Jokdri Dilimpahkan ke PN Jakarta Selatan

Jokdri Dilimpahkan ke PN Jakarta Selatan

  Sabtu, 13 April 2019 10:31

Berita Terkait

LPSK Kabulkan Permohonan Lasmi

JAKARTA – Setelah berkas dinyatakan lengkap oleh Jaksa Penuntut Umum pada 4 April lalu, Kasus Perusakan Barang Bukti yang menjerat Plt Ketua Umum PSSI Joko Driyono masuk ke pelimpahan tahap kedua. Kemarin (12/4) bertempat di Main Hall Direskrimum Polda Metro Jaya, Satgas Antimafia Bola menyerahkan tersangka Jokdri dan Barang Buktinya kepada perwakilan Kejaksaan Agung.

Nantinya, Kejaksaan Agung akan membawa Jokdri dan barang bukti untuk segera disidangkan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Wilayah dimana peristiwa pidana itu dilakukan. Tentu, kasus tersebut secepatnya akan disidangkan.

Ketua Tim Media Satgas Antimafia Bola Kombes Argo Yuwono mengatakan kasus Jokdri sudah dinyatakan selesai oleh pihaknya. Sudah bukan urusan Satgas Antimafia Bola lagi karena saat ini sudah diserahkan kepada Kejaksaan Agung. ’’Tapi kasus ini tidak akan cepat selesai tanpa bantuan dari Tim Kejaksaan Agung yang ikut memberi saran dan mengawasi dalam pemberkasan,’’ ujarnya.

Nah, Argo menambahkan sejauh ini Jokdri hanya dikenakan tindak pidana pencurian dengan pemberatan saja. Belum masuk ke ranah pengaturan skor ataupun kasus yang masih diselidiki oleh timnya saat ini. Masih ada tiga pasal yang dikenakan kepada pria asal Ngawi itu, yakni Pasal 363 ke-3e dan 4e KUHP, 233 KUHP, dan 221 ayat (1) ke-2e KUHP.

Untuk barang   buktinya sendiri, mantan Kabidhumas Polda Jawa Timur itu menuturkan semua sudah diserahkan juga ke Kejaksaan Agung dalam satu kotak plastik besar. di dalam kotak itu berisikan Laptop dan Pemotong Kertas. ’’Ada pula mobil yang sudah kami sita dan juga diserahkan kepada Kejaksaan Agung,’’ katanya.

Dalam kasus Jokdri tersebut, sebenarnya ada 3 orang lagi yang ditetapkan sebagai tersangka. Yakni Musmuliadi, Abdul Gofur, dan Muhammad Mardani. Ketiganya merupakan pihak yang melakukan perusakan police line dan barang bukti serta mengambil laptop berisi data keuangan dan DVR CCTV di Rasuna Office Park, alias bekas Kantor PT Liga Indonesia yang digeledah pada 19 Desember 2018 lalu.

Ditanya nasib ketiganya apakah juga akan ikut disidang bersama Jokdri, Argo tidak mau berkomentar banyak. Yang jelas ketiganya sejauh ini memang masih belum ditahan karena kooperatif dan hanya suruhan Jokdri saja. ’’Disidang atau tidak sejauh ini kami masih proses untuk itu,’’ tegasnya.

Sementara itu, Jokdri sendiri sama sekali tidak berkomentar kemarin. dia hanya banyak menunduk ketika ditanyai oleh Jawa Pos. Tidak ada senyum lagi di wajahnya seperti biasa ketika menemui awak media.

Bebarengan dengan pelimpahan tahap kedua kasus perusakan barang bukti, di lokasi yang sama ada kuasa hukum Manajer Persibara Banjarnegara Lasmi Indaryani yakni Boyamin Saiman.. Dia ada di Direskrumum Polda Metro Jaya bukan untuk melihat proses pelimpahan tahap kedua itu. Tapi untuk bertemu Satgas Antimafia Bola dan melaporkan bahwa LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban) telah mengabulkan permohonan Lasmi.

Ya, Lasmi memang meminta perlindungan kepada LPSK atas teror yang dialami setelah jadi whistle blower kasus pengaturan skor. atas laporannya juga ada 10 tersangka yang ditetapkan, di mana 6 diantaranya sudah ditahan dan sudah diserahkan ke Kejaksaan Agung untuk disidang di Banjarnegara.

Ketika ditanya Jawa Pos, Boyamin mengatakan senang dengan diterimanya permohonan perlindungan Lasmi itu oleh LPSK. Nantinya, kemungkinan perlindungan itu akan dilakukan hingga persidangan untuk kasusnya selesai di Banjarnegara. ’’Untuk teknis perlindungannya secara detail saya tidak bisa menyampaikan ya,’’ paparnya.

Kedatangannya juga untuk memberitahu jika nantinya Lasmi dibutuhkan oleh Satgas Antimafia Bola, LPSK harus diinformasikan. Artinya, Satgas Antimafia Bola harus berkoordinasi dengan Lasmi dalam hal perlindungan. ’’Sampai di persidangan dipanggil oleh jaksa juga harus koordinasi dengan LPSK,’’ tegasnya.

Tapi dia mengatakan Lasmi dan LPSK sudah membuat perjanjian bagaimana perlindungan tersebut. sembari melihat nantinya persidangan kasus itu di Banjarnegara sepetti apa. ’’Karena bahasanya kalau untuk perlindungan melekas sampai sidang selesai. Misalnya saja di rumah seperti orang di penjara hingga HP pun diamankan untuk perlindungan. Tapi teknisnya seperti apa mereka yang tahu ya,’’ katanya.

Lalu apakah Lasmi puas dengan hasil kinerja Satgas Antimafia Bola yang berhasil mengungkap laporannya? Boyamin menegaskan masih belum puas. Sebab, kliennya itu merasa masih ada yang belum diselesaikan. Terutama berkaitan dengan pengaturan skor yang ada di kasta-kasta tertinggi, seperti Liga 2 dan Liga 1.

Untuk selesainya kasus Jokdri juga, dia berharap Satgas Antimafia Bola bisa secepatnya menghubungkan perusakan barang bukti yang dilakukan dengan pengaturan skor. Kemungkinan besar itu bisa terjadi. ’’Harapan dari semua ini adalah bisa dikembangkan ke yang lebih tinggi lagi,’’ ungkapnya.(rid)

Berita Terkait