Ini di Italia: Tak Divaksin, Tak Boleh Sekolah

Ini di Italia: Tak Divaksin, Tak Boleh Sekolah

  Rabu, 13 March 2019 16:06
Anak-anak Italia telah diberitahu untuk tidak pergi ke sekolah kecuali mereka dapat membuktikan kalau mereka telah divaksinasi dengan benar (Pixabay)

Berita Terkait

Anak-anak Italia telah diberitahu untuk tidak pergi ke sekolah kecuali mereka dapat membuktikan kalau mereka telah divaksinasi dengan benar. Dilansir dari BBC pada Selasa (12/3), orangtua berisiko didenda hingga 500 Euro jika mereka mengirim anak-anak mereka yang tidak divaksina pergi ke sekolah.

Undang-undang baru itu muncul di tengah lonjakan kasus campak. Namun pejabat Italia mengatakan, tingkat vaksinasi telah membaik akibat aturan yang keras tersebut. Di bawah hukum Italia yang disebut Lorenzin, anak-anak harus menerima serangkaian imunisasi wajib sebelum bersekolah.

Anak-anak wajib menerima vaksin cacar air, polio, campak, gondong, dan rubella. Anak-anak hingga usia enam tahun akan dikeluarkan dari pre school atau taman kanak-kanak jika mereka tak bisa menunjukkan bukti telah divaksin.


Orangtua di Italia pernah protes aturan keras vaksinasi (BBC)

Anak-anak yang berusia antara enam dan 16 tahun tidak dapat dilarang datang ke sekolah. Namun orangtua mereka menghadapi denda yang besar jika mereka tidak menyelesaikan wajib imunisasi.

Batas waktu sertifikasi vaksin adalah 10 Maret setelah penundaan sebelumnya. Meski batas waktu ini akhirnya diperpanjang. "Sekarang semua orang punya waktu untuk mengejar ketinggalan," ujar Menteri Kesehatan Giulia Grillo kepada surat kabar La Repubblica.

Dia dilaporkan telah menolak tekanan politik dari Wakil Perdana Menteri Matteo Salvini untuk memperpanjang tenggat waktu lebih jauh. Grillo mengatakan aturan sekarang sederhana, "Tidak ada vaksin, tidak ada sekolah," ujarnya.

Media Italia melaporkan bahwa pemerintah daerah menangani situasi dengan sejumlah cara berbeda. Di Bologna, otoritas setempat telah mengirim surat penangguhan kepada orang tua dari sekitar 300 anak, dan total 5.000 anak tidak memiliki dokumentasi vaksin mereka yang terbaru.

Di daerah lain tidak ada kasus yang dilaporkan, sementara yang lain telah diberikan tenggang waktu beberapa hari di luar batas waktu. Undang-undang baru disahkan untuk menaikkan tingkat vaksinasi yang jatuh di bawah 80 persen menjadi target 95 persen.

Bulan lalu, seorang anak berusia delapan tahun yang sembuh dari kanker tidak dapat bersekolah di Roma karena sistem kekebalan tubuhnya yang lemah. Anak itu telah menghabiskan berbulan-bulan menerima perawatan untuk leukemia, tetapi beresiko infeksi karena sebagian murid di sekolahnya belum divaksinasi, termasuk beberapa di kelas yang sama.

Gerakan anti-vaksinasi telah berkembang secara global dalam beberapa tahun terakhir, memicu peringatan dari WHO.

Editor           : Dyah Ratna Meta Novia 
Reporter      : Dinda Lisna/Jawa Pos

Berita Terkait