Jangan Jadikan Bertani Kerja Sampingan

Jangan Jadikan Bertani Kerja Sampingan

  Selasa, 27 September 2016 09:30
TANAM PADI: Bupati Kapuas Hulu AM Nasir bersama unsur Forkopinda saat menanam padi perdana di lahan sawah masyarakat di Nanga Awen, Kecamatan Putussibau Utara. MUSTA’AN/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PUTUSSIBAU – Sebagian besar penduduk Kapuas Hulu berstatus sebagai petani, di mana umumnya mereka bercocok tanam (berladang) berpindah-pindah. Pekerjaan menanam padi masih sebagai pekerjaan sampingan, untuk memenuhi kebutuhan keluarga sendiri. Menanggapi itu, Bupati Kapuas Hulu AM Nasir pun meminta para petani agar serius menggarap lahan pertanian mereka seperti petani Jawa dan Sulauwesi.

 
“Masyarakat Kapuas Hulu umumnya petani, tetapi tak menekuni pekerjaannya sebagai petani secara serius, sehingga hasilnya tidak bisa mencukupi untuk makan keluarga sendiri dalam satu tahun,” tutur Nasir. Masyarakat, menurut dia, tetap masih membeli beras untuk memenuhi kebutuhan keluarga sampai pada musim panen berikutnya. Kondisi yang diakui dia berbeda dengan petani di Pulau Jawa, di mana beras hasil bertani mereka jual.   

Lebih lanjut Nasir mengatakan, keseriusan petani dalam mengelola lahan pertanian, merupakan kunci keberhasilan dalam meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani itu sendiri. Maka, dia berharap agar pekerjaan bertani jangan dijadikan sampingan, melainkan harus menjadi perioritas. “Jangan dengar orang kerja emas berhasil, lalu mau ikut kerja emas juga. Lahan pertanian lalu ditinggalkan,” sesal dia.

Jika ingin sukses sebagai petani, menurut dia, para petani mesti serius menggarap lahan yang sudah disiapkan pemerintah, yakni lahan sawah. “Budaya di masyarakat kalau menjual beras, tak boleh. Jadi, bertani benar-benar untuk sendiri. Padahal petani di Pulau Jawa itu menjual beras,” paparnya.

Untuk mewujudkan swasembada pangan, Bupati berjanji ke depan untuk sektor pertanian akan terus digenjot oleh pemerintah. Dia juga menambahkan bahwa untuk Kapuas Hulu ini, diupayakan untuk mengembangkan komoditas jagung dan percetakan sawah yang telah direalisasikan, atas kerja sama Kementerian Pertanian dan TNI. “Saya akan kembangkan jagung di lahan yang sudah disiapkan seluas 7 hektare lebih. Jadi tinggal bagaimana komitmen bersama para petani dan instansi teknis dalam memberikan bimbingan melalui para penyuluh pertanian,” tutur dia.

Nasir menegaskan bagaimana pemerintah serius memperhatikan bidang pertanian. Apalagi, dia menambahkan, Kapuas Hulu merupakan salah satu kabupaten yang berbatasan langsung dengan Malaysia yang berpotensi dijadikan sebagai pintu ekspor produk dalam negeri, termasuk hasil petani lokal Kapuas Hulu. “Jangan malah sebaliknya, masyarakat Kapuas Hulu ini justru bergantung dengan commodity pertanian dari negara lain,” kata dia.

Dikatakannya, di Kapuas Hulu masih banyak lahan tidur yang bisa dimanfaatkan untuk bertani secara serius. Bupati yakin, semua tergantung masyarakat apakah mau atau tidak dalam menggarapnya. Diingatkan dia, jika para petani tak bisa membaca peluang dan tidak bisa bersaing, maka akan tergilas. Nasir juga meminta masyarakat agar serius dalam bertani, berkebun, serta bertenak.

“Pekerjaan apapun jika tak serius, tidak bisa membuahkan hasil maksimal,” tegasnya. (aan)

Berita Terkait