Jaksa Cegah Dua Buronan

Jaksa Cegah Dua Buronan

  Sabtu, 18 June 2016 10:19

Berita Terkait

PONTIANAK - Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat melakukan pencegahan ke luar negeri terhadap dua dari 15 terpidana yang masuk dalam daftar pencarian orang. Dua buronan itu adalah Daniel alias Ateng dan Prasetyo Gow alias Asong. Keduanya dicegah berdasarkan  surat keputusan Jaksa Agung tertanggal 30 Mei 2016.

 
"Sebenarnya kami sudah mengusulkan 15 nama yang masuk dalam DPO untuk dilakukan pencegahan ke luar negeri. Namun baru dua nama yang keluar sesuai dengan surat keputusan Jaksa Agung," ujar Kepala Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat Warih Sadono, kemarin.

Daniel alias Ateng merupakan pengusaha asal Putusibau, Kabupaten Kapuas Hulu divonis enam tahun penjara dan denda Rp200 juta subsider enam bulan kurungan karena terbukti bersalah dan menyakinkan melakukan tindak pidana korupsi dalam proyek pembebasan lahan milik masyarakat adat Taman, Kecamatan Pala Pulau, Kabupaten Kapuas Hulu untuk pembangunan komplek Pemda Kapuas Hulu.

Sedangkan Prasetyo Gow alias Asong merupakan buronan dalam tindak pidana umum bidang kehutanan alias pembalakan liar. Ia dengan pidana penjara selama 4 tahun dan denda Rp200 juta subsider 5 bulan kurungan berdasarkan putusan Mahkamah Agung No 2370/K/Pid/2005 tanggal 28 Juli 2006.

Asong pernah ditangkap oleh aparat Polda Kalbar pada September 2004 di Tempat Penumpukan Kayu (TPK) Lalang Lestari Sungai Pawan, Desa Sukaharja, Kabupaten Ketapang.

Saat itu, polisi mengamankan dua unit kapal motor, yakni KM Javi yang memuat 13.758 batang kayu jenis bengkirai dan rimba campuran serta KM Layan Bermakna yang memuat 32.495 batang kayu jenis meranti, bengkiang, kapur, keruing dan kempas.

Keterlibatan Asong dalam perkara tersebut, karena mengangkut dan menguasai puluhan ribu batang kayu tersebut secara ilegal. Perkara tersebut diproses pada persidangan di PN Pontianak pada Oktober tahun 2005 dan divonis bebas. Jaksa penuntut umum kemudian mengajukan kasasi.

Pada 28 Juli 2006, MA menyatakan terdakwa terbukti bersalah melanggar Pasal 78 ayat 7 Undang Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan karena mengangkut atau memiliki hasil hutan tanpa dilengkapi dengan surat keterangan sah hasil hutan dengan ancaman pidana penjara 4 tahun denda 200 juta.

Sebelumnya, pada 30 Mei 2016, Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat telah mengumumkan 15 nama terpidana yang masuk daftar buronan. Mereka adalah Gusti Hersan Aslirosa yang divonis pidana dua tahun penjara dan denda Rp 50 juta subsider kurungan 3 bulan kurungan yang sebelumnya diputus bebas oleh majelis Pengadilan Negeri Pontianak berdasarkan putusan nomor 248/Pid.B/2010/PN.PTK pada persidangan yang digelar pada 30 desember 2010.

Berikutnya, Daniel alias Ateng. Pengusaha asal Putusibau Kabupaten Kapuas Hulu itu divonis 6 tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider 6 bulan kurungan karena terbukti bersalah dan menyakinkan melakukan tindak pidana korupsi dalam proyek pembebasan lahan milik masyarakat adat Taman, Kecamatan Pala Pulau, Kabupaten Kapuas Hulu untuk pembangunan komplek Pemda Kapuas Hulu.

Kemudian,  Denny Sunarya Dermawan bin Dermawan yang dijatuhi pidana selama 8 tahun penjara dan denda Rp150 juta subsider 6 bulan kurungan, Robert Siagian dengan pidana penjara selama 10 tahun penjara dan denda Rp200 juta subsider 6 bulan kurungan, Sudaryanto pidana penjara selama 3 tahun dan denda Rp 50 juta subsider 6 bulan kurungan, Lim Kiong Hin alias Aheng dengan pidana penjara selama 5 tahun dan denda 100 juta subsider 6 bulan kurungan.

Selanjutnya, Syafini Samsudin dengan pidana penjara 1 tahun penjara dan denda Rp25 juta subsider 1 bulan kurungan, Sholikhin dengan pidana penjara selama 1 tahun dan denda Rp50 juta subsider 1 bulan kurungan,  Danal Ginanjar dengan pidana penjara 4 tahun dan Rp 200 juta subsider 6 bulan kurungan, Gusti Muhammad Sophian Syarif  dengan pidana penjara selama 4 tahun dan denda Rp100 juta subsider 1 bulan kurungan, Heronimus Tiro dengan pidana penjara selama 1 tahun penjara dan denda Rp75 juta subsider 6 bulan kurungan, Herry Suhardiansyah dengan pidana penjara selama 4 tahun dan denda Rp 200 juta subsider 6 bulan kurungan.

