Jual Beli Telur Penyu, Anggota Pokmaswas Ditangkap

Jual Beli Telur Penyu, Anggota Pokmaswas Ditangkap

  Rabu, 1 Agustus 2018 14:10
PERIKSA: Petugas memeriksa pelaku dan barang bukti berupa 199 butir telur penyu. SPORC FOR PONTIANAK POST

Berita Terkait

Memberantas Perdagangan Telur Penyu di Paloh

Satuan Polhut Reaksi Cepat Brigade Bekantan Balai Gakkum KLHK Kalimantan Seksi Wilayah III Pontianak melakukan operasi tangkap tangan terhadap tiga orang pelaku yang akan memperjualbelikan telur Penyu Hijau (Chelonia mydas) di Desa Sebubus Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Rabu (25/7).

ARIEF NUGROHO, Pontianak

KETIGA pelaku diantaranya PR (42), MH (45) dan BD (50), yang tak lain adalah oknum anggota kelompok masyarakat pengawas di Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas.

Kepala Seksi Balai Gakkum KLHK Kalimantan Seksi Wilayah III Pontianak David Muhammad mengatakan, dari tiga orang pelaku yang diamankan, dua orang lainnya sudah ditetapkan sebagai tersangka. Mereka adalah PR dan MH, pemilik dan penjual telur penyu. Sedangkan BD diperiksa sebagai saksi.

"Keduanya sudah ditahan. Dititipkan di Rutan Kelas IIa Pontianak dan menyita Barang bukti berupa 199 Telur Penyu Hijau, dan sejumlah barang bukti pendukung lainnya," kata David, kemarin.

Dikatakan David, operasi tangkap tangan ini dimulai ketika Tim SPORC mendapat laporan dari masyarakat, sering adanya pengambilan dan penjualan telur Penyu di Desa Sebubus Kecamatan Paloh Kabupaten Sambas pada beberapa bulan terakhir ini.

Setelah dilakukan penyelidikan, lanjut David, diperoleh informasi bahwa aktifitas pencurian telur penyu di sepanjang Pantai Tanjung Api-Pantai Kemuning Kecamatan Paloh dilakukan oleh oknum anggota pokmaswas di desa itu. Telur penyu rencananya akan dijual di Desa Sebubus oleh oknum tersebut.

Tim SPORC yang sudah berada di Desa Sebubus segera bergerak menuju Dermaga Ceremai untuk mengintai salah satu pelaku yang namanya sudah dikantongi yang saat itu sedang menyeberang Sungai Ceremai.

Setibanya di Dermaga Ceremai, Tim SPORC langsung menangkap dan menggeledah motor pelaku dan mendapati kotak kardus yang berisi 199 telur penyu. BD seketika langsung diamankan.

"Setelah mengamankan BD, ada informasi bahwa telur penyu itu akan dibawa ke rumah PR di Dusun Setinggak, Desa Sebubus, saat itu juga PR berhasil diamankan. Dari keterangan PR bahwa 199 telur penyu tersebut merupakan miliknya dan MH," terangnya.

Selanjutnya, tim pun bergerak menuju Desa Tanah Hitam dan menyergap MH pada saat mengendarai motor hendak menuju Desa Sebubus. Ketiga pelaku selanjutnya dibawa ke Mako SPORC di Pontianak untuk proses pemeriksaan selanjutnya oleh PPNS Balai Gakkkum.

Dari hasil pemeriksaan, kedua pelaku merupakan anggota Pokmaswas Kambau Borneo Kecamatan Paloh. Setiap malamnya, kedua pelaku bertugas memonitor dan menjaga penyu bertelur serta memindahkan telur penyu ke penangkaran atau pembibitan Camp Tanjung Api hingga menetas dan menjadi tukik atau anak penyu.

"Dari memindahkan telur penyu tersebut, kedua pelaku mengambil sebagian telur penyu untuk kemudian dijual kepada pemesan," kata David.

Telur penyu tersebut rencananya akan dijual kepada warga sekitar Desa Sebubus dengan harga Rp2.000 perbutir dan apabila diselundupkan ke Negara Malaysia seharga Rp4.000 perbutir.   

"Mereka dijerat dengan Undang Undang 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya Pasal 21 Ayat (2) huruf e jo. Pasal 40 ayat (2) dengan ancam hukuman penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp100 juta," tegasnya.

Saat ini, penyidik Balai Gakkum masih memburu pelaku lainnya yang diduga sebagai calon pembeli telur penyu tersebut. Penyidik Balai Gakkum akan terus mengusut keterlibatan oknum lainnya yang diduga turut terlibat dalam pengambilan dan penjualan telur penyu di Kecamatan Paloh.

Sementara di sisi lain, Yayasan Titian Lestari melaunching sistem informasi pemantuan peredaran satwa liar berbasis website dan aplikasi android. Menyusul adanya ancaman serius terhadap keberlangsungan hidup satwa liar di alam, baik perburuan untuk diperdagangkan, dipelihara maupun dikonsumsi.

Berdasarkan hasil pemantauan Yayasan Titian Lestari (Maret 2017 s.d Februari 2018), di Kalimantan Barat tercatat sedikitnya 136 kejadian peredaran satwa liar terdiri dari perdagangan 86 kejadian, pemeliharaan 26 kejadian, perburuan 18 kejadian dan kepemilikan bagian tubuh satwa liar 6 kejadian.

"Untuk menjembatani dalam mengurangi beberapa hambatan dan kendala itu, Yayasan Titian Lestari bekerjasama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimatan Barat dan Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BPPHLHK) Kalimantan mengembangkan sistem informasi pemantuan peredaran satwa liar berbasis website dan aplikasi android," Ujar Direktur Yayasan Titian Lestari Sulhani, kemarin.

Pria yang akrab dipanggil Icung lebih lanjut menjelaskan, tujuan utama dari kegiatan peluncuran dan sosialisasi ini untuk memperkenalkan aplikasi dan cara kerjanya yang harapannya akan ada partisipasi dari publik untuk menginput data ke sistem dengan melaporkan kejadian tindak pidana satwa liar maupun kejadian perjumpaan satwa liar di alam yang terjadi disekitar lingkungannya.

Syukur Wahyu Putra, Project Manager Yayasan Titian Lestari menambahkan bahwa aplikasi android pemantauan peredaran satwa liar bernama “Borneo Wildlife Care” sudah tersedia dan dapat diunduh di Playstore.

 “Untuk selanjutnya kami akan melakukan roadshow ke 14 kabupaten/kota di Kalimantan Barat untuk mensosialisasikan dan memperkenalkan aplikasi ini kepada masyarakat" tambahnya. (*)

 

 

Berita Terkait