Kades Jangan Terlibat Politik Praktis

Kades Jangan Terlibat Politik Praktis

  Jumat, 9 February 2018 10:00
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kalimantan Barat Yoseph Alexander

Berita Terkait

KEPALA Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kalimantan Barat Yoseph Alexander meminta para kepala desa (kades) agar tetap netral dalam proses Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 yang akan digelar secara serentak tahun ini. 

“Jaga netralitas kepala desa dalam Pilkada 2018. Kepala desa tidak boleh berpolitik praktis,” pinta Alex saat bertemu di Kantor Dinas PMD Kalbar, Kamis (8/2).

Tahun daerah yang mengikuti pilkada serentak, Kota Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, Kayong Utara, Sanggau dan Mempawah. Sesuai tahapannya, KPU akan mengumumkan penetapan para pasangan calon kepala daerah pada tanggal 12 Februari 2018. Kemudian pengundian nomor urut pasangan calon yang berpartisipasi di Pilkada 2018 pada tanggal 13 Februari 2018 serta masa kampanye dan debat publik Pilkada 2018 pada tanggal 15 Februari s.d 26 Juni 2018. 

Ales menyatakan larangan dan sanksi kades berpolitik praktis, termasuk pilkada tertuang dalam Surat Edaran (SE) Menteri Dalam Negeri No 273/3772/JS tertanggal 11 Oktober 2016 sebagai penegasan Pasal 70 Undang-Undang No 10 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang No 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Perppu No 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota Menjadi UU.

Pasal 71 ayat (1) UU No 10/2016 menyebutkan, pejabat negara, pejabat daerah, pejabat aparatur sipil negara, anggota TNI/Polri dan kepala desa atau sebutan lain lurah dilarang membuat keputusan dan/atau tindakan yang menguntungkan atau merugikan salah satu pasangan calon.

“Kades yang bermain politik praktis jelas akan dikenakan pidana, hal itu diatur dalam Pasal 188 UU Pilkada bahwa ketentuan sebagaimana dalam Pasal 71 dipidana penjara paling singkat satu bulan atau paling lama enam bulan dan/denda paling sedikit enam ratus ribu rupiah atau paling banyak enam juta rupiah,” jelas Alexander.

Beliau juga mengingatkan kembali mengenai netralitas kades karena sering kali ada tren pelibatan atau dilibatkannya kades dalam arus dinamika politik praktis oleh kelompok-kelompok kepentingan tertentu. 

Apalagi menjelang Pilkada 2018 dan Pemilu 2019. Kades dan perangkat desa, tegasnya, dilarang melakukan kegiatan politik praktis dari sebelum, selama, dan sesudah tahapan Pilkada 2018 dan Pemilu 2019.

Larangan kades dan perangkatnya berpolitik praktis, lanjut Alexander, juga secara tegas diatur dalam UU No 6 Tahun 2014 tentang Desa. Termasuk Pasal 29 huruf G UU Desa menyebutkan kades dilarang menjadi pengurus partai politik. 

“UU Desa menyebutkan kades dilarang membuat keputusan yang menguntungkan diri sendiri, anggota keluarga, pihak lain dan/atau golongan tertentu. Kades juga dilarang menjadi pengurus parpol dan ikut serta dan/atau terlibat kampanye pemilu dan/atau pilkada,” paparnya.

Alexander kemudian menguraikan batasan netralitas kades, yakni tidak terlibat dalam kegiatan kampanye untuk mendukung calon kepala daerah/wakil kepala daerah; tidak menggunakan fasilitas yang terkait dengan jabatan dalam kegiatan kampanye; tidak membuat keputusan dan/atau tindakan yang menguntungkan atau merugikan salah satu pasangan calon selama masa kampanye; tidak mengadakan kegiatan yang mengarah kepada keberpihakan terhadap pasangan calon yang menjadi peserta pilkada sebelum, selama, dan sesudah masa kampanye meliputi ajakan, imbauan, seruan, atau pemberian barang kepada anggota keluarga dan masyarakat. 

Di lain tempat, Ketua Forum Perbatasan Kalimantan Barat Abelnus menilai aparatur desa harus mampu menjaga sikap netralitasnya selama pemilihaan Kepala Daerah berlangsung di masing-masing wilayahnya.  

Ia mengatakan kepala desa yang terlibat politik praktis jelas bisa dikenakan pidana. Hal itu diatur sesuai dengan Pasal 188 UU Pilkada bahwa ketentuan sebagaimana dalam Pasal 71 dipidana penjara paling singkat satu bulan atau paling lama enam bulan dan/denda paling sedikit enam ratus ribu rupiah atau paling banyak enam juta rupiah. 

“Jadi tidak tidak dibenarkan kades melibatkan diri dalam kegiatan politik praktis baik dari sebelum, selama, dan sesudah tahapan Pilkada 2018 dan Pemilu 2019,” tegasnya. (mse)

 

Berita Terkait