Isak Tangis Iringi Pemakaman Riyan, Keluarga Korban Tuntut Keadilan

Isak Tangis Iringi Pemakaman Riyan, Keluarga Korban Tuntut Keadilan

  Sabtu, 25 May 2019 11:58

Berita Terkait

PONTIANAK--Isak tangis mengiringi pemakaman Riyan Saputra (15), korban penembakan aparat saat kerusuhan 21-22 Mei lalu di Pontianak Timur. Keluarga korban, teman sekolah, ratusan warga dan pihak Kesultanan Pontianak ikut mengantarkan jenazah ke tempat peristirahatan terakhir.

 Riyan dikebumikan di pemakaman Masjid Al-Falah, Kelurahan Banjar Serasan, Pontianak Timur, Jumat (24/5) pagi. Sebagian besar yang hadir dalam prosesi itu menitikkan air mata sebagai pertanda rasa duka cita yang mendalam.

Siswa kelas X SMK Negeri 7 Pontianak itu tertembak di dekat Polsek Pontianak Timur pada Selasa (21/5) malam. Korban tertembak di bagian perut sebelah kanan yang mengakibatkan pecahnya kantong kemih dan hancurnya organ hati. Riyan dinyatakan meninggal dunia pada Jumat (24/5) dinihari, setelah sempat dirawat selama dua malam di Rumah Sakit Soedarso.

Orang tua korban, Joniansyah, yang ditemui usai pemakaman, mengatakan, sebelumnya tidak ada firasat atau tanda-tanda bahwa anaknya mendekati ajal. Perilaku anaknya di hari terakhir itu biasa-biasa saja. Tidak ada sesuatu pun yang aneh.  Joniansyah menganggap peristiwa memilukan ini adalah takdir Allah yang harus diterima dengan sabar.

“Kita tidak bisa berbuat apa-apa jika sudah kehendak Allah. Duduk saja pun kita bisa mati jika sudah digariskan oleh Allah. Ini semua hanya sebab saja atas kejadian ini,”ucapnya.

Joniansyah menuturkan, penembakan anaknya terjadi sekitar pukul 23.00 di sekitar kawasan Polsek Pontianak Timur. “Sebelumnya dia ada minta izin pada malam itu mau ke sana, mau lihat di lokasi (tempat ricuh) seperti apa. Namanya juga anak-anak kan ada sifat ingin tahu,” katanya.

Sejauh ini, Joniansyah belum memutuskan langkah hukum apa yang akan diambil menyikapi kejadian yang menimpa anaknya. Ia mengaku masih akan berdiskusi dengan anggota keluarga yang lain. Joniansyah berharap ada solusi terbaik agar pihaknya mendapat keadilan.

“Saya tidak bisa memutuskan sendiri meskipun saya selaku orang tuanya, karena juga ada paman, abang, dan abang sepupunya yang nanti akan kita coba bicarakan. Kita harus kompromi dulu bersama bagaimana jalannya dan maunya,”ucap dia.

Sultan Pontianak , Syarif Mahmud Melvin Alkadrie yang ikut menghadiri pemakaman menyatakan belasungkawa atas meninggalnya Riyan, putra kedua dari pasangan Joniansyah dan Yanti.

Ia berharap pihak keluarga yang ditinggalkan tetap tabah, serta dapat menerima kepergian korban dengan ikhlas dan lapang dada. “Saya harap semua yang hadir tetap tenang serta mengikhlaskan kepergian saudara Riyan, karena pada dasarnya kita semua akan kembali pada Allah,” ujar Melvin penuh haru usai jenazah Riyan selesai dikebumikan.

Dia pun buka suara terkait tindak lanjut yang akan diambil pihaknya atas apa yang dialami Riyan. Menurutnya, keputusan akan diserahkan seutuhnya kepada keluarga yang ditinggalkan. Sekiranya keluarga tidak puas, dia mempersilakan untuk menempuh proses hukum.

