Jejak Perdagangan Telur Penyu

Jejak Perdagangan Telur Penyu

  Rabu, 7 September 2016 09:30

Berita Terkait

Dari Riau dan Kalbar Tembus ke Malaysia 

Telur Penyu menjadi bagian dari komoditi masyarakat di Indonesia dan Kalimantan Barat pada umumnya. Selain  menjadi objek buruan untuk pemenuhan konsumsi, telur yang konon memiliki khasiat bagi vitalitas lelaki ini juga dipergadangkan di luar negeri. Salah satunya di Serikin, Malaysia.   Wartawan Pontianak Post Arief Nugroho mencoba menelusuri perdagangan ilegal ini, mulai dari pelabuhan, sebagai pintu masuk, hingga ke Malaysia.  

-------------------------

SIANG itu matahari terasa terik menyengat kulit. Butiran-butiran debu beterbangan bersama laju kendaraan di Jalan Muhammad Hambal, Pemangkat, Kabupaten Sambas. Kebetulan jalan poros kota itu sedang dalam perbaikan.  Di seberang jalan, duduk seorang pedagang buah. Ia terlihat sedang menunggu pembeli datang. 

Sepintas tidak ada yang berbeda dari barang yang dijajakan perempuan berpawakan gempal itu. Berdasarkan informasi, Atik merupakan salah satu pedagang telur penyu di Kota Pemangkat. Ia mendapat suplai dari pengepul telur penyu di kota itu.

Untuk menjual telur penyu, Atik tidak sembarangan menawarkan kepada orang yang belum ia kenal. Atik menyimpan telur penyu dagangannya cukup rapi. Tidak seperti barang dagangan lain yang digelar atas lapak secara terbuka. Telur-telur itu disimpan di sebuah kotak kardus, dan hanya akan dikeluarkan jika ada yang bertanya. Itupun ia harus super hati-hati, jangan-jangan orang tersebut polisi atau petugas lain yang sedang menyamar.

Seperti layaknya transaksi narkoba, Pontianak Post yang menyambangi kiosnya pun harus berpura-pura sebagai pembeli buah untuk menyakinkan Atik. Karena sedikit salah saja, maka transaksi akan gagal. Dengan tanpa curiga, ia pun melayani layaknya pedangang lainnya. 

Beberapa jenis buah-buahan saya beli dan sudah masuk dalam kantong plastik. Untuk membuktikan kebenaran itu, saya pun memberanikan diri untuk bertanya soal telur penyu kepada Atik.  “Telok penyo’ ade ke? (Ada telur penyu kah),” tanya saya dalam bahasa setempat.

“Ade. Nak berape igek? Yang tawar, tige igek sepuluh ribu. Mun  yang masing, ampat igek sepuluh ribu  (ada. Mau berapa banyak? Yang tawar, tiga butir sepuluh ribu,  kalau yang asin, empat butir sepuluh ribu),” jelas Atik.  “Saye nak yang masing same yang tawar (Saya mau yang asin dan tawar).”  

Lalu, Atik pun membuka kotak kardus dan mengeluarkan serta menunjukan beberapa butir telur dari kotak itu. Ia pun mengambil kantong kresek dan meletakannya di atas timbangan. Satu persatu telur diambil dan dimasukan ke kantong kresek hitam itu.  Menurut Atik, telur penyu yang masih tawar harganya lebih mahal dari pada telur yang sudah diasinkan. Berbeda dengan telur bebek, yang asin justru lebih mahal. 

Saya semakin penasaran. Dari mana asal usul telur penyu tersebut? Spontan, raut wajah Atik berubah dan menunjukan rasa curiga. Maklum saja, kecurigaan Atik bukan tanpa alasan. Beberapa minggu sebelumnya, seorang pedagang bernama Siswandi Sukardi warga Jalan Pembangunan, Desa Penjajap, Pemangkat Kabupaten Sambas diamankan BKSDA Kalbar karena menjual telur penyu. Meskipun akhirnya dilepas dan hanya diminta untuk menandatangani surat pernyataan.

