Jeruk Sambas Belum Terbebas CVPD

Jeruk Sambas Belum Terbebas CVPD

  Senin, 20 May 2019 10:33
JERUK SAMBAS: Bupati Sambas saat menghadiri rakor pengembangan jeruk, dalam rangka mengembalikan kejayaan jeruk Sambas.

Berita Terkait

SAMBAS – Hasil penelitian Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah

Subtropika (Balitjestro) Malang menyebutkan agribisnis jeruk di Kabupaten Sambas, belum seluruhnya terbebas dari penyakit citrus vein phloem degeneration (CVPD) atau kerusakan pembuluh tapis pada jeruk. “Hasil penelitian kami di Kabupaten Sambas, potret Agribisnis  Jeruk di Sambas memiliki kawasan sentra produksi yang belum terbebas dari penyakit CVPD berkepanjangan sejak 2008 sekitar 11.328 hektare dan

2016 sekitar 7.281 hektare,” kata Dr Taufiq, dari Balitjestro Malang.

Hal tersebut diungkapkan saat Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Barat menggelar audiensi dengan Bupati Sambas di Aula BPTP Kalbar di Pontianak. Dalam pertemuan tersebut, dihadiri langsung Bupati Sambas, kemudian dari Perwakilan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika Malang, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Sambas, Dinas Sosial Dan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Sambas dan Unit Pengawasan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalbar dan bekerja sama dengan Balitjestro Malang

dalam upaya mengembangkan Teknologi Perbenihan Jeruk Mutu Premium. 

Tak hanya itu, masalah lain yang masih dihadapi petani jeruk, rapuhnya kelembagaan mereka. “Kelembagaan petani masih rapuh. Sehingga menjadi salah satu penyebab penanganan CVPD masih kurang serius, program yang dilaksanakan masih lemah dan parsial serta tidak ada konsistensi. 

Sehingga wajar saja, produktifitas jeruk dari tahun ke tahun menurun. Produktifitas 2014 kurang lebih 147.105 ton dan 2016 menjadi kurang lebih 93.097 ton,” katanya.

Atas kondisi tersebut, sudah dipersiapkan langkah strategis untuk pembangunan program jeruk di Kabupaten Sambas. Termasuk dengan melakukan pengendalian CVPD melalui Pengendalian Terpadu Kebun Jeruk Sehat atau PTKJS. Kemudian sudah dilakukan penanaman baru di Kecamatan Tebas dimulai dari Desa Matang Labong dan Pusaka secara bertahap sampai seluruh areal tanam di Tebas dengan PTKJS. Kemudian kawasan

pengembangan jeruk di Kecamatan Sebawi, akan diupayakan selamat dari serangan CVPD agar tidak menjadi seperti kondisi di Tebas. Tentunya yang menjadi hal penting, bagaimana membangun benih jeruk yang tangguh di Sambas. 

Kepala BPTP Kalbar, Dr Akhmad Musyafak menyebutkan upaya yang dilakukan, sebagai bentuk nyata mengembalikan kejayaan agribisnis jeruk di Kabupaten Sambas. Diantaranya Pengendalian Terpadu Kebun Jeruk Sehat memiliki beberapa langkah penting. Teknologi untuk Kawasan penanaman baru yakni kecamatan tebas mengharuskan menggunakan bibit unggul. Standarisasinya menggunakan bibit berlabel biru. Melakukan eradikasi tanaman sakit. Yang penting adalah pengendalian vektor CVPD Diaphorina Citri. Bagaimana CVPD ini benar-benar bersih. 

“Harus ada komitmen, dalam menangani CVPD. Semua komponen dituntut kompak. Petugas dan petani harus disiplin dalam menerapkan PTKJS atau Pengendalian Terpadu Kebun Jeruk Sehat, dan penting, adalah membangun industri benih jeruk. Pembangunan agribisnis jeruk diawali di pembenihan. Agribisnis jeruk yang berkesinambungan dan berdaya saing menuntut dukungan industri benih yang tangguh,” katanya.

Bupati Sambas, H Atbah Romin Suhaili Lc, menyambut baik langkah yang diambil BPTP Kalbar. Lantaran jeruk Sambas memerlukan perhatian serius agar kejayaan jeruk Sambas bisa diraih kembali. 

“Ini senada dengan arahan dari Gubernur Kalbar. Gubernur mengarahkan agar pembangunan agribisnis jeruk Kabupaten Sambas digenjot lagi,”katanya. 

Penggunaan bibit unggul tanaman jeruk, sebut Atbah, harus digaungkan. “Seperti yang dikemukakan BPTP, bagaimana komoditi jeruk ini tidak hanya bertahan tiga atau empat tahun saja, tetapi tanaman jeruk bisa tetap memiliki produktifitas yang baik hingga lebih dari 10 tahun,” kata Atbah.(fah)

Berita Terkait