Jalan Ambles Diduga Karena Proyek RS Siloam

Jalan Ambles Diduga Karena Proyek RS Siloam

  Kamis, 20 December 2018 10:01
TANAH AMBLES: Kondisi tanah yang ambles di Jalan Raya Gubeng, Surabaya, Rabu (19/12). Amblesnya jalan ini diduga akibat proyek pengembangan Rumah Sakit Siloam. GALIH COKRO/JAWA POS

Berita Terkait

Polisi Dalami Kemungkinan Pelanggaran SOP

JAKARTA - Polri menduga kuat amblesnya jalan Gubeng sedalam 20 meter merupakan dampak pembangunan basement parkir Rumah Sakit Siloam. Sedang didalami kemungkinan adanya pelanggaran standar operasional prosedur (SOP) yang bisa jadi pemicu robohnya tanah di bawah jalan Gubeng. 

Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menjelaskan, amblesnya jalan Gubeng besar kemungkinan dampak dari pembangunan basement parkir RS Siloam. Metode penggalian dengan eksavator diduga menjadi salah satu pemicu. ”Ada juga tiang penyangga yang dipasang di pinggiran lahan penggalian,” ujarnya. 

Dari semua itu akan dilihat, kemungkinan adanya perhitungan yang salah atau malah ada sesuatu yang di luar SOP. ”Misalnya, ditemukan adanya pengurangan kualitas tiang, dari 10 milimeter menjadi enam milimeter. Selisih ini bisa mengurangi kekuatan. Maka itu bisa disebut sebagai pelanggaran SOP,” paparnya. 

Pelanggaran SOP dalam sebuah proyek sebenarnya beberapa kali terjadi. Seperti halnya, pengeboran oleh PT Lapindo yang mengakibatkan lumpur keluar hingga saat ini dan robohnya jembatan di Kalimantan Timur. ”Ini bisa dipidana, ada kerusakan yang terjadi pada aset orang lain,” tuturnya.

Jeratan hukum bisa berlapis, bila ternyata terdapat korban jiwa dalam kejadian tersebut. Dia mengatakan bahwa kalau ada korban jiwa nanti bisa kena pasal 359 KUHP tentang kelalaian. ”Berlapis kalau korban jiwa,” terangnya. 

Menurutnya, saat ini Polda Jatim telah meminta Polrestabes Surabaya untuk membentuk tim khusus terkait kasus tersebut. Tim ini akan bekerjasama dengan Pemprov Jatim dan Pemkot Surabaya untuk memastikan pemicu kejadian tersebut. ”Audit dilakukan bersama,” ujarnya ditemui di ruang kerjanya kemarin. 

Bagaimana kalau dalam audit tidak ditemukan pelanggaran SOP? Dia menuturkan bahwa kemungkinan tersebut sangat kecil. Secara logika saja, semua sudah mengarah pada pembangunan tersebut. ”Bencana alam kok sulit jadi penyebab,” paparnya. 

Yang juga penting adalah bagaimana mengembalikan secepatnya kondisi jalan Gubeng yang merupakan jalan vital di Surabaya. Setelah penyelidikan dan penyidikan dirasa cukup mengetahui penyebabnya, bila dirasa urgen untuk mengembalikan kondisi jalan itu maka perlu dilakukan renovasi. 

”Renovasi kerusakan jalan ini kbisa dilakukan olah pemerintah daerah, Pemprov atau Pemda. Bergantung status jalan tersebut. Tentu agar aktivitas masyarakat tidak terganggu,” paparnya.

Nantinya, setelah ada vonis persidangan dan menyatakan adanya pelanggaran SOP. Biaya renovasi atau pembangunan jalan itu bisa diklaimkan ke pihak yang membangun. ”Mekanismenya bisa melalui gugatan perdata,” urainya. 

Kabidhumas Polda Jatim Kombespol Frans Barung Mangera menuturkan bahwa untuk Polda Jatim saat ini masih fokus untuk upaya mencegah dalam dari amblesnya jalan Gubeng. Dilakukan pengalihan arus kendaraan dan upaya untuk mengamankan lokasi. ”Kalau informasi yang saya terima itu banyak masyarakat yang menonton, itu malah membuat kami sulit bekerja,” ujarnya.

Untuk penyelidikannya, akan dilakukan pemeriksaan terhadap saksi ahli. Seperti, ahli geologi dan konstruksi. Apakah pembangunan itu yang menyebabkan amblesnya. ”Mereka nanti yang menilai,” paparnya. 

Beredar kabar, amblesnya tanah di Surabaya dikarenakan aktivitas geologi Sesar Waru dan Sesar Surabaya. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho membantah hal itu. Kemarin (19/12) dia menjelaskan bahwa pada saat bencana itu terjadi, tidak ada aktivitas geologi sama sekali. ”Kalau menurut seismograf ada dua kali amblesan. Pukul 21.51 dan 22.30,” tuturnya. 

Sutopo juga mengatakan bahwa ada kesalahan konstruksi dengan tidak adanya dinding pembatas pada kontruksi. Hal itu diperparah dengan air hujan yang membuat tanah semakin berat. Akibatnya tanah bergerak ke arah penggalian. ”Kejadian ini mirip dengan penggalian batubara di Kalimantan Timur beberapa minggu yang lalu,” kata Sutopo. 

