HUT PB Djarum Jadi Ajang Reuni Para Legenda Bulu Tangkis Indonesia

HUT PB Djarum Jadi Ajang Reuni Para Legenda Bulu Tangkis Indonesia

  Senin, 29 April 2019 11:04
REUNIAN: Puluhan mantan pebulutangkis lulusan PB Djarum mengadakan reuni dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-50 PB Djarum. JAWA POS

Berita Terkait

Dari Latihan Bareng sampai Buru Kuliner Favorit 

Para alumnus PB Djarum lintas generasi akrab berbaur, bertukar canda, sambil tetap membahas perkembangan bulu tangkis terkini. Di usia setengah abad, PB Djarum telah melahirkan begitu banyak pemain berprestasi. Termasuk para peraih medali Olimpiade. 

TYASEFANIA Febriani, Kudus

YANG jadi wasit di laga itu tak sembarangan: juara Olimpiade. Yang diwasiti juga tak sembarangan: para mantan pemain kelas dunia. 

Hasilnya? Skor di laga yang diwasiti Tontowi Ahmad itu tentu tak penting. Kebersamaan dan kehangatan di lapangan yang lebih diutamakan. Guyub dan guyon (akrab dan penuh canda).

Itulah salah satu bentuk kemeriahan reuni para mantan pemain PB (Perkumpulan Bulutangkis) Djarum. Yang dihelat dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-50 PB Djarum. ”Kami mengenang masa lalu. Kangen,” ungkap Christian Hadinata, mantan juara All England dan Asian Games. 

Owi, Christian, dan nama-nama besar lain di perbulutangkisan tanah air tersebut berada di Kudus sejak Sabtu (27/4). Mereka datang dari berbagai generasi. Dari generasi pemain yang besar di era 1970-an dan 1980-an, ada Christian dan Ivanna Lie misalnya. Juga mereka yang aktif dan berprestasi di periode 1990-an, antara lain Fung Permadi dan Alan Budi Kusuma. Serta Vita Marissa dan Liliyana Natsir yang mendunia pada era 2000-an. 

Saat berkumpul di GOR Djati, Kudus, tadi malam, mereka semua akrab berbaur. Saling bertanya kabar, bertukar candaan, juga tentu saja membahas perkembangan terkini bulu tangkis. 

”Saat ketemu ini kami juga selalu sharing cerita zaman dulu. Banyak kejadian lucu di balik perjuangan kami dulu,” ungkap Butet, sapaan akrab Liliyana Natsir, yang bersama Owi –panggilan Tontowi– merebut emas Olimpiade 2016. 

Dalam sejarahnya yang panjang, PB Djarum telah melahirkan begitu banyak pemain berprestasi di berbagai level kejuaraan. Di semua nomor. Dari masa ke masa.

Alan merebut emas tunggal putra di Olimpiade 1992. Duet Owi/Butet juga merebut prestasi tertinggi itu di Olimpiade 2016. Total ada sembilan peraih medali Olimpiade yang berasal dari PB Djarum.

Selain Alan dan Owi/Butet, nama-nama lain di antaranya Eng Hian (perunggu Olimpiade Athena 2004), Minarti Timur (perak Olimpiade Sydney 2000), dan Antonius Budi Ariantho (perunggu Olimpiade Atlanta 1996). Lebih membanggakan lagi, sebelas pemain klub itu pernah menduduki peringkat ke-1 dunia BWF di berbagai sektor. 

Di luar itu, daftar gelar dari para pemain binaan PB Djarum berderet panjang. Di Asian Games 2018, misalnya, binaan PB Djarum lainnya, Kevin Sanjaya Sukamuljo, juga merebut emas ganda putra bersama Marcus Fernaldi Gideon. Ada peran penting para pemain jebolan PB Djarum pula di balik keberhasilan Indonesia 13 kali merebut Piala Thomas dan 3 kali menjuarai Piala Uber. 

