Jam Pelajaran pun Harus Dimampatkan Jadi 30 Menit

Jam Pelajaran pun Harus Dimampatkan Jadi 30 Menit

  Kamis, 2 June 2016 09:30
SARAPAN : Sarapan pun di dalam perahu

Berita Terkait

Bukan cuma kendala jarak, para guru di SMAN Kampung Laut juga berhadapan dengan kultur warga yang tak memprioritaskan pendidikan. Angin kencang, kipas perahu lepas, sampai kebakaran adalah sebagian risiko yang harus dihadapi saat menyeberangi laut. 

Gunawan Sutanto, Jakarta

’’WAH udan, sarapane asin kabeh kiye,’’ ucap perempuan berkerudung yang terdapat dalam rombongan di atas perahu motor kecil atau compreng itu. Perempuan tersebut baru saja membuka kotak makannya ketika perahu motor mulai berangkat.

Hujan sebenarnya tak deras pada Selasa pagi empat pekan lalu (10/5) itu. Tapi, tetap saja menerobos terpal penutup perahu. Buru-buru perempuan tadi membungkus lagi bekal makannya.

Rombongan di atas perahu motor itu adalah guru-guru asal Cilacap. Tiap hari, seperti pagi itu, mereka menunaikan kewajiban mengajar di SMA Negeri Kampung Laut. Sebuah sekolah di perkampungan di bibir Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Kampung Laut terletak di tengah sebuah laguna yang disebut Segoro Anakan. Pulau Nusakambangan melindungi segara itu dari hajaran Samudra Hindia.

Menuju Kampung Laut bisa ditempuh dari beberapa dermaga di Cilacap. Salah satunya dermaga navigasi yang tak jauh dari pelabuhan. Dari dermaga navigasi, dibutuhkan waktu dua jam untuk sampai di Kampung Laut. Menembus arus tenang Segoro Anakan.

Air hujan pagi itu tak hanya membuat para guru sulit menikmati sarapan. Mereka juga tak bisa leyeh-leyeh di lantai perahu. Sebab, lantai perahu bermesin tunggal itu mulai kemasukan air.

Padahal, biasanya, saat cuaca cerah, beberapa guru, terutama yang pria, mengisi waktu perjalanan dengan tiduran di lantai perahu. Sebab, banyak di antara guru itu yang harus berangkat dari rumah ketika hari masih gelap.

’’Saya berangkat dari rumah paling lambat jam setengah lima. Sebab, rumah saya jauh,’’ kata Slamet Widodo, guru paling senior di SMAN Kampung Laut. 

Slamet harus berangkat lebih awal karena tinggal di daerah Sudagaran, Banyumas. Rumahnya dan dermaga navigasi di Cilacap terpisah jarak 60 km.

Para guru yang mengajar di Kampung Laut itu tiap hari harus sampai di dermaga navigasi pukul 06.30 tepat. Sebab, jam pelajaran di sekolah harus dimulai sebelum pukul 09.00. Saat ujian nasional, mereka malah harus berangkat lebih awal karena ujian berlangsung serentak pukul 07.30.

Sepanjang perjalanan, perahu yang membawa Pontianak Post  dan rombongan guru itu menyusuri hutan bakau. Dari kejauhan saya bisa menikmati pemandangan perbukitan Nusakambangan.

Termasuk menyaksikan salah satu bangunan penjara di sana. ’’Kalau baru sekali ke sini seperti berwisata, Mas. Tapi, kalau tiap hari, ya kuat-kuat saja melawan angin laut,’’ canda Widodo.

Jaket tebal ditambah rompi pelampung memang menjadi seragam wajib yang harus digunakan agar tak masuk angin. Tapi, masuk angin sejatinya hanyalah secuil ancaman.

Sebagai guru senior di SMA Negeri Kampung Laut, Widodo sering mengalami kejadian yang jauh lebih tak menyenangkan. ’’Kalau Agustus–September, angin laut biasanya kencang. Beberapa kali terpal perahu ini lepas,’’ ceritanya.

Bahkan, Widodo pernah mengalami sendiri kipas perahu motor lepas. Kejadiannya saat pulang dari sekolah dan langit mulai senja. Akhirnya, perahu pun didayung bergantian. Untung, kejadian itu tak jauh dari dermaga.

Kejadian mengerikan lainnya adalah saat perahu motor yang membawa para guru terbakar. Peristiwa itu terjadi pada 2010 ketika para guru hendak berangkat ke sekolah. ’’Sampai di tengah perjalanan, motornya terbakar. Api terus merembet ke bodi,’’ cerita guru lain yang bernama Muhtar.

Praktis semua guru panik. Akhirnya, perahu ditarik merapat ke pinggir. Si jago merah perlahan menghabiskan seluruh bagian perahu. Para guru pun tetap melanjutkan perjalanan. Mereka menumpang compreng (istilah perahu motor) lain milik nelayan yang lewat.

