Jeda Hujan Tingkatkan Resiko Asap dan Karhutla

Jeda Hujan Tingkatkan Resiko Asap dan Karhutla

  Kamis, 22 March 2018 09:05   242

PENULIS: FIRSTA ZUKHRUFIANA SETIAWATI, S.Tr

WiILAYAH Kalimantan Barat dikenal berpotensi asap dan karhutla (kebakaran hutan dan lahan) saat memasuki periode penurunan curah hujan. Penurunan curah hujan salah satunya ditandai dengan terjadinya jeda hujan (hari tanpa hujan) yang dipengaruhi oleh kondisi fluktuasi atmosfer di wilayah Kalimantan Barat dan sekitarnya. Karakter iklim dan ciri khas kondisi dinamika atmosfer wilayah Kalimantan Barat dan beberapa kejadian bencana, seperti asap dan bencana hidrometeorologis menjadi sebuah keterkaitan, sehingga masyarakat Kalimantan Barat perlu bertindak aktif memonitor informasi iklim (impact based forecast) sebagai bagian mitigasi.Wilayah pesisir Kalimantan Barat banyak kemunculan titik panas pada bulan Februari 2018 lalu, jumlah kejadian titik panas pada periode dasarian kedua (sepuluh hari kedua) bahkan sekitar 376 kejadian. Berdasarkan kajian yang telah dilakukan oleh tim Stasiun Klimatologi Mempawah beberapa waktu lalu, secara umum setiap kejadian munculnya titik panas, karhutla bahkan asap selalu didahului dengan periode kering, periode kering termaksud adalah jeda hujan atau hari tanpa hujan yang terjadi berturut-turut selama beberapa periode. 

Sebanyak 9 kabupaten di wilayah Kalimantan Barat terdapat kemunculan titik panas yang signifikan pada Februari lalu, terutama dasarian kedua. Kemudian, diikuti pula dengan fenomena asap di kabupaten Mempawah, Kubu Raya, Ketapang, dan Kota Pontianak. Para kepala daerah juga telah menetapkan status siaga darurat asap sebagai tindakan mitigasi. Kondisi ini merupakan impact atas pengaruh panjangnya jeda hujan hampir di sebagian besar wilayah Kalimantan Barat, terutama wilayah pesisir. Sangat menarik bicara tentang jeda hujan yang memiliki efek signifikan untuk wilayah Kalimantan Barat. Pada bulan Februari 2018 lalu, terpantau bahwa suhu muka laut (selanjutnya disingkat : SML) lebih rendah dari biasanya. Kondisi SML seperti ini tidak mendukung aktivitas penguapan hingga pembentukan awan yang secara linier tidak mendukung terjadi hujan.

Selain hal tersebut, gerak angin di wilayah Kalimantan Barat juga sangat berpengaruh pada fenomena meningatnya jeda hujan bulan Februari 2018 lalu. Kondisi curah hujan pada dasarian pertama (1-10 Februari 2018) dilaporkan sekitar 0-151 mm/dasarian (intensitas rendah hingga tinggi), curah hujan intensitas rendah (0-50 mm/dasarian) terjadi di sepanjang pesisir Kalimantan Barat. Kondisi ini didukung oleh adanya belokan angin (shearline) yang rapat di bagian hulu, sedang renggang di pesisir Kalimantan Barat. Belokan angin (selanjutnya disebut shearline) sederhana dapat mendukung terkumpulnya massa udara di daerah belokannya, sehingga mendukung pembentukan awan dan hujan. Semakin rapat shearline maka potensi pembentukan awan dan hujan akan semakin tinggi. Dasarian pertama ini jeda hujan sekitar 1 - 3 hari, pada panjang jeda hujan ini hotspot belum signifikan.

Kondisi curah hujan pada dasarian kedua (11-20 Februari 2018) dilaporkan menurun drastis untuk seluruh wilayah Kalimantan Barat, yaitu 0-50 mm/dasarian (intensitas rendah). Pada dasarian kedua ini pengaruh kondisi anomali SML berasosiasi dengan gerak angin yang mendukung fenomena penurunan curah hujan. Hal ini juga mendukung terjdinya jeda hujan yang cukup panjang, yaitu rata-rata sepanjang 13 - 16 hari dan hotspotnya signifikan terjadi di daerah yang memiliki lahan gambut (kabupaten Mempawah, Ketapang dan Kubu Raya). Namun, dasarian ketiga kondisi fluktuasi curah meningkat kembali hampir di seluruh wilayah Kalimantan Barat, jeda hujan mulai berkurang sehingga hotspot berangsur-angsur berkurang. Secara umum curah hujan wilayah Kalimantan Barat terutama bagian pesisir lebih kering dibandingkan normalnya sebesar 31 - 50%.

Hal menarik yang terjadi adalah jeda hujan yang terjadi di wilayah bergambut menyebabkan adanya hotspot yang lebih banyak bila dibandingkan daerah dengan curah hujan yang lebih tinggi. Berdasarkan data dari Badan Restorasi Gambut (BRG), total luas lahan gambut di wilayah Kalimantan Barat adalah 1.679.950 Ha, wilayah dengan lahan gambut terluas adalah kabupaten Kubu Raya yaitu 526.382 Ha, diikuti oleh Kapuas Hulu (265.615 Ha), Ketapang (255.374 Ha), Kayong Utara (216.150 Ha), Sanggau (84.054 Ha), Sambas (78.257), Mempawah (66.288 Ha), Sintang (65.534 Ha), Landak (54.865 Ha), Bengkayang (43.502 Ha), Sekadau (11.260 Ha), Pontianak (6.886 Ha), Singkawang (365 Ha). Berbanding lurus dengan luas lahan gambut, Kubu Raya terjadi hotspot paling banyak. Rata-rata kejadian hostpot selama bulan Februari 2018 yaitu 150 kejadian di Kubu Raya, disusul dengan Mempawah sebanyak 131 kejadian dan Ketapang sebanyak 118 kejadian.

Kondisi iklim di wilayah Kalimantan Barat pada bulan Februari 2018 lalu pada nyatanya sangat mempengaruhi kejadian hotspot hingga terjadinya karhutla di beberapa kabupaten hingga menimbulkan asap. Oleh karena itu, hendaknya masyarakat dapat memanfaatkan informasi iklim sebagai tindakan mitigasi. **

Penulis: Forecaster Staklim Mempawah