Incar Perempuan Desa, Tiga Belas Gadis Kalbar Jadi Korban Pengantin Pesanan

Incar Perempuan Desa, Tiga Belas Gadis Kalbar Jadi Korban Pengantin Pesanan

  Senin, 24 June 2019 10:58
PENGANTIN PESANAN: Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) berhasil memulangkan MN (bertopi), perempuan asal Kubu Raya Kalbar yang menjadi korban perdagangan manusia bermodus pengantin pesanan. Istimewa

Berita Terkait

JAKARTA – Belasan perempuan asal Kalimantan Barat menjadi korban perdagangan manusia bermodus pengantin pesanan dengan pria berkebangsaan Tiongkok. Sekjen Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Jakarta, Bobi Anwar Ma'arif mengatakan, pada tahun ini saja, sedikitnya ada 13 perempuan asal Kalbar yang menjadi korban kejahatan kemanusiaan ini. 

“Sindikat pelaku mengincar para wanita yang berada di desa-desa terpencil dengan berbagai iming-iming,” kata Bobi di gedung Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Jakarta Pusat, Minggu (23/6). 

Bobi melanjutkan, terdapat agen atau yang dikenal dengan sebutan makcomblang yang mencari korban ke sejumlah wilayah. Makcomblang itu biasanya mengiming-imingi korban dengan uang dan kehidupan yang lebih baik. "Para pelaku masuk ke desa mencari target yang SDM-nya jauh, jauh dari internet dan mencari target orang yang membutuhkan (uang)," jelasnya. 

Dalam aksinya, pria Tiongkok yang sedang mencari calon istri asal Indonesia dimintai uang sebesar Rp400 juta. Dari uang itu, pihak korban hanya diberi uang sebesar Rp20 juta. 

"Korban akan dinikahkan dengan orang Cina. Di Indonesia dihargai oleh agen Rp400 juta dan dibagi ke agen lain hingga ke perekrut yang sudah nyebar ke desa-desa. Mereka (pelaku) juga sudah punya perangkat untuk melakukan aksinya. Misalnya wali nikah palsu, event untuk wedding, acara resepsi, dan fasilitas tinggal di hotel sudah disediakan," paparnya. 

Setelah proses pernikahan dengan dokumen yang dipalsukan, korban selanjutnya dibawa oleh pria Tiongkok tersebut ke negaranya. Di sana, korban dijadikan pekerja tanpa bayaran serta diperlakukan tidak manusiawi. Korban sering mengalami tindak kekerasan oleh suami atau pria Tiongkok tersebut. 

"Dari pengakuan korban, sampai di sana (Tiongkok) dia (korban) harus bekerja. Kerjanya mulai pukul 7 pagi sampai pukul 6 sore, lalu istirahat dan kerja lagi sampai pukul 9 malam baru istirahat. Akibatnya teman-teman menolak hubungan seksual (karena lelah). Ketika menolak, mereka dipukul dan berbagai bentuk kekerasan fisik lain," jelasnya.

Kini pihak Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) telah berhasil memulangkan kembali sebanyak sembilan korban asal Kalbar dan satu korban asal Jawa Barat. "Kami meyakini bahwa apa yang dialami korban ini adalah tindak pidana perdagangan orang karena unsur di dalamnya terpenuhi seperti proses, cara dan tujuannya sesuai dengan UU Nomor 21 tahun 2007 tentang TPPO Pasal 2 dan pasal 4," pungkasnya. 

Ketua Dewan Perwakilan Cabang SBMI Mempawah, Mahadir mengatakan, dari 13 korban pengantin pesanan asal Kalbar, sembilan orang telah dipulangkan. Sementara empat lainnya belum ditemukan. 

Salah satu korban yang berhasil dipulangkan adalah MN (23) yang menjadi pengantin pesanan pria asal Cina, Tengfei Hao (27). MN berasal dari Sompak, Kubu Raya, Kalbar. Dia sempat menjalani pernikahan dengan suaminya di China selama 10 bulan sejak September 2019. Dia berhasil pulang ke Indonesia setelah dibantu oleh SBMI melalui jaringan mereka di China. MN tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Sabtu (22/6).

“Saya ingin menggambarkan, bagaimana kasus ini terjadi dan terus mamakan korban,” kata, Mahadir, Minggu (23/6). Menurutnya, kasus perdagangan orang dengan modus kawin pesanan ini terjadi karena ada pelaku perekrutan dan pemindahan. Mereka mencari dan memperkenalkan perempuan kepada laki-laki asal Tiongkok untuk dinikahi dan kemudian dibawa ke Tiongkok. 

Cara lainnya adalah dengan melakukan penipuan. Pelakunya memperkenalkan calon suami sebagai orang kaya dan membujuk korban-korbannya untuk menikah. Mereka mengiming-imingi dengan janji bahwa seluruh kebutuhan hidup korban beserta keluarganya akan dijamin. 

Mahadir menerangkan, tujuan dari kawinan pesanan ini adalah mengeksploitasi korban. Data SBMI memperlihatkan bahwa sesampainya di tempat asal suami, mereka diharuskan untuk bekerja di pabrik dengan jam kerja panjang. Sepulang kerja mereka juga diwajibkan untuk mengerjakan pekerjaan rumah dan membuat kerajinan tangan untuk dijual. Seluruh gaji dan hasil penjualan dikuasai oleh suami dan keluarga suami.

“Untuk memuluskan aksinya, sindikat biasanya meminta kepada laki-laki Tiongkok untuk menyiapkan uang sebesar Rp400 juta. Rp20 juta akan diberikan kepada korban dan keluarganya, sementara sisanya dinikmati para pelaku,” ucapnya. 

Menurut Mahadir, para pelaku terbilang lihai karena mencari korban yang hidup dari keluarga miskin, tidak memiliki pekerjaan, atau tulang punggung keluarga. Beberapa di antaranya bahkan berstatus janda dan korban KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) dari perkawinan sebelumnya. Latar belakang itu membuat para korban dan keluarganya setuju saat ditawari. 

“Yang mencengangkan adalah sindikat ini mampu memalsukan dokumen perkawinan,” tambahnya. Mahadir juga menyebutkan, setelah menikah dan korban kemudian dibawa ke Tiongkok, mereka dilarang untuk berkomunikasi dengan keluarganya di kampung. 

Bahkan jika ingin kembali ke Indonesia, para korban diancam harus mengganti uang yang sudah dikeluarkan oleh suaminya. Hal yang lebih memprihatinkan, korban-korban kerap dianiaya, dan dipaksa berhubungan seksual meski sedang sakit. 

Berdasarkan data dan fakta-fakta itu, Mahadir mendesak Polda Kalbar segera membongkar sindikat kawin pesanan antarnegara ini. Polda diminta menerapkan Undang-Undang No 21 Tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang dan Perlindungan anak. 

Selain itu, Mahkamah Agung dan Kejaksaan Agung diharapkan dapat menjatuhkan sanksi pidana maksimal sesuai dengan undang-undang yang sama. “Kami juga mendesak pemerintah provinsi, pemerintah daerah, pemerintah kabupaten untuk melakukan berbagai upaya pencegahan tindak pidana perdagangan orang,” pungkasnya. (adg/rmol).

Berita Terkait