Kalau Handphone Berdering, Ada yang Mau Beli Rumput

Kalau Handphone Berdering, Ada yang Mau Beli Rumput

  Selasa, 22 March 2016 09:09
BERKAH:Warga di Jalan Petani menanam rumput hias di halaman rumah mereka. HARYADI/PONTIANAKPOST

Geliat Budidaya Rumput Hias di Pekarangan Rumah 

Ibarat lantai alam, membentang di atas tanah emperan pekarangan. Campuran daur lumpur dan kotoran hewan, disulap menjadi komoditi rumput gajah permadani. Budidaya ini bukan saja alternatif tambahan ekonomi, bahkan ada yang bisa naik haji.

AGUS PUJIANTO, Pontianak

HARI baru beranjak siang. Di sebuah pekarangan rumah, tampak sosok perempuan paro baya mengenakan caping bambu sibuk. Tanpa alas kaki, langkahnya maju mundur. Kedua tangannya menggenggam gagang terbuat dari balokan kayu, yang ujungnya sudah di paku, menyerupai segitiga. 

Perlahan, cairan berwarna hitam kecoklatan itu disorong maju mundur, hingga rata ke seluruh bagian. Gundukan lumpur itupun rata, bau kotoran sapi menyeruak, hingga menelusup ke pernapasan.

“Ini kotoran sapi campur lumpur. Sebelum tanam rumput, dikasih ini dulu, biar subur,” kata Narimah. Perempuan 70 tahun itu sesekali menyeka keringat di dahinya. Sementara kedua tangannya masih sibuk meratakan seluruh lumpur ke lapisan tanah. Bau semerbak kotoran seakan tak lagi dia indahkan.

Narimah, satu diantara puluhan ibu rumah tangga pembudidaya rumput gajah mini di Jalan Petani, Pontianak. Pekerjaan ini, sudah dilakoni puluhan tahun. Memanfaatkan pekarangan rumah, menanam rumput hias ini dinilai lebih menguntungkan secara ekonomis, dibandingkan palawija.

Memanfaatkan luas halaman 600 meter, Narimah bisa meraup keuntungan hingga jutaan rupiah, dalam sekali panen. Selain untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, hasil budidaya ini, juga membawanya berangkat Haji.

Narimah tidak sendiri. Ada puluhan Ibu rumah tangga lainnya yang juga memanfaatkan pekarangan rumahnya. Tak heran jika, ketika melewati Jalan Petani, mata akan disuguhi pemandangan berbeda; pekarangan umumnya lantai keramik, semen, pot bunga. Namun tidak di jalan ini. Mata akan lebih banyak melihat pekarangan mirip taman rumput. Bahkan dipagar. 

Ada empat jenis rumput gajah yang dibudidayakan warga. Masing-masing, mempunyai nilai ekonomis tersendiri. Merawat rumput inipun, kini menjadi pekerjaan sampingan ibu-ibu rumah tangga itu.

Tak perlu modal besar, hanya butuh lembaran rupiah untuk membeli kotoran sapi. Kumpulkan niat, telaten dan usaha. 

“Halaman saya penuh dengan rumput. Alhamdulillah, hasilnya bisa untuk pergi Haji,” kata Narimah sumringah.

Proses pembibitan juga tampak sederhana. Awalnya, hamparan tanah di halaman rumah hanya perlu digeburkan. Kemudian, hamparan tanah yang sudah rata disiram lumpur dan kotoran sapi, untuk pupuk agar tumbuh subur. Setelah rata, sobekan rumput berukuran 3 sampai 5 centimeter ditanam secara zig zag. 

“Ndak ada perawatan khusus. Setelah terlihat tumbuh, dikasih pupuk NPK biar tambah subur,” kata narimah.

Proses tidak sampai di situ. Ada perlakuan khusus setelah rumput dipastikan tumbuh subur, maka perlu dilakukan perawatan. Dimulai dari menyiang, memungut rumput liar, hingga menyiramnya setiap hari. Agar lebih aman dari, biasanya pekarangan dipagar, agar tidak diganggu binatang yang bisa saja merusak tumbuhan.

“Kalau musim hujan makin subur. Tapi kalau panas, harus banyak disiram. Pernah dulu waktu kekeringan, kami gagal panen. Rumput banyak mati,” sebut Narimah. 

Aniar (43), ibu rumah tangga yang juga menekuni bidang ini mengatakan, perlu ketekunan memelihara rumput, hingga masa panen tiba. Butuh waktu 40 hari, sebelum akhirnya rumput itu bisa menghasilkan rupiah. 

Ibu dari empat anak itu menuturkan, pekerjaan sampingan sebagai pembudidaya rumput gajah itu, dilakoninya sejak empat tahun silam. Ia, hanya mencoba memanfaatkan tanah kosong di sekitar pekarangan rumahnya. Dari  peruntungan itu, dirinya kini dipercaya pembeli dari berbagai daerah.

Setiap jenis rumput yang Aniar tanam, mempunyai kelainan harga jual. Untuk jenis rumput gajah manila misalnya, dijual permeternya seharga Rp20 ribu. Gajah mini Rp25.000 dan untuk yang khusus golf Rp20.000.

Dari sekian jenis rumput gajah yang ditanam, masing-masing punya ciri khas tersendiri diliat dari warna serta daunnya. Misalnya, rumput gajah mini dilihat dari daunnya, ukuranya lebih kecil dari rumput gajah biasa. Tak heran, rumput inipun menjadi pilihan banyak orang. Selain keunikan daun yang subur ke samping, pola hidup yang merayap kesamping warna daunya melebihi rumput biasa.

"Rumput manila, cenderung lebih susah perawatannya, karena banyak rumput lain yang tumbuh diatasnya," ujar Warga asal Singkawang ini.

Wanita yang kerap disapa Niar juga memaparkan, untuk menjadi petani rumput gajah tidaklah sulit. Hanya butuh kotoran sapi yang masih baru, dan lumpur. Kedua bahan tersebut, lantas dicampur, diaduk menjadi satu dengan perbandingan 2:3. Dua untuk kotoran sapi, tiga untuk lumpur. Dari campuran itu, mampu membuka lapisan atas rumput sepanjang 100 meter.

Saat masa penanaman, jarak antar rumput juga harus diperhatikan. Setiap jarak, hanya kurang lebih 2 centimeter. Jika musim kemarau, minimal dalam sehari dilakukan penyiraman sekali, menjelang sore hari. Tak hanya itu, dalam kurun waktu sebulan, kira-kira dibutuhkan urea 10 kilogram.

Niar tidak bekerja sendiri, melainkan dibantu oleh suaminya Asmadi. Hingga saat ini, rumput gajah hasil taninya, sudah ditanam di mana-mana. Halaman kantor gubernur seluas, 1000 meter lebih, Kantor Imigran, Kantor Bupati Kubu Raya, bahkan ke kepulauan Natuna. Dalam sebulan, Aniar mampu meraup keuntungan dua hinga tiga juta rupiah. Kini, ia mempunyai lahan seluas 850 meter yang ditanaminya rumput gajah.

"Ada juga dibawa ke Malaysia, untuk percobaan. Sekarang sedang mencoba membudidayakan jenis rumput gajah batik, ada khas diwarna daunnya," pungkasnya, sembari menunjukan budidayanya. 

Subaidi (45) bisa dibilang penampung langganan pesanan rumput di Jalan Petani. Setiap ada yang ingin membeli rumput, pasti melalui dia. Dalam satu bulan, ribuan meter bisa ia jual kepada pembeli. 

“Kalau HP saya bunyi, pasti ada yang mau beli rumput,” kata Subaidi.(*)