Informasi Mudah, Percepat Pemadaman Api

Informasi Mudah, Percepat Pemadaman Api

  Minggu, 25 September 2016 10:14
TANGO: Ateng Tanjaya saat mencoba radio amatir tempat ia biasa menginformasikan kebakaran, tepat di samping tempat tidurnya, Rabu (21/9). Peran penyebarluasan informasi lewat radio mengenai kejadian kebakaran menjadi sangat krusial dalam proses pemadaman api. MIFTAH/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Alpha Tango,  Saluran Sakral Penyebar Info Kebakaran di Pontianak 

Peran jaringan informasi dalam proses pemadaman kebakaran sangatlah krusial. Adanya mereka membuat informasi mengenai lokasi dan besarnya api dapat dipastikan. Keduanya menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam usaha pemadaman.

MIFTAHUL KHAIR, Pontianak

KEMUNCULAN suara lelaki 65 tahun ini di frekwensi radio amatir selalu dicermati serius. Bagaimana tidak, perannya sangat sentral dalam memobilisasi regu pemadam kebakaran di Pontianak. Melalui frekwensi radio, ia menyebarluaskan informasi kepada seluruh perkumpulan pemadam kebakaran. ‘Kalau sudah terdengar suara Alpha Tango dari frekwensi itu, pasti orang-orang sudah tahu, sedang terjadi kebakaran di suatu tempat di Pontianak dan sekitarnya,” kata Ateng Tanjaya di kediamannya di Jalan Parit Makmur Pontianak Rabu (21/9). “Suara saya bahkan sudah diidentikkan dengan kejadian kebakaran,” katanya lagi.

Mantan Ketua Badan Pemadam Api Siantan (BPAS) itu mendirikan Forum Komunikasi Kebakaran Pontianak dan sekitarnya. Dia bertindak sebagai coordinator sekaligus operator tunggal. Forum ini dirintis sejak 1988 dan memiliki frekwensi khusus di 147.000 Mhz.

Informasi mengenai kejadian kebakaran pun menjadi lebih mudah. Dulu, para petugas diharuskan piket 24 jam di posko pemadam kebakaran untuk mendapatkan informasi kebakaran. Sekarang, para petugas pemadam kebakaran sudah bisa lebih leluasa dengan tetap mendapatkan berita kebakaran setiap waktu.

Penggunaan radio, menurut Ateng lebih efisien daripada penggunaan ponsel ataupun telepon. Radio amatir tidaklah memerlukan biaya besar operasionalnya sehari-hari. “Dan yang lebih penting, dengan adanya radio, cukup satu orang yang bersuara dan memberikan komando, akan langsung terdengar kepada semua orang yang tersambung dalam frekwensi 147000 ini,” katanya.

Frekwensi 147.000 Mhz ini pun dikembangkan oleh Ateng sebagai Call Center atau pusat informasi yang dikhususkan untuk menyampaikan berita kebakaran yang ada di Pontianak dan sekitarnya. Ia sendiri menjadi pengelolanya. Mulai tahun 1980, ia menggerakkan masyarakat untuk bersama-sama menyampaikan informasi mengenai kejadian kebakaran melalui saluran radio amatir tersebut.

Setidaknya 23 perkumpulan pemadam kebakaran yang kini bergabung dalam forum tersebut. Mereka berbagi informasi dan menggordinasikan penanganan kebakakaran di Pontianak. Masyarakat yang peduli dengan kebakaran pun ikut bergabung dalam jaringan komunikasi ini. Ateng sebagai koordinator mesti memastikan validitas informasi itu sebelum disebarluaskan ke radio. 

Radio amatir yang kemudian akan menginformasikan kejadian kebakaran tersebar di beberapa wilayah di Pontianak. Mereka bertanggung jawab pada satu wilayah tempat mereka berada. “Keberadaan mereka sangat penting untuk memastikan lokasi kebakaran,” katanya kemarin. Dia biasa meminta pemadam terdekat atau masyarakat yang tegerak untuk memastikan terlebih dahulu kebenaran lokasi dan kebakaran. Setelah valid, barulah dia menyebarluaskan informasi tersebut kepada regu pemadam lain.

Diceritakan Ateng, pemadam kebakaran di Pontianak bermula pada 1939. Apabila terjadi kebakaran, para petugas bisa dengan mudah melihat lokasi kebakaran dengan melihat asap yang membumbung tinggi ke langit. Seiring dengan perkembangan zaman, pembangunan di Pontianak semakin maju, metode itu menjadi sangat sulit untuk dilakukan. Akhirnya pada era 80an, para pemadam kebakaran menggunakan sambungan telepon.

Akan tetapi, sambungan telepon tersebut juga menghadirkan masalah baru, yakni semakin banyak berita palsu yang diterima petugas pemadam kebakaran. Banyak masyarakat yang salah mengira ketika melihat asap tebal membumbung tinggi, padahal itu hanyalah warga sekitar yang membakar sampah.

Lagi pula, para pengguna telepon saat itu masih sedikit dan sangat sulit untuk didapatkan. Setelah permasalahan itu semakin pelik, Ateng pun berinisiatif untuk menggunakan media berupa radio amatir untuk menyampaikan informasi perihal kebakaran. Penggunaan radio amatir, lalu digunakan oleh banyak petugas pemadam kebakaran di Pontianak.

Seiring dengan perkembangan zaman, informasi mengenai kejadian kebakaran pun menjadi lebih mudah. Dulu, para petugas diharuskan piket 24 jam di posko pemadam kebakaran untuk mendapatkan informasi kebakaran. Sekarang, para petugas pemadam kebakaran sudah bisa lebih leluasa dengan tetap mendapatkan berita kebakaran setiap waktu.

Kepala BPBD Pontianak, Aswin Taufik sangat mengapresiasi kinerja pasukan pemadam yang ada di Pontianak. Mereka telah bekerja dengan tangguh dalam penyelamatan nyawa dalam memberikan pelayanan pemadam kebakaran dan penyelamatan. Tek lupa pada peran mereka yang berada di belakang meja radio yang dengan sigap menginformasikan kejadian kebakaran dalam suatu waktu.

Peran komunikasi dalam proses pemadaman api sangatlah krusial. “Informasi yang dengan cepat disampaikan kepada para regu pemadam, dapat menghilangkan resiko yang lebih besar jika mereka terlambat beberapa menit saja ke lokasi api,” katanya beberapa waktu lalu.

Di kota Pontianak sendiri telah terjadi 473 kebakaran di Pontianak dan sekitarnya pada periode 2010 hingga 2015. Dengan kebakaran hutan dan lahan menjadi angka tertinggi. Angka yang tinggi itu bisa tertutupi dengan 25 yayasan pemadam kebakaran yang aktif dengan relawan berjumlah 1757 orang dan 10 pemadam kebakaran yang ada di Kabupaten Kubu Raya.

Koordinator informasi dan regu pemadam menjadi satu kesatuan penting dalam proses pemadaman api. Mereka telah bekerja dengan sepenuh hati dengan panggilan jiwa mereka tanpa digaji sepeser pun. “Peran pasukan pemadam kebakaran sangatlah penting dalam melindungi aset daerah dan keselamatan warga,” tegasnya. (*)

 

Berita Terkait