Menurut Atik, telur penyu yang ia jajakan merupakan telur penyu dari Pulau Serasan, Pulau Tambelan, Kepulauan Riau. Telur penyu itu ia dapat dari seorang pengepul di Pemangkat. “Saya ngambe’ daan banyak, cume 100 igek (Saya ambil tidak banyak, hanya 100 butir),” ujar Atik. 

Dalam setiap butirnya, kata Atik, ia mengambil untung antara 500 sampai 1000 rupiah. Selain dari pengepul, ada juga dari pedagang asal Pulau Serasan yang sengaja datang menjual telur penyu di Pemangkat melalui pelabuhan Pemangkat. Namun tak sedikit melakukan transaksi dengan sistem barter. “Biasanye jak ade yang bawa’. Urang sinun (Pulau Serasan) datang bawa’ telok penyo’ lekak ye disitok tukar ngan buah (Biasanya ada yang bawa, orang sana datang bawa telur penyu dan disini ditukar dengan buah),” lanjutnya.

Tidak setiap hari ia mendapatkan telur penyu, melainkan seminggu sekali. Sesuai dengan jadwal kedatangan kapal. Menurutnya, selain dijual di beberapa pasar di Pemangkat, telur penyu juga dibawa ke Serikin, Malaysia untuk dijual di sana. “Ade juak yang jual ke Malaysia. Mun saye daan suah (Ada juga yang dijual di Malaysia. Kalau saya tidak pernah),” bebernya.

Matahari sudah mulai condong ke barat. Hari menunjukan pukul 14.00 wib. Penelusuran Pontianak Post tidak berhenti sampai di situ. Beberapa lokasi, seperti pasar dan pelabuhan pun ditelusuri. Dengan ditemani Rinaldi, seorang aktivis lingkungan setempat, saya pun berangkat ke pasar ikan lama di Kecamatan Pemangkat. 

Tak banyak aktivitas di pasar itu. Sebagian besar pedagang sudah menutup toko dan lapak dagangannya. Hanya ada beberapa toko yang masih buka dan melayani pembeli. Salah satunya kios yang menjual ikan kering, misalnya. Di kios itu,  kami pun mengorek informasi tentang perdagangan telur penyu yang kerap dijual di sana.  

“Di sitok mun pagi ade yang jual. Tapi mun dah siang gitok sean agek (Di sini kalau setiap pagi ada yang jual. Tapi kalau sudah siang begini, tak ada lagi),” kata seorang pedagang ikan asin di Pasar Ikan lama, Pemangkat itu.

Di kios lain pun menyatakan hal serupa. “Dah daan suah jual agek. Kinitok dah banyak razia. Saye suah diamankan polisi gare-gare jual telok penyo’ (Sudah tak jual lagi. Sekarang banyak razia. Saya pernah diamankan polisi gara-gara menjual telur penyu),” katanya.

Akhirnya kami pun memutuskan untuk melakukan penelusuran di Pelabuhan Pemangkat. Pelabuhan ini disinyalir sebagai jalur masuknya telur penyu dari Pulau Serasan ke Kabupaten Sambas. Setibanya di pelabuhan itu, terlihat banyak kapal-kapal ikan maupun kapal penumpang bersandar. Aktivitas pelabuhan pun sepi. Hanya ada beberapa awak kapal yang sedang membenahi kapalnya.

“Kapal tok baro’ nak berangkat. Minggu depan baro’ datang agek (Kapal kapal ini baru mau berangkat. Minggu depan baru datang lagi),” papar seseorang di pelabuhan itu.

Menurut Rinaldi, perdagangan telur penyu di Pemangkat sangat tertutup. Sejak sering dilakukan razia oleh petugas beberapa waktu lalu. Namun demikian, masih banyak pedagang yang nekat menjual telur penyu. Meskipun harus kucing-kucingan dengan petugas.

Perdagangan Telur Penyu di Serikin, Malaysia

Pasar Pekan Serikin, Sarawak, Malaysia merupakan pasar yang mengiurkan bagi para pedagang di perbatasan. Berbagai komoditas dijajakan di sana seperti, pakaian, aneka kuliner, hasil tertanian dan kebun, peralatan rumah tangga sampai barang antik. Telur penyu juga menjadi salah satu komoditas yang di jual di sana. 

