Jangan Jadi Kebiasaan

Jangan Jadi Kebiasaan

  Kamis, 18 April 2019 09:09

Berita Terkait

BULAN April identik dengan bulan ujian akhir anak sekolah. Yup, siswa-siswi kelas VI, IX dan XII dari jenjang pendidikan SD-SMA wajib mengikuti ujian akhir yang selalu dimulai di bulan April. Tentunya, ujian akhir atau tes yang lain selalu dibayang-bayangi oleh tindakan menyontek.

Menyontek ini nggak hanya dilakukan oleh siswa-siswi, para mahasiswa nggak dapat dipungkiri masih melakukan tindakan menyontek saat kuis, UTS hingga UAS. Bahkan di hal sederhana seperti tugas kuliah atau PR masih ditemukan praktik menyontek.

“Berbagai faktor dapat memengaruhi tindakan menyontek. Mulai dari faktor internal diri siswa, guru, orang tua, sistem pendidikan, sistem evaluasi, lingkungan, dan kelompok siswa,” ujar Indah Tri Octavia, M.Psi, selaku psikolog.

Salah satu contoh disebabkan karena para pelajar yang nggak mau bersusah payah belajar sehingga menyontek. Orang tua yang terlalu berorientasi pada nilai juga akan membuat anak berusaha menghalalkan segala cara agar mendapatkan nilai yang baik meskipun harus dengan menyontek.

Menyontek merupakan salah satu bentuk ketidakjujuran. Kebiasaan ini jika dibiarkan terus menerus dilakukan, maka ada kemungkinan anak akan berpikir bahwa tidak jujur atau curang adalah hal yang biasa dan boleh dilakukan. Kebiasaan menyontek juga dapat berimbas pada hancurnya karakter para penerus bangsa karena jujur menjadi salah satu karakter penting utama yang seharusnya dimiliki individu.

“Menyontek dalam bentuk apapun tentu tidak baik. Sekreatif apapun seseorang menyontek, tetap aja yang dilakukannya adalah sebuah kecurangan karena ia mendapatkan manfaat dari sesuatu yang nggak ia usahakan sendiri,” tambah alumnus SMA Muhammadiyah 1 Pontianak ini. 

Sayangnya, kasus menyontek masih belum tertangani dengan benar oleh orang-orang yang mendampingi pelajar. Kasus-kasus menyontek terkadang diabaikan dan nggak diprioritaskan untuk diselesaikan, sehingga pelajar beranggapan hal tersebut menjadi sesuatu yang lumrah. 

Pengalaman berhasil meraih nilai baik dengan menyontek ini kemudian menjadi referensi bagi pelajar untuk kembali mengulanginya sehingga menjadi sebuah kebiasaan. Pada awalnya karena belum terbiasa, ada rasa bahwa hal tersebut sulit dilakukan dan bertentangan dengan nilai-nilai yang selama ini telah ditanamkan. 

Namun seiring berjalannya waktu dan seringnya pengulangan perilaku, tindakan ini menjadi semakin terasa mudah. Bahkan perasaan bersalah bisa menghilang karena terbentuknya pandangan yang baru dalam menilai perilaku menyontek.  Meningkatkan kontrol terhadap siswa dapat dilakukan untuk menghilangkan kebiasaan menyontek. 

“Orang tua atau guru juga hendaknya memotivasi anak agar lebih percaya diri untuk berusaha belajar mandiri. Selain itu, lingkungan juga sebaiknya memiliki aturan penanganan pelanggaran menyontek yang jelas. Hal tersebut nggak hanya tertulis, namun diaplikasikan dengan konsisten pada siapa pun anak yang melanggar,” pungkasnya. (ind)

Berita Terkait