Jadi Calon Tunggal Panglima TNI, Ini Profil Marsekal Hadi

Jadi Calon Tunggal Panglima TNI, Ini Profil Marsekal Hadi

  Senin, 4 December 2017 10:56
Marsekal Hadi Tjahjanto

Berita Terkait

PONTIANAKPOST.CO.ID - Presiden Joko Widodo resmi mengusulkan nama Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal Hadi Tjahjanto sebagai calon Panglima TNI menggantikan Jenderal Gatot Nurmantyo. Surat presiden diantarkan Mensesneg Pratikno kepada Wakil Ketua DPR Fadli Zon, Senin (4/12) pagi. 

"Kelihatannya alasannya karena memang persiapan untuk masa pensiun Pak Gatot," tegas Fadli di gedung DPR, Jakarta, Senin (4/12). 

Nama Hadi selama ini memang santer disebut-sebut menjadi pengganti Gatot yang akan pensiun Maret 2018. 

Sosok alumnus Akademi Angkatan Udara 1986, itu sudah berpengalaman dan pernah mengemban jabatan strategis di lingkungan TNI.  Saat ini, Hadi baru berusia 54 tahun. Hadi baru akan pensiun pada November 2021.

Perwira tinggi TNI kelahiran Malang, Jawa Timur, 8 November 1963 itu pernah menjabat Sekretaris Militer Kepresidenan (Sesmilpres) 2015-2016 atau di era Presiden Jokowi. 

Sesmilpres di bawah naungan Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg).  Hadi bahkan pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Penerangan TNI AU. 

Hadi juga pernah menjabat sebagai Inspektur Jenderal Kementerian Pertahanan. Kariernya di AU juga sudah terbilang moncer. Dia pernah menjad Instruktur Penerbangan Pangkalan Udara Adi Sucipto, Kepala Dinas Personel Lanud Abdulrachman Saleh, Komandan Lanud Adisumarmo.

Pernah juga menjabat Direktur Operasi dan Latihan Badan SAR Nasional, Komandan Lanud Abdulrachman Saleh. Pada 2017, Hadi diangkat sebagai KSAU sampai sekarang. 

TNI AU dianggap paling layak mendapat giliran menjadi panglima TNI. Mengingat, sudah lama tidak ada panglima TNI berpangkat Marsekal. Terakhir, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah mengangkat Panglima TNI berpangkat Marsekal pada 2006. Dia adalah Marsekal Djoko Suyanto yang menjabat panglima kurang lebih 22 bulan. 

Setelah itu, panglima dijabat TNI AD, lalu berlanjut TNI AL, dan kemudian kembali lagi TNI AD dua kali. Yakni, Jenderal Moeldoko dilanjutkan Jenderal Gatot Nurmantyo. "Karena itu, kami dorong dari TNI Angkatan Udara, untuk kohesivitas,’’ kata Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin dalam sebuah diskudi di Jakarta Pusat, Kamis (23/11) lalu. 

Selain persoalan kohesivitas, dorongan agar AU menjadi panglima juga untuk mendukung visi poros maritim dunia yang digagas Presiden Joko Widodo. (boy/jpnn)

Berita Terkait