Jika mampu merebut gelar di kejuaraan seperti Olimpiade, All England, Piala Thomas-Uber, dan Piala Sudirman, bisa dipastikan foto mereka dipajang di Hall of Fame PB Djarum. Liem Swie King misalnya. Dia merupakan pebulu tangkis pertama dari klub tersebut yang mampu meraih gelar di Piala Munadi 1972. Sekaligus jadi rekrutan pertama PB Djarum yang akhirnya mampu meraih gelar All England pada 1978, 1979, dan 1981. Liem juga memperkuat skuad Indonesia saat menjadi kampiun Piala Thomas pada 1976, 1979, dan 1984. 

Pada acara semalam semua kompak memakai kaus berkerah hitam dengan emblem yang dijahit benang emas bertulisan 50th PB Djarum. ”PB Djarum akan tetap eksis selama kita yakin dan bertekad kuat untuk membantu menyatukan Indonesia. Ini sesuai dengan tekad besar PB Djarum, yaitu membantu kejayaan olahraga untuk persatuan Indonesia,” kata President Director Djarum Foundation Victor R. Hartono. 

Dalam rangkaian acara tersebut, PB Djarum juga meluncurkan empat buku yang berisi prestasi serta perjalanan klub mereka. Empat buku itu adalah Butet Legenda Sejati karya mantan Menteri Hukum dan HAM yang kini menjabat Dewan Penasihat PBSI Hamid Awaluddin, Kiprah Ahsan-Hendra dan Jejak Langkah Owi-Butet karya jurnalis senior Daryadi, serta Setengah Abad PB Djarum: Dari Kudus Menuju Prestasi Dunia karya tim penulis Historia.id.

PB Djarum saat ini memiliki sekitar 100 atlet binaan di Kudus. Biasanya yang dididik di sana adalah pemain dengan kategori usia 12 hingga 17 tahun. Jika sudah naik menjadi U-19, mereka bakal dikirim untuk berlatih di PB Djarum Jakarta. Total yang berlatih di Jakarta hampir sama, yaitu 100 atlet. Sebanyak 13 pelatih dikerahkan untuk membina bibit-bibit pemain muda itu. 

”Kami sangat peduli dengan bulu tangkis Indonesia sehingga mementingkan pembentukan ekosistem pemain dini sampai menuju piramida jadi juara dunia,” ucap Yoppy Rosimin, program director Bakti Olahraga Djarum Foundation. 

Saat kumpul-kumpul di Kudus, para legenda itu juga menyempatkan kulineran. Pada Sabtu malam Minggu lalu, misalnya, mereka bareng-bareng mencari wedang ronde. Tak lupa juga masing-masing berburu makanan favorit. Fung yang menjabat manajer PB Djarum, misalnya, menggemari berbagai makanan dengan bahan dasar daging kerbau. 

Momen-momen kulineran itu juga kesempatan untuk lebih saling mengenal antargenerasi. ”Beberapa bikin pangling karena lama banget nggak ketemu. Tapi, luar biasa kali ini, lintas generasi berkumpul di hari yang istimewa,” ucap Christian Hadinata. 

Fung menambahkan, prinsip kekeluargaan PB Djarum yang membuat acara reuni itu berlangsung hangat. Walau mayoritas tinggal di Jakarta, agenda untuk berkumpul seluruh angkatan belum pernah terjadi selama ini. ”Membangkitkan memori masa lalu rasanya,” ujar dia. 

Tapi, namanya juga mantan pemain. Tidak lengkap rasanya jika obrolan tidak diselipi pembahasan tentang masa depan bulu tangkis Indonesia. Mereka pasti juga mendiskusikan perkembangan tiap-tiap sektor.

”Kami berharap adik-adik yang kini dididik di PB Djarum bisa meraih prestasi di kejuaraan dunia, All England, Olimpiade, dan ajang-ajang lainnya. Saya berharap terutama tradisi di tunggal putra bisa balik,” kata Alan. (*/c9/ttg)

Berita Terkait