Inspirasi dari Tari Hudoq

Inspirasi dari Tari Hudoq

  Selasa, 17 April 2018 11:00
FOTO BARENG: Dimas (tujuh dari kiri) bersama 20 fi nalis IYFDC 2018 dalam acara Indonesian Fashion Week 2018.

Berita Terkait

Dimas Eko Teguh tertarik pada dunia fashion sejak duduk di bangku SMA. Ia pun banyak belajar pada desainer senior dan meraih sukses. Dimas pun berhasil menjadi finalis di ajang Indonesian Young Fashion Designer Competition (IYFDC) 2018. Busana bertema “Tatung : The Warior of Shan Khew Jong” karya Dimas dikenakan Wilda Oktaviana Situngkir dalam ajang pemilihan Putri Indonesia 2018. 

Oleh : Ghea Lidyaza Safitri

Dimas senang menggambar sedari kecil. Ia juga menyenangi desain busana. Bahkan, saat anak-anak seusianya lebih tertarik membaca majalah remaja, Dimas justru rela menabung untuk membeli majalah fashion yang harganya tidak murah, seperti Harpest Bazaar, Elle, Dewi dan lain-lain.  Pada 2013, Dimas mulai memberanikan diri mendesain pakaian. Ia mencoba membuat pakaian daerah untuk peserta Bujang Dara Wisata Khatulistiwa (FBBK) dari Kabupaten Kubu Raya. 

Saat itu,  Dimas berhasil membuat dua pakaian adat, yakni satu pasang pakaian adat Melayu dan satu pasang pakaian adat Dayak. Karyanya mendapatkan apresiasi luar biasa. Ia pun semakin serius menggeluti dunia fashion. Fashion telah jadi passion baginya. Beruntung, ia juga berkesempatan bertemu dan belajar dengan desainer senior, terutama dari Indonesian Fashion Chamber (IFC) Chapter Pontianak. 

Dimas pun mulai belajar banyak hal. Dimas merasa bersyukur bisa belajar dengan desainer senior.  Apalagi mereka tak pelit ilmu tentang fashion design. Ia pun banyak mendapat ilmu tentang cara mendesain satu seri pakaian, membuat pola, menjahit, styling, bahkan saat melakukan pemasaran. Kini, sudah banyak karya yang dihasilkan Dimas. Sampai saat ini Dimas terus belajar dan mencari ciri khasnya. 

“Namun, untuk style pakaian yang dihasilkannya lebih ke simpel, elegan, edgy, dan sexy,” ujarnya. 

Bagi Dimas, tak sulit mendesain suatu pakaian dan membuatnya hingga jadi. Namun, ia mengaku lebih sulit membuat pakaian pria. Sebagai  desainer pakaian, Dimas mendesain berdasarkan inspirasi dari ‘Muse’. Selama ini, ‘Muse’-nya lebih pada perempuan. Tak heran, Dimas lebih senang membuat busana perempuan. Terlebih, tren busana perempuan banyak dan berubah-ubah, sehingga lebih menarik. Tetapi, bukan berarti dirinya tak bisa membuat pakaian pria.

“Sekarang saya sedang belajar dan mengerjakan project pakaian ready to wear yang unisex, bisa dipakai pria maupun perempuan,” jelasnya. 

Banuak suka duka yang dirasakan Dimas. Sukanya, saat berhasil membuat klien terlihat cantik dan stylish dengan pakaian hasil karyanya. Terlebih, pakaian bisa dikenakan orang banyak, bahkan orang-orang terkenal, atau hasil karya mendapat apresiasi dan menjadi inspirasi bagi banyak orang. Dukanya adalah saat dikejar deadline, kehabisan ide, dapat kritik dari klien, atau karya dikatakan plagiat. 

Dimas sedikit berbagi mengenai konsep busana ready to wear yang sedang booming saat ini. Secara harfiah ready to wear adalah pakaian siap pakai, dimana pakaian yang dibeli bisa digunakan langsung dengan ukuran, model, dan warna yang sudah tersedia. Bukan yang dipesan khusus sesuai dengan keinginannya. Namun, ada salah kaprah di kalangan masyarakat mengenai pakaian ready to wear. Selama ini masyarakat menganggap pakaian ready to wear adalah pakaian yang murah. Atau, diproduksi massal dan simple cutting, seperti t-shirt, kemeja, outer, jacket dan lainnya. Padahal, pakaian ready to wear adalah pakaian yang bisa langsung dipakai tanpa perlu menunggu proses penjahitan dan fitting beberapa kali. Banyak desainer yang menyediakan pakaian ready to wear dalam ragam mode, seperti evening gown, cocktail dress, kebaya, dan wedding dress payet full dengan cutting yang kesannya mewah dan siap dipakai.

Dimas benar-benar merasa feel so blessed and lucky saat berkesempatan jadi finalis Indonesian Young Fashion Designer Competition 2018 . Baginya, memperagakan tiga busana di ajang IYFDC 2018, bersamaan dengan Indonesian Fashion Week adalah sebuah anugerah bagi designer daerah sepertinya. Walaupun, ia belum beruntung menjadi satu diantara pemenang, namun menjadi finalis IYFDC dan bisa show di IFW adalah bagian dari mimpi terbesar Dimas.

“Tema yang saya buat untuk IYFDC 2018 adalah ‘Hudoq : The Blessing Dance’. Terinspirasi dari Tari Hudoq dari suku dayak dan menggunakan kain tenun ikat Sintang,” jelas Dimas. 

Selain itu, Dimas turut andil dalam proses pembuatan Traditional Costume Wilda Oktaviana Situngkir, Puteri Pariwisata Indonesia 2018. Tema yang diambil “Tatung : The Warior of Shan Khew Jong”. Busana ini hasil kolaborasi Dimas dengan temannya, Oktavianengsih yang memang sering mengerjakan pakaian cosplay. Konsep dan tema Tatung dipilih setelah Dimas dan senior-senior di IFC melakukan riset ke beberapa narasumber. 

“Seluruhnya ingin membuat sebuah traditional costume yang berbeda dari biasanya. International look, elegant, dan simple, namun tetap mencuri perhatian,” tutur Dimas.

Pemilihan konsep Lady Warior dari Wildanya sendiri. Dimas melihat Wilda adalah sosok wanita tangguh, pekerja keras, dan pejuang. Hal ini yang membuatnya yakin Wilda akan menghayati karena pakaian tersebut dekat karakter Wilda. Untuk Tatung sendiri, awalnya Dimas mencari momen, kebetulan saat itu berdekatan dengan perayaan Cap Go Meh. Berharap dengan pakaian ini dapat mempromosikan event budaya tahunan di Kalbar ke tingkat nasional, bahkan internasional. 

Proses pengerjaan dilakukan kurang lebih dua minggu. Satu minggu mengejar untuk konferensi pers Puteri Indonesia Kalbar di Pontianak. Waktu itu, busana baru selesai sekitar 80 persen. Melihat respon masyarakat positif setelah konferensi pers, Dimas dan Okta melakukan finishing agar busana tampak lebih optimal. Hingga akhirnya, busana ini dapat dikenakan Wilda untuk berlaga ke tingkat nasional.**

Berita Terkait