Serikin terletak di sepadan perbatasan Indonesia-Malaysia, tepatnya sekitar 319 km dari Kota Pontianak dan berbatasan langsung dengan Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Pasar yang hanya beraktivitas pada akhir pekan, Sabtu dan Minggu ini sangat potensial untuk meraup keuntungan. Selain alasan nilai tukar Ringgit lebih tinggi dibanding Rupiah, pasar ini menjadi tujuan wisata bagi pengunjung dari berbagai Negara. Dengan berbekal surat pengantar dari Kantor Imigrasi Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang Pontianak Post pun masuk ke Negara tetangga itu.

Matahari sedikit meninggi ketika saya menjejakan kaki di Serikin. Jarak antara Kecamatan Jagoi Babang dengan pasar rakyat itu tidak terlalu jauh, sekitar delapan kilometer. Untuk masuk ke sana memang tidak seketat masuk melalui border atau pos lintas batas lainnya. Tidak perlu menggunakan paspor, karena PLB Jagoi Babang bukan pos lintas batas resmi. Bagi masyarakat perbatasan sendiri hanya dibekali Pas Lintas Batas yang bisa digunakan keluar masuk ke Malaysia kapan saja.

Pintu pemeriksaannya pun sangat longgar. Bahkan saya menjalani pemeriksaan satu kali, itupun  di pos penjagaan tentara Malaysia. Selebihnya bebas keluar masuk. Padahal di sana ada pos terpadu yang dijaga oleh berbagai instasi, seperti Karantina, Bea dan Cukai, Imigrasi, BKSDA Kalbar, TNI dan Polisi.  Tak heran jika wilayah ini kerap digunakan sebagai jalur penyelundupan, selain dari jalan tikus yang tersebar di sepanjang garis perbatasan. 

Di pasar rakyat dengan pajang kurang lebih 1 kilometer itu, Pontianak Post melakukan penelusuran. Satu persatu kios atau lapak disambangi. Tapi memang sangat sulit menemukan pedagang yang menjual telur penyu secara terbuka di sana.

Sepertinya Malaysia juga memproteksi perdagangan satwa dilindungi. Hal itu terlihat dari beberapa poster bergambar jenis satwa ditempel di tempat umum, salah satunya di Bau Serikin. Poster itu bertuliskan “Totally Protected wild Life Of Sarawak; Don’t Hunt, keep, sell or eat!!”. Di dalam poster tersebut juga dituangkan acamanan bagi siapa saja yang melakukan perburuan, perdagangan atau memankan satwa yakni dengan ancaman denda maksimal RM450,000 atau kurungan penjara 5 tahun.

Namun demikian, telur penyu tetap menjadi komoditas unggulan di sana. Meskipun tak sebanyak dulu, tapi perdagangan telur yang diyakini memiliki khasiat untuk vitalitas lelaki ini sangat digemari di sana. 

Setidaknya ada dua titik pedagang yang menjual telur penyu. Salah satu diantara pedagang keripik yang menyambi menjual telur penyu. Di Serikin, nilai jual telur penyu relative lebih mahal di bandingkan di Indonesia. Delapan butir telur penyu dijual degan harga 10 ringgit atau Rp33.000 (nilai tukar Rupiah ke Ringgit Rp3.300/satu ringgit). Atau satu satu butir telur penyu dijual Rp4.125. “Delapan butir 10 Ringgit. Telurnya besar-besar lho bang,” katanya sembari memperlihatkan telur penyu yang disimpan di bawah kolong meja. Menurutnya, telur penyu tersebut berasal dari Indonesia. Ia hanya dititipi oleh seseorang untuk menjualkan telur penyu tersebut. “Ini dari Indon (sebutan Indonesia di Malaysia)” katanya.      Setiap menjual telur penyu, ia mengaku mendapatkan untung RM1 atau sekitar Rp.3.300. “Orang yang punya ngasih harga 9 Ringgit dan saya hanya ambil untung 1 Ringgit saja,” terangnya. (arf) 

Berita Terkait