Jejak Antimoni di Bekas Galian Zaman Jepang

Jejak Antimoni di Bekas Galian Zaman Jepang

  Minggu, 2 December 2018 08:24
TAMBANG ANTIMONI: Lokasi penambangan antimoni milik PT. Makmur Pratama Indonesia (PT. MPI) yang terletak di Dusun Mangelai, Desa Riam Mengelai, Kecamatan Boyan Tanjung, Kabupaten Kapuas Hulu. Di lokasi itu tampak kolam dengan genangan air berwarna kehijauan bekas tambang. ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Provinsi Kalimantan Barat memiliki kekayaan alam berupa bahan tambang. Salah satunya adalah antimoni atau stibium (Sb). Baru-baru ini, aparat keamanan di Kabupaten Kapuas Hulu berhasil menggagalkan upaya penyelundupan 4,5 ton batu antimoni ke Malaysia. Pontianak Post pun berupaya menelusuri lokasi di mana antimoni tersebut diperoleh.

Arief Nugroho, Putussibau

ANTIMONI merupakan bahan tambang yang unsur kimianya menyerupai logam ini biasa dimanfaatkan untuk bahan pembuatan perangkat semikonduktor seperti dioda dan detektor inframerah. 

Unsur kimia beracun ini juga digunakan sebagai bahan untuk membuat baterai, senjata ringan, jenis peluru tertentu serta pembungkus kabel. Berdasarkan data potensi sumber tambang yang dikeluarkan oleh Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Kalbar, bahan galian antimoni terdapat di Desa Riam Mangelai, Kecamatan Boyan Tanjung, Kabupaten Kapuas Hulu. 

Antimoni yang berada di daerah ini memiliki kadar sekitar 40-60 persen. Penambangan antimoni di daerah itu disebut-sebut sudah dilakukan sejak lama. Bahkan, ada yang mengatakan sejak zaman Jepang. Kini penambangan di Desa Riam Mengelai, Kecamatan Boyan Tanjung dikuasai oleh PT. Makmur Pratama Indonesia (PT. MPI).

Belum lama ini, perusahaan pertambangan itu dikaitkan dengan upaya penyelundupan 4,5 ton batu antimoni ke Malaysia yang berhasil digagalkan aparat, Rabu (28/11). Barang tambang ini dibawa melalui jalur tidak resmi ke wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia di Kecamatan Nanga Badau.  

Tim Gabungan Pengamanan Perbatasan (Pamtas) bersama aparat Kepolisian Resort Kabupaten Kapuas Hulu menangkap sopir beserta truk saat akan melakukan bongkar muat di sekitar Jalan Sebindang, Kecamatan Badau, Kabupaten Kapuas Hulu. 

Untuk menelusuri kasus ini, Pontianak Post mencoba mendatangi lokasi penambangan antimony PT. MPI. Siang itu, Jumat (30/11), dengan didampingi warga setempat, Pontianak Post masuk ke area pertambangan. Lokasinya berada sekitar sembilan kilometer dari ibu kota Kecamatan Boyan Tanjung.

Akses menuju ke lokasi sudah cukup baik meskipun berada di kaki bukit. Selain jalan yang sudah beraspal, letaknya juga tidak jauh dari pemukiman warga. Dari Dusun Mangelai, lokasi tempat pertambangan PT MPI hanya berjarak sekitar 200 meter.

Setibanya di lokasi penambangan, kami tidak melihat adanya aktivitas apapun. Area itu kosong. Tak ada penjagaan sekuriti maupun karyawan yang sedang bekerja. Di area penambangan, ada dua ekskavator yang sedang terparkir. Satu unit terlihat sudah rusak. Sedangkan yang satunya lagi tampak seperti baru. 

Di lokasi itu juga terlihat pemondokan  dua lantai yang terbuat dari papan. Mirip seperti pos penjagaan. Di dinding luar terpampang plang dari kayu bertuliskan PT. Makmur Pratama Indonesia. Di sisi sebelah kiri terdapat tenda terpal serta gundukan tanah merah dan kerikil hitam sisa kegiatan penambangan. 

Kemungkinan di bawah naungan tenda itulah para pekerja memecahkan batu dan kemudian memilah-milahnya untuk mencari batu yang mengandung antimoni. Sekitar 50 meter dari tempat itu, ada sebuah kolam besar dengan genangan air berwarna kehijauan. 

