Inhaler & Nebulizer, Apa Bedanya?

Inhaler & Nebulizer, Apa Bedanya?

  Jumat, 22 March 2019 09:18

Berita Terkait

Saat asma kambuh, penderita biasanya menggunakan Inhaler atau Nebulizer. Kedua alat bantu napas ini memiliki fungsi untuk mengendalikan, mencegah, dan segera mengatasi serangan asma. Kendati memiliki fungsi yang sama, tetapi keduanya berbeda. Apa perbedaannya?

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Asma merupakan jenis penyakit jangka panjang yang menyerang saluran pernapasan dan tergolong sulit disembuhkan. Kondisi ini terjadi karena adanya peradangan dan penyempitan saluran napas dan menimbulkan sesak atau sulit bernapas. 

Gejala penyakit ini bisa muncul karena beberapa hal, seperti debu, bulu binatang, asap rokok, gas, bau tajam, stres, udara yang dingin, hingga kelelahan. Kambuhnya asma ditandai dengan gejala sesak napas, nyeri dada, batuk-batuk, dan lainnya. 

Namun, gejalanya dapat dikendalikan dan dicegah dengan menggunakan alat bantu napas berupa inhaler dan nebulizer. Dua alat hirup ini bisa segera mengatasi serangan asma yang kambuh. 

Ketua Indonesian Young Pharmacist Group (IYPG) Kalbar, Bary Azhari, S.Farm, Apt mengatakan inhaler adalah alat semprot (aerosol) yang mengandung obat-obatan untuk meringankan gejala asma. inhaler dinilai lebih ringan dan cara penggunaanya lebih mudah.

“Akan tetapi, inhaler lebih sulit dipakai untuk kalangan tertentu seperti bayi, balita, atau orang dewasa penderita asma parah yang butuh dosis lebih kuat dan besar,” ujarnya. 

Bary menuturkan ada dua jenis Inhaler asma yang digunakan, berdasarkan cara bentuknya, yakni Inhaler Dosis Terukur Bertekanan (Metered Dosage Inhaler) dan Inhaler Serbuk Kering. Inhaler Terukur Bertekanan terdiri dari tabung bertekanan yang berisi obat dan di ujungnya terdapat corong plastik. 

Apabila penderita diharuskan menggunakan inhaler jenis ini, sebaiknya mencatat berapa banyak dosis obat yang telah dihirup. Inhaler asma jenis ini terkadang tak disertakan pengukur dosis. Sehingga, banyak yang lupa mencatat jumlah obat yang dihirup.

Berbeda dengan Inhaler Dosis Bertekanan, Inhaler Serbuk Kering ini tak berbentuk aerosol. Sehingga, tak bisa langsung dihirup dari alatnya. Inhaler ini tak dapat menyemprotkan obat. Penderita diharuskan menghirup serbuk dengan cepat dan kuat. 

Biasanya inhaler ini tersedia untuk satu kali hirup, jadi mencegah pemggunaan dosis yang berlebihan. Alumnus Jurusan Farmasi Untan ini menyatakan saat asma menyerang, seseorang tak bisa sembarangan meminjam inhaler orang lain. 

“Hal ini dikarenakan setiap orang memiliki dosis yang berbeda-beda. Inhaler digunakan hanya untuk penyakit asma akut atau kronik,” tutur Bary. 

Sedangkan nebulizer adalah mesin yang mengubah obat cair menjadi uap untuk dihirup ke dalam paru-paru. Alat ini dijalankan dengan bantuan daya listrik atau baterai. Nebulizer digunakan sebagai terapi pengobatan asma kronis. Baik untuk anak-anak maupun orang dewasa. 

Apoteker Pendamping di Klinik Kimia Farma Rosmalina menyatakan dibandingkan inhaler, partikel uap obat yang dihasilkan nebulizer sangat kecil. Sehingga, obat akan bisa lebih cepat meresap ke bagian paru-paru yang ditargetkan. 

“Selain untuk pengobatan asma, alat ini juga dapat digunakan untuk penderita penyakit paru obstruksi kronis (PPOK), dan reaksi alergi berat,” tambah Bary.

Sebagai terapi pencegahan serangan asma, nebulizer bisa digunakan selama 20 menit untuk satu sampai dua kali dalam sehari. Jika untuk meredakan serangan asma, alat ini bisa digunakan setiap empat jam sekali. Tergantung dari keparahan gejala asama penderita.

Bary menyatakan selain asma, nebulizer juga bisa membantu masalah kesehatan, seperti penyakit paru obstruksi kronis PPOK. Penyakit paru obstruksi kronis menyerang paru secara bertahap, biasanya disebabkan oleh kebiasaan merokok. 

Penyakit ini ditandai dengan gejala–gejala gangguan pernapasan dan napas yang terhambat. Napas bisa terhambat sebagai akibat dari kombinasi penyakit saluran napas seperti bronchitis kronis, rusaknya kantong udara di paru-paru, dan asma refrakter (berat).

“Meski pasien PPOK umumnya mengalami penyempitan saluran pernapasan yang tidak bisa disembuhkan, penggunaan bronkodilator berpotensi meringankan keluhan tersebut,” jelasnya.

Bronkiolitis adalah peradangan dan pembengkakan saluran udara kecil (bronkiolus) akibat infeksi virus. Kondisi ini sering ditemukan pada bayi dan bisa jadi salah satu risiko penyakit asma di kemudian hari.

Bronkiektasis adalah ditandi dengan saluran napas yang luka dan meradang, serta dipenuhi dengan lendir yang kental. Hal ini bisa meningkatkan risiko infeksi bakteri. Nh, nebulizer adalah alat yang bisa dipakai untuk membersihkan lendir.

Cystic fibrosis atau fibrosis kristik adalah penyakit genetic yang menggangu kemampuan tubuh mengendalikan gerakan garam dan air diantara sel. Serta, sinusitis, kondisi peradangan pada area hidung dan sinus.**

Berita Terkait