Berikutnya, Heru Saif dengan pidana penjara selama 1 tahun dan denda Rp50 juta subsider 2 bulan kurungan, Marolop Sijabat dengan pidana penjara selama 1 tahun dan denda Rp 50 juta subsider 3 bulan kurungan.

Selain 14 nama buronan tersebut, Kejati Kalbar juga merilis satu orang buronan dalam tindak pidana umum bidang kehutanan dengan terpidana atas nama Prasetyo Gow alias Asong dengan pidana penjara selama 4 tahun dan denda 200 juta subsider 5 bulan kurungan.

"Mereka yang masuk ke dalam DPO adalah terpidana yang telah memiliki kekuatan hukum tetap, tetapi belum dilakukan eksekusi," pungkasnya.

Sementara itu, seorang narapidana wanita Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Pontianak bernama Henny Choeruniesa alias Teteh berhasil melarikan diri pada Rabu (15/6) sekitar pukul 11.00 saat akan berobat ke Rumah Sakit Umum Daerah dr Soedarso. ‎

Menurut informasi, Henny merupakan warga pindahan dari Rumah Tahanan Sanggau dengan kasus penipuan dengan vonis 2 tahun pidana penjara.

Henny kabur saat akan dibawa ke RSUD Soedarso karena menderita stroke dengan dikawal dua petugas dan satu dokter menggunakan sepeda motor. Namun sebelum ke rumah sakit, mampir ke Bank Mandiri Jalan Diponegoro, Pontianak.

Informasi kaburnya narapidana wanita ini dibenarkan oleh Sukaji, kepala Lapas Klas IIA Pontianak.‎ "Saat itu napi tersebut bersama dokter dan dua petugas, menggunakan sepeda motor mau berobat ke Soedarso, tapi saya heran kok malah ke bank," kata Sukaji saat dikonfirmasi melalui telepon.

Dikatanya lagi, saat keluar atau berobat napi tersebut tidak  mengenakan seragam warga binaan, tapi menggunakan baju bebas yakni baju warna hitam.

Narapidana atas nama Henny Choeruniesa alias Teteh alamat Kampung Sukawening RT 002 RW 004 Desa Padaulun Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung. "Dia merupakan narapidana kasus 378 KUHP pindahan dari Rutan Sanggau‎ yang divonis 2 tahun penjara, sisa pidana penjara 1 tahun 3 bulan 20 hari," kata Sukaji.

Lanjutnya, kaburnya narapidana ini, pihaknya saat ini sudah melakukan upaya pencarian dan juga berkoordinasi dengan aparat kepolisian untuk meminta dukungan pencarian.

Ia pun mengimbau bagi masyarakat Kalbar mengetahui keberadaan narapidana ini untuk dapat melaporkannya ke aparat kepolisian dan petugas berwenang terdekat. (arf)

Buronan Dicegah

* Daniel alias Ateng

- Pengusaha asal Putusibau, Kabupaten Kapuas Hulu.

- Divonis 6 tahun penjara dan denda Rp200 juta subsider 6 bulan kurungan.

- Terbukti bersalah dan menyakinkan melakukan tindak pidana korupsi dalam proyek pembebasan lahan milik masyarakat adat Taman, Kecamatan Pala Pulau, Kabupaten Kapuas Hulu untuk pembangunan komplek Pemda Kapuas Hulu.

* Prasetyo Gow alias Asong

- Buronan tindak pidana pembalakan liar.

- Divonis 4 tahun penjara dan denda Rp200 juta subsider 5 bulan kurungan berdasarkan putusan Mahkamah Agung No 2370/K/Pid/2005 tanggal 28 Juli 2006.

- Asong pernah ditangkap oleh Polda Kalbar pada September 2004 di TPK Lalang Lestari Sungai Pawan, Desa Sukaharja, Kabupaten Ketapang.

- Polisi mengamankan KM Javi yang memuat 13.758 batang kayu jenis bengkirai dan rimba campuran serta KM Layan Bermakna yang memuat 32.495 batang kayu jenis meranti, bengkiang, kapur, keruing dan kempas.

* Perkara diproses pada persidangan di PN Pontianak pada Oktober tahun 2005 dan divonis bebas. Jaksa penuntut umum kemudian mengajukan kasasi.

* 28 Juli 2006, MA menyatakan terdakwa terbukti bersalah melanggar Pasal 78 ayat 7 UU 41/1999 tentang Kehutanan karena mengangkut atau memiliki hasil hutan tanpa dilengkapi dengan surat keterangan sah hasil hutan dengan ancaman pidana penjara 4 tahun denda 200 juta.

Berita Terkait