Jelang Debat, Jokowi ke Bengkulu, Prabowo ke Semarang

Jelang Debat, Jokowi ke Bengkulu, Prabowo ke Semarang

  Sabtu, 16 February 2019 09:54
JELANG DEBAT: Petugas membersihkan baliho debat kedua calon presiden di Ballroom Hotel Sultan, Senayan, Jakarta, Jumat (15/2). Secara umum, persiapan debat yang akan berlangsung pada 17 Februari itu hampir rampung. HENDRA EKA/JAWAPOS

Berita Terkait

Capres Bakal Diberondong Isu Kritis 

JAKARTA – Puncak debat pilpres edisi kedua tinggal sehari lagi. Kemarin (15/2), pihak penyelenggara makin intens menata lokasi debat dan menyiapkan skenario kedatangan kedua capres. Sementara, para panelis tadi malam telah menuntaskan penyusunan pertanyaan debat yang berisi isu-isu kritis. Hari ini, pertanyaan-pertanyaan itu akan didiskusikan dengan moderator.

Dari pantauan di Hotel Sultan Jakarta kemarin, panggung debat nyaris siap. Begitu pula layar di belakang panggung. Di seberang panggung, ada stage tinggi untuk tempat para wartawan mendokumentasikan acara. Malamnya, karpet merah digelar di sisi timur ballroom. Kedua capres akan masuk melalui pintu timur itu.

Peti-peti berisi peralatan siaran langsung sudah berdatangan. Para petugas keamanan sesekali tampak hilir mudik mengecek lokasi. Baik di ruang utama maupun area sekitar ballroom. Baliho-baliho sudah dipasang, baik di sekitar ballroom maupun di halaman hotel Sultan. Foto kedua capres Joko Widodo dan Prabowo Subianto terpampang besar dengan pose tersenyum.

Di sisi lain, panelis telah menuntaskan penyusunan materi debat. Baik berupa pertanyaan maupun video. Sebagaimana sebelumnya, para panelis menutup rapat materi yang akan ditanyakan kepada kedua capres besok (17/2). ’’Nanti kita tunggu saja pada saat tanggal 17 malam,’’ terang Koordinator Panelis, Prof Sudharto Prawata Hadi di Hotel Sultan.

Pihaknya sudah menyiapkan isu-isu strategis di lima tema debat antara lain energi dan pangan, sumber daya alam dan lingkungan hidup, serta infrastruktur. Proses penyiapan diawali dengan inventarisasi isu kritis kemudian menerima masukan dari berbagai pihak, termasuk LSM. Pemberitaan di media massa juga menjadi  bahan pertimbangan. 

Dari situ, masing-masing panelis memutuskan isu dan pertanyaan apa yang akan diangkat. ’’Bukan hanya (isu) yang terkini, namun juga yang kritis. Yang perlu di-addres oleh RI 1 lima tahun ke depan,’’ lanjut mantan rektor Universitas Diponegoro Semarang itu. 

Untuk video, pihaknya juga menginventarisasi dan mencari mana yang relevan dengan tema. Video itu akan ditayangkan pada segmen empat. Tidak ada pertanyaan bagi para kandidat di segmen ini. Mereka hanya dimintai tanggapan atas video. ’’Diharapkan natural, spontan, dan konseptual,  baik tentang apa yang sudah terjadi maupun konsep ke depan bila terpilih,’’ katanya.

Sementara itu, kemarin kedua capres menjalani aktivitas di luar Jakarta. Jokowi menjalani kegiatannya sebagai presiden di Bengkulu. Di provinsi itu, Jokowi membuka Sidang Tanwir Muhammadiyah. Sedangkan Prabowo bersafari di Semarang. Dia menyampaikan pidato kebangsaan di hadapan sejumlah pakar di bidang-bidang terkait debat kedua.

Wakil Direktur Saksi Tim Kampanye Nasional 01 Lukman Edy mengatakan, kali ini pihaknya lebih optimistis. Hal itu karena Jokowi selama ini memang fokus di bidang-bidang yang menjadi tema debat. “Kami optimistis punya data dan fakta yang lebih banyak,’’ terangnya.

Menurutnya, Jokowi akan menyampaikan paparan dalam tiga bagian. Pertama, menjelaskan kinerja dan pencapaian. Kedua, menyampaikan visi dan misi Indonesia maju serta harapan terkait dengan tema yang dibahas dalam debat. Sisanya adalah narasi politik positif untuk masyarakat.

Di luar itu, pihaknya sudah meminta izin kepada penyelenggara debat untuk menata lokasi nonton bareng. Lokasi nobar para pendukung itu disiapkan di area parkir timur Senayan dan akan ditata sedemikian rupa sehingga menjadi lokasi nobar yang menarik bagi pemilih Jokowi.

Terpisah, Anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Sudirgo Purbo, mengatakan isu energi akan menjadi salah satu fokus utama. Isu tersebut dinilai krusial karena Indonesia saat ini dianggap mengalami krisis energi. Di sektor minyak bumi misalnya, tutur Sudirgo, Indonesia sudah lama menjadi negara pengimpor minyak. Kebutuhan minyak dalam negeri 1,3 juta barel per hari pada 2017 dan naik menjadi 1,7 juta di tahun 2018. Namun produksi minyak Indonesia tidak mencukupi.

"Posisi energi Indonesia sekarang sudah dalam kondisi yang sudah di ICU. Krisis. Kenapa? Produksi minyak kita 750 ribu barel per hari, sisanya ditutupi impor," kata Sudirgo dalam Visi Misi Indonesia Menang 'Solusi Pangan & Energi Ala Prabowo-Sandi', kemarin.  Menurutnya, ketergantungan energi yang dialami Indonesia terhadap negara lain yang terjadi saat ini bisa mengancam kedaulatan.

 Oleh karena itu, lanjut Sudirgo, perlu dicari cara agar Indonesia tidak terus-terusan bergantung pada impor minyak. "Salah satu komitmen Prabowo-Sandi jika terpilih menjadi presiden dan wakil presiden adalah mengurangi impor minyak dengan cara meningkatkan investasi di sektor energi terbarukan," kata Sudirgo.

Sudirgo menyebutkan, sebagai negeri agraris yang dilewati garis khatulistiwa, Indonesia memiliki modal untuk membangun industri energi terbarukan berbasis tumbuhan, matahari dan angin. "Prabowo-Sandi menawarkan optimisme dengan solusi yang inovatif dari pengembangan energi terbarukan. Indonesia memiliki banyak potensi, kini tinggal optimalisasinya," jelas dia. (byu/bay)

Berita Terkait