Inovasi Tiga Babinsa Kodam V/Brawijaya di KB, Peternakan, dan Pertanian

Inovasi Tiga Babinsa Kodam V/Brawijaya di KB, Peternakan, dan Pertanian

  Minggu, 16 December 2018 09:15

Berita Terkait

Sosialisasi Vasektomi, Ubah Limbah Jadi Pakan, hingga Kampung Sayur Organik

Semula dicibir, kegigihan Sertu Supandi mengampanyekan vasektomi malah berbuah penghargaan dari Presiden Jokowi. Olahan fermentasi kulit kopi Sertu Eko Wahyudi bersama kolega juga mengubah cara beternak warga. Upaya Serma Sri Purwanto menyiasati kelangkaan lahan juga menelurkan sayuran berkualitas dan laris. 

THORIQ S KARIM, Surabaya 

PERMINTAAN sang istri, Dwi Erawati, itu membuat Supandi terdiam. Anggota TNI Angkatan Darat tersebut tak langsung mengiyakan. Ragu.  Maklum, istri yang telah memberinya dua anak perempuan tersebut memintanya melakukan vasektomi. Yakni, kontrasepsi pria dengan operasi kecil untuk memotong saluran sperma. 

”Setelah berpikir panjang, akhirnya saya jalani saran itu,” ucap Supandi yang kini berpangkat sersan satu (sertu) tersebut. Ketika itu, 2012, usia Dwi sebenarnya masih 31 tahun. Namun, kondisi tubuhnya tak memungkinkan lagi untuk dipasangi alat kontrasepsi.  

Siapa sangka, enam tahun berselang, keputusan yang diambil atas permintaan sang istri itu ternyata berbuah penghargaan membanggakan. Berkat perjuangan bertahun-tahun menjadi motivator keluarga berencana (KB) di kawasan tempat dia bertugas. Dan, berhasil mengajak ribuan pria melakukan vasektomi.  

Selain dari Kodam V/Brawijaya yang akan diserahkan pada Hari Infanteri hari ini (15/12), penghargaan juga didapat dari Presiden Joko Widodo saat Hari Keluarga Nasional (Harganas) di Manado, Sulawesi Utara, Juli lalu. Bintara pembina desa (babinsa) anggota Koramil Kedung Adem, Bojonegoro, Jawa Timur, itu diundang pula pada pidato kenegaraan 16 Agustus lalu di Jakarta. 

”Pengalaman yang tidak akan terlupakan,” kata pria 47 tahun itu ketika ditemui Jawa Pos di media center Kodam V/Brawijaya pada Rabu lalu (12/12). Bersamaan dengan Supandi, Kodam V/Brawijaya menyerahkan penghargaan untuk dua babinsa berprestasi lainnya hari ini. Yakni, Sertu Eko Wahyudi dan Serma Sri Purwanto. 

Ketiganya dari kodim berbeda. Kalau Supandi dari Kodim 0813 Bojonegoro, Eko Wahyudi dari Kodim 0823 Situbondo. Dan, Sri Purwanto dari Kodim 0818 Malang-Batu. Bidang yang ditekuni ketiganya, di luar tugas utama sebagai tentara, hingga berbuah penghargaan pun tak sama. Yang menalikan ketiganya adalah kegigihan dan kemauan mencoba. 

Supandi ingat bagaimana ledekan dan cibiran berkali-kali datang menghampiri di saat awal-awal dia menyosialisasikan vasektomi.  Bukan hanya itu. Banyak perdebatan tentang hukum vasektomi. Ada yang menyatakan tidak boleh secara agama. Ada pula yang menyatakan boleh. Padahal, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah memperbolehkan KB dengan cara itu. 

Dia tidak putus asa. Berbagai forum warga dia datangi. Mulai pengajian, pertemuan desa, juga kegiatan organisasi keagamaan. Manfaat vasektomi dia ceritakan. Misalnya, tidak mudah capek, badan terlihat segar, pinggul tidak sakit saat berhubungan badan, dan banyak manfaat lain. Hasilnya, perlahan banyak warga di wilayah di bertugas mau mengikuti program tersebut. 

Seiring berjalan waktu, pemahaman warga tentang vasektomi terus meningkat. Banyak warga yang sudah paham tentang vasektomi. Kerja Supandi otomatis jadi lebih ringan. Setiap hari rata-rata ada dua hingga tiga orang yang dia antar ke dokter untuk mengikuti program tersebut. Jumlahnya terus bertambah. ”Saat ini sudah lebih dari 5.200 orang yang mengikuti program tersebut,” ucapnya.

Dia juga membuka konsultasi secara online. Di setiap pertemuan, Supandi selalu menyebar nomor WhatsApp. Setiap hari banyak pertanyaan yang masuk ke nomor tersebut. Ada yang serius, ada pula yang iseng. ”Semua saya jawab satu per satu,” ujarnya.

Perjuangan yang cukup panjang dan pengalaman yang beragam itu akhirnya mengantarkannya ke depan Presiden Joko Widodo. Kini Supandi didapuk menjadi motivator bidang KB di tingkat nasional. Dia keliling ke berbagai daerah untuk memovitasi lelaki menjalani metode operasi pria tersebut. 

Perjuangan tak kalah gigihnya juga ditunjukkan Sertu Eko Wahyudi. Personel Koramil Panarukan itu bersama warga Desa Sumber Kolak, Kecamatan Panarukan, Situbondo, Jawa Timur, mengubah sistem peternakan dan pertanian tradisional ke modern. ”Saya manfaatkan limbah keduanya,” ungkap dia. 