Dia menyarankan agar pemerintah membentuk tim independen untuk melakukan evaluasi. Pemerintah Kota Surabaya juga disarankan agar mengevaluasi pelaksanaan kontruksi. ”Selain itu harus ada audit forensic di sekitar bencana untuk mengetahui potensi apa yang akan terjadi,” ucapnya. 

Klarifikasi RS Siloam

Sementara itu, RS Siloam kemarin mengirim rilis untuk menanggapi amblesnya jalan di dekat lokasi gedung mereka. Dalam siaran persnya, General Affair Manager Rumah Sakit Siloam Surabaya Budijanto Surjowinoto menyatakan bahwa memang benar sedang dilakukan pembangunan sarana ritel dan kesehatan di sana. Namun, disebutkan bahwa pihak RS Siloam Surabaya hanya sebagai pengguna/penyewa pada saat pembangunan selesai. ’’Pemilik proyek telah menyerahkan pelaksanaan proyek sepenuhnya kepada kontraktor, yaitu PT Nusantara Konstruksi Engineering (NKE),’’ ujar Budijanto dalam keterangan tertulisnya. Tapi, tidak disebutkan siapa pemilik proyek yang dia maksud. 

Yang ada hanya penjelasan bahwa PT NKE sebagai kontraktor proyek telah berkoordinasi dengan PT Bina Marga, Pemkot Surabaya, dan semua instansi terkait untuk memastikan keamanan sekitar proyek. ’’Dan segera melakukan perbaikan sehingga jalan bisa berfungsi kembali,’’ bebernya. Budijanto juga memastikan bahwa seluruh pasien yang sedang dirawat di RS Siloam Surabaya tetap aman dan rumah sakit beroperasi seperti biasa. ’’Kami berharap musibah ini segera diselesaikan. Kami juga mendukung sepenuhnya investigasi yang dilakukan instansi terkait,’’ katanya. 

Selesai Lima Hari

KEMENTERIAN Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) berjanji segera memperbaiki badan jalan yang ambles di Jalan Raya Gubeng, Surabaya. Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menyatakan, pihaknya akan bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. ”Kami targetkan tiga–lima hari jalan sudah bisa dilalui kembali meski belum permanen,” kata Basuki di Jogjakarta kemarin (19/12). 

Dirjen Bina Marga Kementerian PUPR Sugiyartanto menyampaikan, pekerjaan penanganan sementara Jalan Gubeng akan menunggu hasil investigasi Komite Keselamatan Konstruksi (Komite K2) dan tim Kementerian PUPR. Mengenai penyebab amblesnya jalan, Sugiyartanto mengatakan, hal itu terjadi karena tanah di bawah jalan yang terambil oleh pekerjaan pembangunan rumah sakit. ”Kami tidak ingin menyalahkan siapa pun. Kami juga tidak ingin bicara status jalannya, tetapi bagaimana kita segera menangani agar bisa berfungsi kembali,” tuturnya.

Mengenai status Jalan Raya Gubeng, dijelaskan ada bagian jalan yang menjadi kewenangan daerah dan ada yang merupakan jalan nasional yang menjadi kewenangan pusat. Jalan Raya Gubeng yang masuk jalan nasional mulai batas ruas Jalan Stasiun Gubeng (Hotel Sahid) sampai Jalan Biliton. Lokasi yang ambles di depan Bank BNI tidak termasuk jalan nasional.

Kementerian PUPR kemarin menerjunkan Tim Geoteknik Pusjatan Balitbang dan Komite K2 untuk menginvestigasi penyebab amblesnya jalan. Kementerian PUPR melalui Ditjen Bina Marga akan memastikan sistem jaringan jalan tidak terganggu akibat peristiwa itu. 

Sementara itu, Ketua Tim Ahli Gedung dan Bangunan Pemkot Surabaya Mudji Irmawan Arkani menjelaskan, perbaikan jalan sebenarnya tidak membutuhkan waktu lama. Hanya butuh empat hingga lima hari untuk membangun tembok penahan lateral dari awal dan melakukan pengaspalan. ”Yang repot ini kan pengadaannya. Saya tidak berwenang menjelaskan. Orang saya tidak tahu,” ucapnya. 

Yang pasti, tembok penahan lateral yang roboh harus dipasang lagi dengan steel pipe piles. Lantas diuruk menggunakan selective material alias pasir dan batu. Pembangunannya dilakukan berlapis-lapis untuk memastikan kekuatannya mengampu jalan itu. 

Pembangunan tersebut nanti diawasi ketat oleh Pemkot Surabaya. Mudji juga akan mengetes tembok penahan yang dibuat. Caranya ialah melakukan tes beban penetrasi atau California bearing ratio (CBR). ”Nanti persentasenya adalah 40 persen CBR,” tambahnya. 

Mudji juga akan menyambung jaringan-jaringan yang terdapat di Jalan Raya Gubeng. Sebab, jaringan tersebut memang tidak boleh dipotong. ”Tapi, semua ini hanya bersifat temporer agar bisa dilewati sementara,” ujarnya. (tau/bin/c9/oni) (idr/lyn)

Berita Terkait