Kalbar Harus Bebas Rabies

Kalbar Harus Bebas Rabies

  Rabu, 23 March 2016 10:10
Michael Yan

Berita Terkait

KOMISI II DPRD Kalbar akan memanggil Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kalimantan Barat terkait munculnya sebaran virus rabies kepada sebelas warga dari Kecamatan Teriak, Kabupaten Bengkayang akibat menjadi korban gigitan anjing liar. 

“Sangat perlu sekali melakukan rapat kerja, agar kami bisa menyusun program strategis pemberantasan rabies. Apalagi beberapa tahun belakangan Kalbar dikenal daerah tanpa rabies. Sayangnya beberapa waktu belakangan dari Melawi, Ketapang hingga terakhir di Bengkayang muncul rabies akibat gigitan anjing liar,” ucap Michael Yan Sriwidodo, Ketua Komisi II DPRD Kalbar, Senin (21/3) di Pontianak  

Menurutnya virus rabies berkaitan erat dari pembawaan binatang berkaki empat alias anjing. Di satu sisi tidak sedikit masyarakat, terutama di daerah pedalaman memanfaatkan tenaga dan kecerdikan anjing untuk membantu beragam kegiatan. Kepentingnya mulai dari keperluan berburu, menjaga rumah, atau mencegah hal-hal tidak diinginkan. ”Anjing bisa menyalak keras dan dapat diandalkan,” ucapnya.

Hanya, lanjutnya, Kalbar selama ini dikenal sebagai daerah yang bebas rabies. Selama puluhan tahun tidak ada lagi endemik rabies dari gigitan anjing. Dinas teknis tingkat provinsi dan kabupaten/kota selalu melakukan evaluasi, apabila ada kejadian di daerah. Makanya ketika tiba-tiba muncul, dipastikan datangnya bukan dari Kalbar. 
”Tetapi dari luar, yang kemudian terinfeksi anjing Kalbar. Selama ini juga bukan hanya anjing ternak lainnya juga dipatuhi sangat keras dilarang masuk Kalbar tanpa penjagaan sangat ketat,” ungkap dia.

Politisi Nasdem ini melanjutkan bahwa Kalbar harus terus diasumsikan bebas dari rabies. Kasus di Kecamatan Teriak, Kabupaten Bengkayang wajib ditangani prosedural dan tuntas sampai ke akar-akarnya. Anjing penyebab rabies harus diketemukan kemudian dimusnahkan. Dinas teknis bersama elemen warga setempat harus saling bekerja sama. ”Tujuannya untuk melokalisir. Jangan sampai anjing-anjing rabies kemudian masuk ke kabupaten tetangga dan menyebabkan sebaran virus tersebut,” ungkapnya.

Di sisi lain, Michael juga meminta disamping anjing menjadi objek pengetasan virus rabies, masyarakatnya juga harus diajarkan bagaimana mengenal anjing gila. Hendaknya dinas teknis harus terus melakukan sosialisasi pencegahan termasuk penanganan apabila sudah digigit anjing tabies. ”Intinya harus kerjasama semua komponen,” ucap dia.(den)

Berita Terkait