Kalau Kami Tak Bertengkar, Malah Membosankan

Kalau Kami Tak Bertengkar, Malah Membosankan

  Jumat, 25 January 2019 09:53
KOMPAK: Gabriela Stoeva/Stefabi Stoeva usai bertanding melawan Greysia/Apriyani pada ajang Indonesia Masters 2019 di Istora Senayan. CANDRA SATWIKA/JAWAPOS

Berita Terkait

Cerita Gabriela-Stefani Stoeva, Duet Kakak Beradik Menembus

Persaingan Badminton Dunia

Gabriela-Stefani Stoeva masuk klasifikasi langka di badminton: ganda kakak-adik dan berprestasi dunia. Rela meninggalkan Bulgaria dan berlatih di Prancis demi mimpi medali di Olimpiade. 

RAGIL P. IRMALIA-NURIS A. PRASTIYO, JAKARTA

KELELAHAN masih jelas tergurat di wajah keduanya. Keringat juga deras mengucur. Namun, keramahan mereka tak luntur sedikit pun.

Satu per satu permintaan berfoto dari sebagian penonton Indonesia Masters di Istora Senayan, Jakarta, dilayani. Serbuan pertanyaan dari media juga mereka ladeni dengan ramah.

Padahal, kemarin adalah hari yang sulit bagi Gabriela-Stefani Stoeva. Laju ganda putri asal Bulgaria itu terhenti pada babak pertama. Mereka kalah dari duet andalan tuan rumah, Greysia Polii/Apriyani Rahayu, dalam dua game langsung. 

’’Bukan performa terbaik kami. Selanjutnya, kami akan berusaha lebih keras dan belajar dari pengalaman ini,’’ tutur Stefani di mixed zone.

Ganda kakak beradik di bulu tangkis termasuk sangat langka di arena badminton. Apalagi yang bisa berprestasi di arena internasional. 

Ganda campuran Indonesia, Markis Kido-Pia Zebadiah, termasuk yang memenuhi kualifikasi itu. Namun, prestasi terbaik mereka, peringkat ke-10 dunia, terakhir tercatat enam tahun lalu.

Gabriela-Stefani kini menduduki peringkat ke-9 dunia. Tapi, di Eropa mereka nomor 1. Tahun lalu mereka sukses merebut emas ganda putri Kejuaraan Eropa. Juga, menjadi runner-up Prancis Terbuka Super 750.

Raihan itu terbilang mengagumkan mengingat keduanya berasal dari Bulgaria, negeri yang ’’asing’’ dengan bulu tangkis. Dari segi popularitas, jauh di bawah sepak bola, gulat, atau menembak.

Dengan usia yang hanya terpaut setahun, kekompakan yang terbangun dari chemistry sebagai saudara kandung menjadi salah satu kunci kekuatan mereka. Misalnya, yang terlihat ketika keduanya menjawab pertanyaan awak media. 

Seolah sudah saling tahu jawaban masing-masing. Saling mengisi dan klop. Tapi, jangan beranggapan mereka tak pernah bertengkar.

’’Wah, kami bertengkar dalam segala hal. Itu hal yang normal kok,’’ kata Stefani yang lahir di Galabova, 23 September 1995. 

Menurut dia, ibarat makanan, pertengkaran itu seperti bumbu. ’’Malah akan sangat membosankan kalau tidak bertengkar, hehehe,’’ canda Stefani.

Kalau si adik lahir di Galabova, Gabriela lahir di Haskovo pada 15 Juli 1994. Keluarga mereka tinggal di Haskovo. 

Kakak beradik itu mulai bermain bulu tangkis ketika bersekolah di Haskovo School Club. Saat itu Gabriela baru berusia 10 tahun dan Stefani 9 tahun.

Kebetulan, ada lapangan bulu tangkis di dekat rumah mereka. ’’Saat masih kecil, kami hanya ingin bermain dengan teman-teman. Ya, sekadar bersenang-senang,’’ kenang Stefani.

Eh, ternyata keterusan. Setahun berselang, mereka sama-sama masuk timnas Bulgaria. Pada 2009, mereka memulai debut internasional. ’’Awalnya memang hobi, mengisi waktu luang setelah pulang sekolah. Lalu, jadi tambah serius sampai bisa seperti ini,’’ ungkap Gabriela yang berambut pirang menimpali.

Karena fasilitas bulu tangkis di Bulgaria tidak mencukupi, dua bersaudara itu berlatih di Prancis. Mereka tinggal di Paris sejak 2017. Mereka juga sempat mendapat pengalaman berlatih di Klub Jaya Raya. 

’’Kami pulang ke Bulgaria saat mengunjungi orang tua di rumah atau ketika tidak ada jadwal turnamen. Semua fasilitas dan pelatih ada di sana (Paris),’’ jelas Gabriela yang pernah menjalin kedekatan dengan pemain ganda putra andalan Indonesia Marcus Fernaldi Gideon.

Sebagai pemain profesional, hari-hari mereka pun dihabiskan untuk mengikuti turnamen demi turnamen. Dari satu negara ke negara lain. Tapi, tiap kali ada waktu luang, mereka akan menyeriusi ’’olahraga’’ mereka lainnya: e-sport.

Mereka terlihat sering memainkan salah satu game yang populer saat ini, PUBG. ’’Ya, kami pemain PUBG full time,’’ ujar Gabriela antusias. Stefani pun tertawa keras mendengarnya.

Mereka menyukai game tersebut sejak tahun lalu. Sekitar Juni. Saat itu, ketika mengikuti Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis, mereka kalah pada babak 16 besar. Mereka marah karena tampil buruk.

Keduanya pun membutuhkan pelampiasan. ’’PUBG adalah game yang membuat kami bisa rileks. Menyenangkan bisa melakukan sesuatu di luar badminton,’’ tutur Stefani.

Namun, e-sport hanyalah hobi. Tak akan mendorong keduanya menjadi pemain profesional. ’’Tidak, tidak, tidak. Ini tidak untuk diseriusi,’’ tegasnya. 

Konsentrasi utama mereka tetap ke bulu tangkis. Apalagi, ada sederet target yang mereka bidik pada 2019. Salah satunya mempertahankan gelar di Kejuaraan Eropa yang berlangsung Juni nanti di Minsk, Belarusia.

Selain itu, yang lebih penting adalah memburu poin agar bisa tampil di Olimpiade 2020 di Tokyo, Jepang. Di Olimpiade sebelumnya di Rio de Janeiro, Brasil, mereka tersisih di fase grup.

’’Olimpiade adalah mimpi kami. Kami akan berjuang keras untuk bisa mendapat medali di sana,’’ kata Gabriela.

Pasti akan ’’berdarah-darah’’ untuk bisa mewujudkan target tersebut. Persaingan di ganda putri dunia begitu ketat. Namun, Gabriela dan Stefani tak akan pernah lupa semangat awal yang membawa mereka menekuni badminton: untuk bersenang-senang bersama kawan-kawan.

Jadi, kalah-menang tak akan sampai melunturkan keramahan mereka. Misalnya, yang mereka tunjukkan di Istora kemarin. Yang membuat mereka mendapat banyak kawan. Disambut meriah saat melintasi mixed zone. 

’’Selalu menyenangkan bermain di sini. Penontonnya begitu antusias,’’ kata Gabriela. (*/c5/ttg) 

Berita Terkait