Jiwa Kesatria

Jiwa Kesatria

  Kamis, 5 July 2018 08:34   116

Oleh: Ferry Yasin

DALAM  Kamus Besar Bahasa Indonesia kata kesatria memiliki dua makna. Yang pertama adalah orang (prajurit, perwira) yang gagah berani; pemberani. Makna kedua merupakan kasta kedua dalam masyarakat Hindu; kasta bangsawan atau kasta prajurit. Sepanjang sejarah manusia, karena kata kesatria tidak lepas dari makna ‘berani’, para kesatria selalu menorehkan sejarahnya sendiri. Sejarah adalah torehan cerita lama dan historis para pemenang dan mereka yang berkuasa. Dan setiap kemenangan serta penguasaan tidak lepas dari peran para kesatria. Aroma pertempuran dan kemenangannya kadang bercampur dengan bau kemenyan mistis dan legenda. Beberapa cerita kesatria masih diselimuti oleh banyak tudung rahasia. Meski getaran-getaran jiwa dan semangat mereka tetap  bisa kita rasakan kini.

Dunia Eropa abad pertengahan dan sebelumnya adalah alam feodalisme. Feodalisme berasal dari bahasa Latin feudum yang berarti pinjaman tanah. Raja adalah seorang penguasa pemerintahan sekaligus pemilik wilayah dalam jangkauan teritorinya. Daulat raja tak bisa terbantahkan, sehingga muncul istilah ‘the king can do no wrong--raja tak bisa berbuat salah. Karena kebijakan dan kebaikan, raja meminjamkan tanah kepada para bangsawan, dengan kompensasi kesetiaan dan perlindungan. Dari sinilah kemudian muncul para kesatria yang syarat-syarat awalnya adalah: seorang laki-laki dan dari trah bangsawan, pemberani atau pandai dan  terlatih dalam bertempur, memiliki rasa setia yang tinggi, dan pandai berkuda mengingat alam pada saat itu yang sulit dan harus bisa diatasai hanya oleh kuda.

Para kesatria  menganut sebuah aturan atau konsep yang disebut Chivalry (dari bahasa Perancis chevalier). Sebuah konsep dalam sistem kesatrian di abad pertengahan yang menekankan pada nilai-nilai religiositas dan kode sosial. Kualitas ideal yang dituntut terhadap seorang kesatria mencakup keberanian, kehormatan, kewajiban , keadilan dan kesiapan membela mereka yang lemah. Dari kata inilah kemudian muncul pasukan kavaleri. 

Dalam dunia pewayangan kisah mereka yang memiliki jiwa kesatria jamak terjadi. Contohnya adalah Kumbakarna. Kumbakarna memiliki kesaktian tinggi, dan merupakan adik dari Raja Alengka , Rahwana atau Dasamuka.  Negeri Alengka hendak diserang oleh Sri Rama Wijaya dari Kerajaan Ayodya karena Dewi Shinta direbut oleh Rahwana. Rahwana menghendaki Kumbakarna untuk memimpin perang, namun sebelum maju Kumbakarna berharap Dewi Shinta dikembalikan. Rahwana menolak, dan Kumbakarna maju berperang hanya demi membela tanah airnya. Bukan untuk kepentingan kakaknya mempertahankan Dewi Shinta. Sampai dengan gugurnya, ia tetap seorang kesatria dan patriot, berkalang tanah demi negaranya. Di hari kematian Kumbarkana, gencatan senjata diberlakukan Sri Rama demi menghormati keberanian dan semangat bertempur yang luar biasa Kumbakarna. Sang pemenang dan yang gugur sama-sama berjiwa kesatria.

Jiwa kesatria tak pernah lepas dari para pahlawan kita. Semangat dan getarannya tak lekang oleh waktu. Banyak kisah dan cerita menyingkap jiwa itu pada diri Sang Jenderal Besar Sudirman, Pangeran Diponegoro, Patimura alias Thomas Matualessy, Pangeran Antasari, Tuanku Imam Bondjol, Walter Mongisidi. Benang merah yang nyata dari mereka—dan masih banyak tokoh lagi—adalah keberanian dan kesediaan berkorban demi tanah air. Keberanian , memang tidak didapat dengan tiba-tiba. Siapa sangka sang jenderal yang awalnya hanya seorang guru, tiba-tiba bergerilya melakukan perlawanan terhadap penjajah. Siapa sangka, seorang berdarah ningrat, seorang pangeran yang sebenarnya nyaman di lingkungan istana lengkap dengan fasilitasnya mau turun  dan berada di hutan belantara. Kalau tidak demi sebuah kewajiban atas nama kehormatan, kebenaran, keadilan dan kemauan untuk membela yang lemah dan tertindas, maka mungkin kita sebagai negara bangsa tidak eksis sekarang ini.

Itulah juga sikap yang harus ada di kalangan kita masyarakat, terlebih lagi mereka yang berjuang untuk menjadi pemimpin. Kontestasi yang telah usai di berbagai pilkada di tanah air, harus tetap menyisakan sebuah semangat dan jiwa kesatria. Ungkapan para kesatria di Jawa masa lampau ‘nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake’ tetap harus dipertimbangkan dan menjadi pokok permenungan. Nglurug itu berarti datang beramai-ramai ke tempat musuh. Ironisnya datang beramai-ramai tetapi tanpa bala, atau tanpa teman atau pengikut. Jadi datang seorang diri saja ke area musuh, itu menyiratkan sebuah keberanian dan rasa percaya diri yang tinggi tanpa harus didukung oleh pihak ini dan itu. 

Menang tanpa ngasorake memberi pengertian apabila menang, namun tetap menghargai lawan atas ketangguhannya. Jangan mengambil sikap giliran menang menjadi mentang-mentang. Yang menang bahkan memiliki tanggungjawab yang lebih besar lagi untuk membela mereka yang lemah (dalam bidang pendidikan, kesehatan, kesejahteraan). Yang kalah juga harus bisa mengangkat topi bagi lawan yang telah karena kerja keras menduduki posisi itu. Apabila ada masalah dalam proses kontestasi, ada jalur resmi di ranah hukum yang bisa ditempuh.  Jargon siap menang siap kalah harus diselimuti oleh semangat dan jiwa kesatria.

Penulis: Pengajar di SMA Taruna Bumi Khatulistiwa 

Kabupaten Kubu Raya