Kak Seto, Sahabat Anak

Kak Seto, Sahabat Anak

  Selasa, 31 May 2016 10:04

Berita Terkait

Siapa yang tak kenal dengan Dr. Seto Mulyadi S. Psi, M. Si.  Sebagai Pemerhati anak, pria yang akrab disapa Kak Seto ini berpengaruh besar dalam upaya mencegah kekerasan terhadap anak.  Ia sering menjadi narasumber parenting bagi banyak orang tua di seluruh tanah air.

Oleh Deziyanti Putri & Marsita

Untuk sekian kalinya, Kak Seto kembali menyambangi Kota Pontianak, Minggu (29/05). Kedatangannya tentu saja masih soal mengajak masyarakat untuk mencegah kekerasan terhadap anak, terutama kekerasan seksual pada anak. “Saat ini kasus kekerasan seksual pada anak semakin meningkat. Perlu kerjasama semua pihak untuk mencegah terjadinya hal tersebut,” ucap dia di Halaman TVRI Pontianak.

Publik mengenal Kak Seto, sebab dulu saban Minggu sore, anak-anak Indonesia sudah duduk manis di depan televisi untuk menyaksikan acara Aneka Ria Anak Anak TVRI yang di pandu Kak Seto dan Kak Heni beberapa tahun silam. Sampai saat ini pun, Kak Seto masih tetap mempertahankan penampilan, terutama rambutnya yang disisir menyamping dan menutupi kening serta gaya bicaranya yang khas. Ia juga kerap menggunakan batik dan celana hitam.

Namanya semakin meluas ketika, dirinya aktif dan menjadi ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak. Ketika ada kejadian kekerasan terhadap anak, ia muncul memberikan bantuan. Siapa sangka, pria kelahiran Klaten, 64 tahun silam ini memiliki seorang saudara kembar laki-laki bernama Kresno Mulyadi yang adalah seorang psikiater anak pula.

Saat berada di Pontianak kemarin, Ketua Dewan Pembina Komite Nasional Perlindungan Anak ini mengatakan perlu adanya satuan petugas perlindungan anak, dari tingkat yang paling dasar. “Saya ingin membentuk satuan petugas di tingkat Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW). Kami ingin memberdayakan masyarakat. Jadi RT RW nanti membentuk seksi perlindungan anak," kata lulusan Psikolog di Universitas Indonesia ini.  

Nantinya, terang dia, satuan perlindungan anak inilah yang membantu masyarakat untuk melaporkan kasus kekerasan yang terjadi terhadap anak. “Dengan demikian laporan kasus kekerasan pada anak tak hanya ditujukan ke Komnas Perlindungan Anak, tapi juga ke polisi," ucapnya yang mengatakan saat ini satgas perlindungan anak di dalam RT RW, baru ada di Tangerang Selatan sejak 3 tahun lalu. “Saya masih berencana melakukan sosialisasi di kota-kota besar. "Kami akan mengampanyekan kepada pimpinan masyarakat atau pemerintah daerah untuk mewujudkan gagasan itu," ujarnya peraih Men’s Obsession Award 2006.

Dia berharap, Kota Pontianak merupakan kota kedua di Seluruh Indonesia setelah Tanggerang Selatan, dan akan menjadi Kota pertama yang ada di Pulau Kalimantan yang pemerintah daerahnya mempunyai satgas perlindungan anak. “Dengan demikian masyarakat akan merasa terlindungi putra putrinya, dan polisi juga akan merasa terbantu kinerjanya. Mohon bapak Walikota beserta Wakil Walikota berkenan mengisntruksikan tambahan seksi perlindungan anak di rukun wilayahnya, dengan demikian anak anak akan merasa dekat dengan para petugas ini. Jangan sampai ada peluang terhadap tindak kekerasan anak ini,” harapnya.  

Nantinya, RT RW itu akan dibina dan diberi buku panduan tentang perlindungan anak sehingga bisa tanggap dengan kejadian sekitarnya. Kak Seto berharap satgas ini nantinya bisa menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap anak-anak yang menjadi korban kekerasan. **

------------------------------------

Mendirikan Homeschooling

Pada tahun 2007, Seto mendirikan sekolah alternatif yang bernama Homeschooling Kak Seto, yang merupakan sistem pendidikan atau pembelajaran yang diselenggarakan di rumah. Homeschooling menjadi lembaga pendidikan alternatif yang menjadi salah satu solusi pendidikan bagi anak-anak Indonesia yang baik yang berada di dalam negeri maupun luar negeri.

Homeschooling menempatkan anak-anak sebagai subjek dengan pendekatan di rumah. Dengan pendekatan di rumah, inilah anak-anak merasa dapat belajar apapun, kapan saja, di mana saja sesuai dengan keinginannya. Jadi, meski disebut sebagai homeschooling, tidak berarti bahwa anak-anak akan terus menerus belajar di rumah, tapi anak-anak dapat belajar dengan kondisi yang benar-benar nyaman dan menyenangkan seperti di rumah. Salah satu siswa dari homescooling kak Seto adalah Nikita Willy.

Menurut Kak Seto, pilihan homeschooling atau sekolah formal sejatinya merupakan pilihan mutlak dari anak. Orang tua hanya mensupport saja. “Anak yang memang nyaman sekolah formal jangan dipaksa untuk homeschooling. Begitu juga sebaliknya, jika si anak merasa tidak ingin lagi sekolah di sekolah umum, maka salah satu alternatif pilihan terbaik adalah menyekolahkannya di homeschooling,” papar dia.

Kak Seto lebih lanjut menceritakan pengalamannya saat bertemu dengan anak-anak homeschooling. Kebanyakan dari mereka pernah mencicipi bangku sekolah formal. Namun, karena berbagai alasan seperti bullying, suasana yang gaduh, serta kesibukan di luar sekolah mengharuskan mereka untuk memilih keluar dan masuk homeschooling. ”Ada yang mogok nggak mau sekolah karena jadi korban bullying, tapi setelah mencicipi dunia homeschooling jadi betah. Malah ngomong ke orang tuanya kalau sistem sekolah seperti ini dia mau sekolah tiap hari,” ceritanya.

Meskipun demikian, Kak Seto  mengatakan bukan berarti sekolah formal tidak baik. Yang paling penting adalah sekolah mampu menciptakan atmosfir yang ramah anak. Mampu menjaga anak tetap semangat menuntut ilmu. Bukan malah suasana yang membuat anak menjadi tercekam dan takut kala bersekolah. ”Itu sebabnya sering saya tekankan, baik kepada guru, kepala sekolah, maupun wali murid, mari sering berdiskusi tentang perkembangan buah hati. Sehingga ketika ada masalah bisa segera dicarikan jalan keluarnya dan tidak berlarut-larut,” tandasnya. (JPNN)

 

Berita Terkait