I am An Error Detector

I am An Error Detector

  Kamis, 8 February 2018 10:00
Eric Ariyanto

Berita Terkait

Web and Mobile Application Developer

PERNAH mengalami force close, hang, atau lemot saat menjalankan sebuah aplikasi di gadget? Pasti nggak nyaman kan? Nah, untuk memastikan konsumen nggak akan mengalami gangguan, dibutuhkan application tester. Bersama dengan perkembangan zaman yang semakin canggih, peran application tester pun semakin penting.

Indonesia terhitung sebagai negara dengan jumlah start-up terbanyak. Berdasar data Start-up Ranking, Indonesia memiliki 1.707 start-up hingga Februari 2018. Angka tersebut menempatkan kita pada peringkat keempat dunia setelah Amerika Serikat, India, dan Inggris. Perkembangan banyak start-up itu pun membuka peluang bagi application tester.

Application tester menjadi profesi yang layak diperhitungkan saat ini. As we know, saat ini banyak berkembang software dan aplikasi. Setiap hari dapat dipastikan selalu ada kemunculan dari software dan aplikasi terbaru di dunia.

Nah, software dan aplikasi tersebut sebelum diluncurkan ke publik mesti dites oleh seorang application tester. Kebayang kan betapa menjanjikannya pekerjaan ini? That’s why, kamu kudu tahu seluk-beluk dunia application tester.

“Jadi sebenarnya kalo diurutkan dari awal, ada siklus pengembangan aplikasi atau biasa kita sebut SDLC (System Development Life Cycle). Siklusnya dimulai dari analisis sistem, spesifikasi kebutuhan sistem, perancangan sistem, pengembangan sistem, pengujian sistem, implementasi dan maintenance. Tugas application tester ini berada di tahap pengujian yang masuk dalam kesatuan SDLC dan nggak boleh dilewatkan. Tapi beberapa developer nggak melakukannya entah karena ketidaktahuan, waktu yang sedikit, nggak ada orangnya (biasanya karena full stack developer),” ungkap Eric Ariyanto, Web and Mobile Application Developer PT RIDI.

Application testing sendiri dimaksudkan sebagai proses mengeksekusi program atau aplikasi untuk menemukan bug dari suatu software atau aplikasi. Selain itu, application tester mesti mencoba menemukan kesalahan dalam kondisi normal dan nggak normal. Application tester kudu jeli menemukan kecacatan dari hasil kerja programmer.

“Misalnya, dalam form jenis kelamin biasanya hanya ada pilihan perempuan dan laki-laki. Gimana kalo di-input selain itu? Output-nya gimana? Diterima atau nggak? Yang baik itu ketika kita input selain pilihan yang ada, maka sistem akan memberi peringatan pada user yang berbunyi seperti data yang dimasukkan nggak valid, mohon masukkan data yang sesuai,” jelas Eric.

“Contoh lainnya seperti, kolom buat isi email tapi malah diisi nomor handphone. Hal seperti itu mesti dihindari. Application tester harus memastikan aplikasinya mudah digunakan dan berjalan dengan baik sesuai user requirement. Seandainya ada yang bermasalah dapat segera diatasi,” urainya,”lanjut Eric.

Pengujian aplikasi ini juga dapat menambah nilai kepercayaan dan menaikkan nilai harga aplikasinya karena telah teruji. Terkadang, interpretasi antara user dan programmer terhadap suatu task berbeda, maka application tester bertugas menyesuaikan interpretasi dari kedua pihak tersebut. Hasil akhir dari aplikasi diharapkan memenuhi kebutuhan bisnis dari user.

Tipe pengujian umumnya ada dua yakni alfa testing dan beta testing. Alfa testing dilakukan oleh internal. User langsung didampingi developer untuk menguji aplikasi. Beta testing dilakukan oleh user tanpa kontrol dari developer.  “Kebanyakan bug atau ketidaksesuaian sering ditemukan pada beta testing. Feedback dari eksternal nggak berarti ada kesalahan program, biasanya lebih ke penyesuaian fitur,” tambah Eric.

Aspek-aspek yang dinilai dalam tahap pengujian terdiri dari performa, user interface, functional dan security. Performa ini berhubungan dengan waktu, user interface berkaitan dengan interaksi manusia pada komputer. Functional pasti aplikasinya harus sesuai dengan peruntukannya. Sedangkan security ini mesti paham data mana yang diprivasi mana yang tidak.

“Semua aplikasi harus punya aplication testing. Sayangnya di Indonesia biasanya ditumpang tindihkan dengan jobdesc programmer. Padahal jika suatu aplikasi mendetail pengerjaan dan pengujiannya bakal berbanding lurus dengan kualitasnya,” pungkas Eric. (ind)

Berita Terkait