Inflasi Dipastikan Hampiri Kalbar

Inflasi Dipastikan Hampiri Kalbar

  Selasa, 11 April 2017 09:30
TUNGGU PEMBELI : Salah satu pedagang sedang menunggu pembeli di depan lapak dagangannya di Pasar Flamboyan. Diprakirakan April dan bulan selanjutnya, bakal ada kenaikan sejumlah barang dagangan di pasar tradisional ini, terutama di kelompok volatile food. MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK – Setelah Maret lalu mengalami deflasi, Bank Indonesia memprediksi Provinsi Kalimantan Barat akan kembali mengalami inflasi pada April ini dan bulan-bulan selanjutnya. 

Perkiraan inflasi ini berkenaan dengan meningkatnya harga angkutan udara dan harga kebutuhan pokok. Terlebih bulan depan akan ada momen ramadan. “Ke depan, tekanan inflasi Provinsi Kalimantan Barat diprakirakan akan meningkat walaupun masih berada di level yang terkendali,” ujar Deputi Kepala Perwakilan BI Kalbar, Adhinanto Cahyono kepada Pontianak Post, kemarin (10/4).

Lanjut dia, berdasarkan pemantauan pola historis selama lima tahun terakhir, tekanan inflasi bulan April ini terutama diprakirakan bersumber dari potensi risiko kenaikan harga kelompok volatile food diantaranya peningkatan harga bawang merah dan jeruk. Selain itu, ada tekanan inflasi angkutan udara karena peningkatan permintaan tiket angkutan udara ke Pontianak berkaitan dengan momen sembahyang kubur.

Adhinanto menyebut, pihaknya akan berkoordinasi dalam ruang lingkup Tim Pengendali Inflasi Daerah untuk mengawasi stok dan alur distribusi barang kebutuhan utama masyarakat.

“Mencermati masih tingginya faktor risiko dan tantangan dalam pengendalian inflasi yang dihadapi, koordinasi TPID se-Provinsi Kalimantan Barat terus melakukan koordinasi untuk memitigasi risiko kenaikan harga dan kelancaran distribusi pasokan bahan pangan strategis,” katanya.

Berkaitan dengan fenomena deflasi pada bulan lalu, dia menyebut Penurunan inflasi terutama disebabkan oleh penurunan harga tiket angkutan udara. Sebagai informasi Kalimantan Barat pada Maret 2017 tercatat mengalami deflasi sebesar -0,24% (mtm). Inflasi pada Maret kali ini lebih rendah dbandingkan historis 3 tahun terakhir dengan rata-rata inflasi sebesar -O,19% (mtm). 

“Kelompok administered prices mengalami deflasi didorong oleh penurunan tiket angkutan udara. Secara bulanan, kelompok administered prices pada Maret 2017 mengalami deflasi sebesar -0,66% (mtm). Namun demikian, deflasi kelompok admimstered prices tertahan oleh kenaikan tarif listrik,” ucapnya.

Kelompok volatile food (VF) pada Maret 20i7 tercatat turut pula mengalami deflasi sebesar -l,56% (mtm). Deflasi kelompok volatile food (VF) terutama disumbang oleh penurunan harga telur ayam ras, kembung, sawi hijau, kangkung dan bawang putih. Namun, kenaikan harga daging ayam ras, minyak goreng, dan teri menahan deflasi kelompok volatile foods di bulan Maret 2017. 

“Sejalan dengan penurunan tekanan pada dua kelompok komoditas inflasi, inflasi kelompok inti pada bulan Januari juga mengalami penurunan. Tekanan inflasi kelompok inti pada Maret 2017 sebesar 0,30% (mtm) menurun dari bulan sebelumnya yang sebesar 0,67% (mtm). Penurunan inflasi inti pada Maret 2017 terutama didorong oleh penurunan tarif pulsa ponsel,” pungkasnya. (ars)

Berita Terkait