SMA Negeri Kampung Laut sebenarnya punya perahu motor sendiri. Dulu, bahkan ada dua. Namun, kini satu perahu di antaranya mangkrak karena digerogoti usia.

’’Sebenarnya jam masuk sekolah kami buat sama dengan sekolah lain. Tapi, kami menemui beberapa kendala,’’ terang Kepala SMA Negeri Kampung Laut Aris Subekti. 

Kendala utamanya tentu adalah jarak. Sebab, bukan hanya guru, banyak murid SMAN Kampung Laut yang rumahnya juga jauh. Sebagian besar di antara mereka juga harus menempuh perjalanan laut. Terutama yang rumahnya berada di Desa Ujung Alang dan Ujung Gagak.

Desa Ujung Alang dengan SMA yang berada di Desa Klaces memang terpisah laut. Perahu yang mengangkut para pelajar itu biasanya mulai berangkat ketika perahu yang membawa guru melintas di depan dermaga Desa Ujung Alang.

Kendala lain yang didapat pihak sekolah adalah terkait dengan budaya masyarakat setempat. Menurut Aris, masyarakat di Kampung Laut dulu kurang memprioritaskan pendidikan.

’’Jadinya, ketika kelas dimulai pagi, guru-guru justru menunggu siswa datang. Tapi, kini kesadaran akan pendidikan mulai baik,’’ katanya.

Jam sekolah yang pendek (karena terpotong jarak tempuh) membuat pihak sekolah harus memampatkan jam mata pelajaran. Jika di sekolah umum satu mata pelajaran berdurasi 45 menit, di SMAN Kampung Laut dibuat 30 menit.

Pontianak Post sempat mengikuti langsung kegiatan belajar seharian di SMAN Kampung Laut. Kondisi sekolah tersebut bisa dibilang sangat minim. Memang banyak bangunan gedung yang baru. 

Namun, fasilitas dan lingkungannya membuat miris. Misalnya, halaman dan lapangan sekolah yang becek. Lebih mirip rawa yang sedang mengering daripada sebuah lapangan sekolah. 

Alokasi anggaran pendidikan dari Pemkab Cilacap sebesar Rp 90 juta per tahun sering tak mencukupi. Aris mencontohkan anggaran kebutuhan BBM perahu untuk mengantarkan para guru. 

SMAN Kampung Laut selama ini mendapat anggaran BBM Rp 3 juta per tahun. Namun, di lapangan, uang sebanyak itu hanya cukup untuk membeli BBM selama sebulan.

SMAN Kampung Laut punya 23 guru. Tujuh guru di antaranya masih berstatus honorer. Sedangkan yang telah menempuh sertifikasi baru 10 guru.

Tak semua guru tiap hari bisa mengajar di SMAN Kampung Laut. Sebab, ada guru yang harus mengajar di Cilacap untuk memenuhi syarat tunjangan profesi guru, yakni mengajar tatap muka minimal 24 jam. ’’Kalau hanya mengajar di Kampung Laut, syarat itu tidak bisa terpenuhi,’’ kata Aris.

Saat ini SMAN Kampung Laut punya 213 siswa. Terdiri atas 80 siswa kelas X, 87 siswa kelas XI, dan 46 siswa kelas XII. Di Kampung Laut, selain SMA negeri, ada pula sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah dasar (SD). Ada dua SMP dan enam SD dengan kondisi yang tak berbeda jauh dengan SMA. 

Aris menyatakan, kenakalan remaja di Kampung Laut yang sering terjadi masih berkaitan dengan perkelahian antarsiswa yang beda desa. ’’Uniknya di sini itu, kalau terjadi perkelahian bisa merembet hingga mereka yang sedang merantau,’’ ujar Aris.

Konon, nenek moyang warga Kampung Laut adalah keturunan para prajurit Mataram. Mengutip cilacapmedia.com, para prajurit Mataram pada waktu itu datang ke daerah Kampung Laut untuk mengamankan daerah perairan Segoro Anakan dari gangguan bajak laut Portugis. 

Kebanyakan warga Kampung Laut selama ini bermata pencaharian sebagai nelayan. Mayoritas anak mereka merantau selulus kuliah. Kebanyakan tujuannya adalah Jakarta dan Batam. Mayoritas bekerja di tempat-tempat pembuatan perahu, ilmu yang mungkin mereka warisi dari orang tua. 

Selama ini banyak cara yang dilakukan para guru SMAN Kampung Laut untuk membangkitkan semangat belajar siswa mereka. Yang paling sering, menurut Aris, adalah membawa para pelajar itu ke luar untuk berkegiatan di luar Kampung Laut. ’’Biasanya ke Cilacap dan sekitarnya,’’ ungkap Aris.

Nurcindy, salah seorang pelajar kelas X, menyatakan, sebenarnya dirinya juga ingin bisa belajar di luar Kampung Laut. Namun, orang tua tak mengizinkan. Sebab, untuk bersekolah di Cilacap dan sekitarnya, berarti Cindy juga harus tinggal di luar Kampung Laut. (*/c5/ttg)

Berita Terkait