Sultan juga berharap agar kejadian seperti ini tidak terulang. Jangan ada lagi kericuhan agar tak ada lagi korban yang jatuh seperti Riyan.  “Tentang kejadian-kejadian yang sudah terjadi kemarin, kita harap tak lagi terjadi. Untuk masyarakat di sekitar Pontianak, khususnya Pontianak Timur saya imbau agar tetap tenang, sabar, dan tetap menjaga keamanan dan kedamaian,” pungkas Sultan Pontianak tersebut.

 

Klaim Tidak Ada Peluru Tajam

Sementara itu, juru bicara Polda Kalbar AKBP Donny Carles Go menyatakan pihaknya masih mendalami kejadian yang menimpa Riyan. “Kami masih dalami. Apakah korban terkena perlu tajam atau bukan,” kata Donny.

Menurutnya, sejak tahapan pemilu hingga saat ini, pihaknya tidak dibolehkan menggunakan peluru tajam dalam penanganan aksi. Hal itu sudah merupakan prosedur tetap (protap) yang harus diikuti oleh masing-masing anggota kepolisian. 

“Tidak boleh lagi menggunakan peluru (tajam) dalam penanganan aksi massa. Setiap anggota yang turun ke lapangan dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu,” jelasnya. Karena itu, apakah korban Riyan terkena tembakan peluru tajam atau bukan, masih perlu dipastikan.

Ia juga mengungkapkan, Kapolda Kalbar sudah melakukan komunikasi dengan pihak keluarga korban dan belasungkawa sedalam-dalamnya. “Bapak Kapolda sudah komunikasi dengan pihak keluarga korban. Menyampaikan bela sungkawa sekaligus menyayangkan terjadinya aksi kemarin,” terangnya.

 

19 Orang Dilarikan ke RS

Berdasarkan data yang dihimpun Kepolisian Daerah Kalimantan Barat setidaknya ada 19 orang yang harus dirawat di rumah sakit akibat terluka saat kerusuhan di Pontianak Timur pada 22 Mei 2019 lalu. Para korban tak hanya dari kalangan warga tetapi juga aparat keamanan.

“Setidaknya ada 19 orang yang harus dirawat di rumah sakit akibat kerusuhan kemarin. Enam orang petugas keamanan. Empat orang diantara Polri dan dua anggota TNI,” kata juru bicara Polda Kalbar AKBP Donny Carles Go kepada Pontianak Post, kemarin.

Empat anggota polisi ini harus mendapatkan perawatan serius akibat mengalami luka tembak saat mengurai massa dalam aksi 22 Mei itu. “Dari empat anggota polisi ini, tiga lainnya harus menjalani operasi karena proyektil masih bersarang,” katanya.

Ketiganya adalah Bripda Aldiono, Ipda Agus S, dan Brigadir Sarifin Ahyar. Aldiono yang berasal dari Satuan Sabhara Polda Kalbar mengalami luka tembak di tungkai bawah kanan. Agus yang juga berasal dari satuan yang sama terluka di kaki kanan. Sedangkan Sarifin yang merupakan anggota Satuan Restik Polres Mempawah tertembak di paha kiri.

Selain anggota polisi, luka serius juga dialami oleh anggota TNI, Kapten Arm Tri S, Danramil Sui Kakap yang terkena lemparan batu. Pelipisnya robek sehingga ia dievakuasi ke RST Kartika Husada. 

Kapolda Kalbar dan Pangdam XII Tanjungpura telah menjenguk para korban. “Kami keluarga besar Polda Kalbar dan Kodam XII Tanjungpura berharap pada kepada anggota untuk tetap semangat, dan keluarganya untuk tetap bersabar mendampinginya,” kata Didi.

Kapolda juga mengungkapkan kepada anggota dan pihak keluarga bahwa seluruh biaya pengobatan ditanggung oleh dinas dan dibantu oleh Pemerintah Provinsi Kalbar.  “Pembiayaannya Itu ditanggung semua oleh dinas, apalagi ada BPJS, jangan khawatir,” ucapnya.  (var/sig/arf)

 

Berita Terkait