru dapat memberikan hukuman setimpal kepada pelaku. 

Berdasarkan beberapa survei, Selandia Baru yang biasa disebut dengan Negeri Kiwi memang dianggap sebagai salah satu negara teraman. Di Tahun 2017, Selandia Baru merupakan negara paling aman peringkat kedua dunia versi Global Peace Index dari badan riset dan organisasi kedamaian, Vision of Humanity.

Institute for Economics and Peace (IEP) juga sebelumnya menyematkan Selandia Baru sebagai negara teraman nomor empat di dunia di tahun 2015. Penilaian dilihat dari faktor tingkat kriminalitas, kasus teroris, impor senjata, politik sampai tingkat hunian penjara. International Womens Travel Center juga menilai Selandia Baru sebagai salah satu negara paling aman untuk dikunjungi wisatawan wanita. 

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi memaparkan, di Kota Christchurch ada sekitar 344 WNI. Sebanyak 130 di antaranya adalah pelajar. ’’Mendengar ada insiden penembakan tersebut, KBRI menerjunkan tim protokol konsuler,’’ jelasnya. Dia berharap bisa segera mengontak tiga WNI yang berada di dalam Masjid Al Noor ketika teror penembakan terjadi.

Koordinator Fungsi Penerangan Sosial, Budaya, dan Pendidikan Kedubes RI Wellington Adek Triana Yudhaswari menuturkan, pihaknya terus berkomunikasi dengan kepolisian Selandia Baru, Persatuan Pelajar Indonesia (PPI), serta komunitas warga Indonesia lainnya di Christchurch. Adek juga mengimbau WNI agar selalu waspada dan berhati-hati. ”Bila ada informasi terkait penembakan itu, WNI bisa langsung menghubungi KBRI Wellington,” ucap Triana saat dihubungi tadi malam. 

Dia menambahkan, polisi melakukan pengamanan di sejumlah lokasi pusat kegiatan Islam di Christchurch. ”Masyarakat juga diimbau tetap tinggal di rumah,” jelasnya.

Menurut Triana, saat itu ada enam WNI di Masjid Al Noor, Christchurch. Dua orang mengalami luka tembak. ”Ayah dan anak. Nama ayah Zulfirman Syah,” katanya. Sementara itu, tiga orang lainnya berhasil kabur dan selamat serta seorang lagi masih hilang kontak. 

Di sisi lain, Dubes RI untuk Selandia Baru Tantowi Yahya mengatakan, KBRI masih berupaya menghubungi WNI di sana satu per satu. Komunikasi dengan polisi terus dilakukan untuk memantau perkembangan situasi. ”Status lockdown sudah dicabut enam jam lalu (pukul 18.00 waktu setempat, Red). Namun, suasana kota masih sepi dan tegang,” terangnya.

Presiden Joko Widodo mengecam aksi brutal itu. ’’Terlepas siapa pelakunya, kita sangat mengecam keras aksi ini,’’ ujarnya di sela-sela kunjungan kerja di Sumatera Utara kemarin (15/3). Jokowi juga menyampaikan dukacita kepada keluarga korban. Dia menegaskan, pemerintah akan mendampingi WNI yang menjadi korban. Saat ini tim perlindungan WNI sudah mengawal kasus tersebut. Kepada semua WNI yang berada di Selandia Baru, Jokowi mengimbau mereka agar meningkatkan kewaspadaan. 

Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla (JK) juga menyampaikan kesedihan atas peristiwa brutal itu. Dia mengutuk aksi keji yang bertepatan dengan waktu salat Jumat tersebut. Menurut JK, selama ini Selandia Baru adalah negara aman. Dia sudah dua kali melaksanakan salat di masjid Selandia Baru. Menurut dia, masjid di sana sangat baik dan terbuka. Baik pemerintahan maupun masyarakatnya, tidak ada unsur diskriminasi. ’’Masjid di sana ada di mana-mana,’’ ujarnya.

JK menceritakan, pada Januari 2019 dirinya berkunjung ke Selandia Baru. Paspampres meminta izin untuk membawa senjata. Tetapi, tidak diizinkan. Sebab, ada jaminan bahwa Wapres aman melaksanakan kegiatan di Selandia Baru. ’’Ya Paspampres ke sana tidak bawa apa-apa,’’ jelas JK. 

Sementara itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengeluarkan surat imbauan kepada masyarakat untuk tidak menyebarluaskan foto, gambar, atau video yang berkaitan dengan penembakan brutal di Selandia Baru. Plt Kabiro Humas Kominfo Ferdinandus Setu menegaskan bahwa konten video yang mengandung aksi kekerasan melanggar Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Nando –sapaan Ferdinandus Setu– mengatakan, Kominfo terus memantau dan mencari situs maupun akun dengan menggunakan mesin AIS dua jam sekali. Kominfo juga bekerja sama dengan Polri untuk menelusuri akun-akun yang menyebarkan konten negatif berupa aksi kekerasan. Nando berharap masyarakat melapor ke website aduankonten.id atau akun Twitter @aduankonten jika menemukan konten dalam situs atau media sosial mengenai aksi kekerasan atau penembakan brutal di Selandia Baru. (den/han/far/wan/tau/c7/oni)

Berita Terkait