Di sisi kanan dan kirinya juga terdapat tenda terpal. Di bawah tenda ada mesin penyedot dan kompresor. Di situ pula terdapat sumur atau terowongan menuju ke dalam tanah. Mulut terowongan itu kira-kira berukuran satu meter. 

“Batu-batu antimoni diambil dari dalam tanah melalui terowongan ini,” kata Bobi Arianto, warga setempat yang mengantarkan kami ke lokasi penambangan.

Menurutnya, PT. MPI sudah beraktivitas di lokasi ini sejak lama. “Tahun 2004 mereka melakukan survei lapangan. Kalau tidak salah waktu itu bersama orang Korea. Kira-kira tahun 2006 mereka mulai melakukan aktivitas penambangan,” ujarnya.

Hal yang sama juga diungkapkan Hamdani. Mantan Ketua BUMDes itu dulunya pernah terlibat langsung dalam proses survei lapangan bersama perangkat desa dan pihak perusahaan. Ia menyebutkan, untuk menentukan titik penambangan antimoni tidaklah mudah. Sebab banyak ditemukan sampel batu antimoni yang berserakan di permukaan tanah. 

Hamdani juga menyebutkan, area tersebut pernah menjadi lokasi pertambangan Jepang. “Di situ dulunya memang area pertambangan sejak zaman Jepang. Dulu ada terowongannya juga. Tapi sekarang sudah tertutup,” katanya.

Terkait dengan luasan area yang dikelola oleh PT MPI, kata Hamdani, dirinya tidak mengetahui secara rinci. Menurutnya, lahan yang dikelola merupakan lahan milik masyarakat yang dibeli secara bertahap.

“Kalau luasannya saya kurang tahu. Yang jelas lahan yang mereka kelola ini merupakan lahan masyarakat yang mereka beli secara bertahap,” katanya.

Awal mula dilakukan penambangan, lanjut Hamdani, perusahaan melakukan MoU dengan kepala desa, dimana pihak perusahaan akan mempekerjakan masyarakat desa.

“Dulu memang ada perjanjiannya. Semacam MoU. Karyawannya ya orang sini. Sedangkan sisanya orang luar. Ada yang orang Pontianak, ada juga orang Bandung. Kalau tenaga kerja asing, saya tidak tahu,” paparnya.

Selain terlibat dalam survei lapangan, Hamdani pun pernah bekerja sebagai sopir truk saat proses land clearing kawasan selama kurang lebih satu tahun.

Penambangan dimulai dengan cara pengeboran ke dalam tanah sedalam 80 meter. Selanjutnya dilakukan penggalian. Bahkan, tidak jarang perusahaan menggunakan dinamit untuk meledakan batu.

Saat ini, kata Hamdani, karyawan yang bekerja di perusahaan tambang tersebut sudah tidak banyak lagi. Bahkan aktivitasnya cenderung berkurang. “Kalau tidak salah perusahaan ini sudah berpindah tangan. Dulu Pak Goenawan Hadibrata yang pegang. Sekarang saya tidak tahu. Orang China kalau tidak salah,” ungkapnya.

Terkait dengan penyelundupan batu antimoni ke Malaysia melalui jalur tikus, ia mengaku tak tahu-menahu dan baru saja mendengarnya. “Tadi pagi ada kawan datang ke rumah. Dia bilang kalau perusahaan sudah menyelundupkan antimoni ke Malaysia. Saya pun kaget,” ujarnya.

Ia malah curiga batu antimoni yang diselundupkan diambil dari lokasi lain, bukan di desanya ini. “Saya khawatir mereka mengambil barangnya dari desa sebelah (bekas penambangan PT. Cosmos Inti Persada) dan dibawa ke MPI sebelum diselundupkan ke Malaysia,” katanya.

Hamdani menyebutkan, bekas area PT Cosmos itu memang sudah terbukti mengandung berbagai jenis barang tambang. Mulai dari emas, antimoni, sampai uranium. “Sejak dulu memang sudah ada. Sejak zaman Jepang. Dari almarhum orang tua kita sudah mulai kerja,” sambungnya.(*)

Berita Terkait