Lelaki yang menjadi anggota TNI-AD sejak 2000 itu memanfaatkan limbah pertanian untuk pakan ternak dan limbah ternak untuk pupuk pertanian. Yang mulai dia jalani empat tahun lalu. Semua bermula dari keprihatinannya melihat petani dan peternak di Desa Sumber Kolak yang masih tradisional. Di matanya, cara tradisional itu tidak menguntungkan peternak. Produk ternak tidak meningkat. 

”Sebaliknya, banyak ternak yang dijual karena pemiliknya butuh uang,” ucapnya. Eko yang di masa remaja pernah menggembala sapi itu pun mulai membantu mencari solusi. Dia mengontak dua temannya, Agung dan Anang, yang kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Jember. 

”Saya ajak mereka untuk membuat konsep pertanian dan peternakan modern,” kata dia. Hal yang pertama dilakukan adalah membuat pakan ternak dari limbah perkebunan. Mereka meneliti kulit kopi yang kala itu sudah tidak dimanfaatkan lagi. 

Kulit kopi tersebut difermentasi menggunakan mikro organisme lokal (MOL) dan didiamkan tujuh hari. ”Hasil fermentasi itu untuk pakan sapi,” ucap Eko. Hasilnya luar biasa. Sapi doyan dengan hasil fermentasi tersebut. Berat badannya juga meningkat pesat. Tapi, perjalanan tak mulus begitu saja. 

Eko masih sulit meyakinkan masyarakat untuk menerapkan temuan tersebut. Namun, seperti juga Supandi, dia tak patah arang.  Dia terus berusaha. Seiring perjalanan waktu, dia bertemu dengan Suprapto, seorang warga di Desa Sumber Kolak. Suprapto memiliki lahan 2 hektare dan sapi 20 ekor. ”Dia ingin mengembangkan pertanian di lahan itu,” kenang Eko. 

Kesempatan tersebut tidak dilepas. Dia menceritakan semua konsep pertanian modern itu kepada Suprapto. ”Pak Suprapto setuju dan mau bekerja sama,” ungkap pria 36 tahun itu. Eko dan dua rekannya menerapkan hasil penelitian tersebut. Hewan ternak Suprapto memakan produk fermentasi kulit kopi. Lalu, kotoran hewan diolah menjadi pupuk organik. 

Cukup berhasil. Metode ternaknya menghasilkan sapi yang segar dan gemuk. ”Pertanian juga subur dengan dukungan pupuk hasil kotoran sapi,” katanya. Namun, masih ada aral mengganjal: bagaimana cara agar orang tahu hasil pertanian dan peternakan hasil inovasinya. Dibuatlah event kontes sapi di Situbondo. Sapi hasil ternak Eko dan kawan-kawan menjuarai event itu. ”Sapi umur satu tahun beratnya hampir 1 ton,” ucap dia.

Sejak saat itu, banyak orang di Situbondo yang mulai melirik cara bertani Eko. Pengembangan kawasan mulai dilakukan. Eko melirik tanah kas desa di Desa Sumber Kolak. ”Kami diizinkan menggunakan lahan itu untuk peternakan dan pertanian,” ucapnya.

Eko masih menyisakan mimpi. Dia ingin membuat kampung ternak dan tani modern di desa tersebut. Sejauh ini partisipasi masyarakat untuk mewujudkan mimpi tersebut sangat besar. 

Di Banaran, Kota Malang, Serma Sri Purwanto memilih berkiprah mengembangkan pertanian dan pupuk organik. Bahkan, saat ini dia bersama warga membangun kampung wisata sayur organik Baran Bela Negara (BBN). Semua berawal dari perenungannya tentang Malang. Lahan pertanian di kota itu sempit. Di sisi lain, pertanian itu penting. 

Akhirnya Sri pun membuat kampung organik di wilayah tugasnya. ”Saya mengawali dengan menanam sayur di polybag,” katanya. 

Selama bertani, dia belajar banyak hal tentang penggunaan pupuk organik. Di antaranya dari Prof  Nurzaman tentang tumbuhan. Produk pupuk organik hasil penelitian profesor tersebut dia gunakan untuk pengembangan tanamannya. ”Saya melakukan inovasi penggunaan pupuk tersebut,” ucapnya. 

Kegiatan itu terus dilakukan hingga bertahun-tahun. Nah, pada 2017, Pemkot Malang menggelar lomba kampung tematik. Setiap kampung diminta menampilkan produk yang menjadi khas kampung tersebut. 

Sri bersama warga sepakat menampilkan kampung sayur organik Baran Bela Negara (BBN). ”Yang memberi nama BBN adalah Norman Santoso, sekretaris Kelurahan Baran,” ucapnya. Kampung binaan Sri mulai dikenal. Produk sayurnya berkualitas. Produknya juga sempat masuk ke supermarket. Sangat laris.

Di sisi lain, Sri terus melakukan inovasi tentang pupuk organik. Saat ini dia menciptakan beberapa pupuk yang siap uji klinis. ”Setelah uji klinis sukses, akan kami sosialisasikan pupuk itu,” ucapnya. Salah satu pupuk hasil penelitiannya bisa digunakan untuk fermentasi kopi. Rasa kopi hasil fermentasi itu hampir sama dengan kopi luwak. Kok bisa? Sri mengamati enzim yang ada dalam perut binatang luwak. 

”Ada enzim proteolytic,” katanya. Enzim itu bisa didapat dari mikroorganisme dan tanaman. Sri membuat enzim tersebut untuk fermentasi kopi. Saat ini masih proses penelitian dan ada yang sudah berhasil. ”Teman saya sudah mencoba, rasanya mirip dengan kopi luwak,” ucapnya. (*/c10/ttg)

Berita Terkait